press enter to search

Senin, 15/10/2018 23:53 WIB

Dari Timbunan Plastik di Perairan, Greenpeace Temukan 797 Merek, Terbesar Makanan dan Minuman

| Selasa, 09/10/2018 03:31 WIB
Dari Timbunan Plastik di Perairan, Greenpeace Temukan 797 Merek, Terbesar Makanan dan Minuman

JAKARTA (akso.id) - LSM bidang lingkungan hidup, Greenpeace menemukan hingga lebih dari 700 merek sampah plastik dari audit yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia bersama sejumlah komunits lokal di tiga pantai di sejumlah daerah Indonesia.

"Ada 797 merek dari sampah plastik yang kami temukan dari tiga lokasi, di mana yang terbesar adalah merek-merek makanan dan minuman (594 merek), kemudian merek-merek perawatan tubuh (90), kebutuhan rumah tangga (86), dan lainnya (27)," kata Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu.

Audit mereka sampah plastik tersebut dilakukan pada pertengahan September di tiga lokasi, yaitu Pantai Kuk Cituis (Tangerang), Pantai Pandansari (Yogyakarta), dan Pantai Mertasari (Bali).

Selain itu, ujar dia, pihaknya juga menemukan banyak sampah plastik yang tidak terlihat lagi merekanya.

"Ini mengindikasikan bahwa sampah tersebut sudah lama terbuang dan berada di lingkungan tersebut," jelas Atha.



Ia memaparkan bahwa secara global, hanya 9 persen sampah plastik yang didaur ulang dan 12 persen dibakar. Dengan kata lain, 79 persen sisanya berakhir di tempat-tempat pembuangan maupun saluran-saluran air seperti sungai yang bermuara ke lautan.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan produktivitas sektor perikanan berpotensi untuk terus menurun akibat semakin banyaknya sampah plastik masuk ke kawasan perairan nasional.

"Produktivitas perikanan dapat menurun dan implikasi dari mikroplastik bisa masuk ke jejaring makanan yang akhirnya dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Moh. Abduh Nurdihajat.

Ia memaparkan, menjelang penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) 2018, KKP juga menggelar Gerakan Bersih Pantai dan Laut seperti di Pantai Pede, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Rabu (3/10). Kegiatan bersih pantai tersebut dilakukan dengan mengumpulkan sampah-sampah di pesisir pantai, terutama sampah plastik untuk kemudian ditimbang.

Dalam kegiatan tersebut, lebih dari 1 ton sampah terkumpul, yakni tepatnya 1.007,54 kg. Sampah-sampah tersebut selanjutnya akan dikirim ke tempat pengolahan sampah di Manggarai Barat. "Sampah plastik telah menjadi ancaman yang serius. Tidak hanya sampah yang berasal dari daratan Labuan Bajo, tapi juga sampah dari pelayaran laut dan yang terbawa arus serta dari pulau-pulau kecil sekitar Komodo," ujar Abduh.

Abduh menambahkan, jika sampah plastik ini tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik, maka terjadi proses pelapukan menjadi mikro dan nano plastik yang akan merusak ekosistem pesisir dan dimakan oleh plankton serta ikan.

Mengingat pencemaran laut sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia, maka diperlukan upaya bersama seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah untuk melakukan pengendaliannya.

"Upaya bersama menyelamatkan potensi pesisir dan laut dari ancaman pencemaran terutama sampah laut harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan," ungkapnya.

KURANGI PAKAI PLASTIK

Sebelumnya uru kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi mengatakan kunci untuk mengatasi masalah sampah plastik, salah satunya dengan mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.

"Satu-satunya kunci mengatasi masalah sampah plastik adalah mengurangi konsumsinya. Daur ulang tidak akan pernah cukup sebagai solusi," katanya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.

Tren konsumsi kemasan plastik sekali pakai terus meningkat. Salah satunya bisa dilihat dari perkembangan produksi air minum dalam kemasan, di mana sebesar 40 persen dari produksinya berupa air dalam botol.

Atha mengatakan perilaku tersebut adalah gaya hidup yang berbahaya bagi lingkungan. Oleh sebab itu, dibutuhkan penerapan kebijakan yang lebih tegas dari pemerintah dan terobosan perubahan model bisnis dari produsen menuju pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai, serta masyarakat juga harus mengubah perilaku sehari-hari dengan menjauhi kemasan sekali pakai.

Lebih lanjut dia mengatakan, hanya sembilan persen saja sampah plastik di seluruh dunia yang didaur ulang, dan sebagian besar sisanya sangat mungkin berakhir di tempat pembuangan sampah, saluran air, mencemari sungai dan lautan.

Temuan partikel plastik pada sejumlah merek minuman kemasan semakin memperkuat urgensi pengurangan konsumsi kemasan plastik sekali pakai.

"Dalam momentum peringatan hari air dunia, kita tidak boleh lupa akan masalah serius dari ketersediaan dan buruknya kualitas sumber-sumber air minum kita yang disebabkan oleh konsumsi yang tidak berkelanjutan, lemahnya sistem pengelolaan sampah, polusi bahan kimia industri dan polutan lainnya. Kita harus segera mengendalikan konsumsi kemasan plastik sekali pakai," katanya.

(antara).