press enter to search

Selasa, 16/10/2018 00:58 WIB

Hikmah Besar Perang Irak-Iran bagi Atlet Disabilitas Ammar Hadi Ali

Redaksi | Kamis, 11/10/2018 16:04 WIB
Hikmah Besar Perang Irak-Iran bagi Atlet Disabilitas Ammar Hadi Ali Ammar Hadi Ali - atlet anggar kursi roda Irak

Jakarta (aksi.id) - Ammar Hadi Ali, atlet anggar kursi roda asal Irak tak membayangkan jika akhirnya menjadi seorang atlet Para Games.

Ali yang terlahir normal, hidupnya berubah setelah peristiwa Perang Iran-Irak berkecamuk di negerinya. Ali adalah salah satu korban dari keganasan perang dua negara tetangga itu. Ia menjadi korban serpihan bom yang kemudian melumpuhkan pinggang dan kakinya, yang membuatnya tak sanggup berjalan menggunakan kedua kakinya lagi.

“Kejadiannya tahun 2007, ketika saya sedang bekerja memasang atap rumah. Tiba-tiba, bom meledak tak jauh dari tempat saya berdiri. Akhirnya, saya harus mengalami hal ini,” ungkap atlet kelahiran 33 tahun lalu.

Setelah mengalami persitiwa itu, ia mengaku sempat frustrasi karena menganggap masa depannya suram dan dirinya tidak berguna lagi. Namun, beruntung beberapa teman dan keluarga terus memotivasinya agar tidak putus asa.

“Apalagi ketika itu saya sedang mengumpulkan uang untuk menikah. Tapi, setelah kejadian itu saya tidak bisa bekerja lagi,” ceritanya.

Rupanya Tuhan berkehendak lain, Ali mengambil hikmah dari kejadian yang dialaminya, datang perwakilan dari National Paralympic Comitte (NPC) Irak menemuinya dan menawarkan Ali untuk menjadi atlet Wheelchair Fencing (Anggar Kursi Roda).

“Tepatnya tahun 2009 saya mulai dikenalkan dengan olahraga ini. Padahal semula saya tak pernah kenal dengan olahraga ini,” kata peraih emas nomor EP kategori B di Asian Para Games Guangzhou, China 2010 itu.

Sejak saat itu, semangat hidup Ali mulai bangkit dan ia terus menekuni olahraga ini yang akhirnya merubah jalan hidupnya menjadi seperti sekarang. “Berkat olahraga ini saya bisa berkeliling ke banyak negara mengikuti kejuaraan,” kata Ayah dari dua orang putra itu.

Di ajang Asian Para Games 2018 Indonesia, Ali merupakan salah satu atlet tangguh yang patut diwaspadai oleh lawan-lawannya, terutama para atlet China. “Atlet China merupakan saingan terberat saya. Mereka sukar untuk dikalahkan,” ungkap atlet yang juga pernah meraih perak di Asian Para Games 204 Incheon, Korea, di nomor Floret itu.

Kini, selain fokus menjadi berlatih, Ali juga seorang wirausahawan, memiliki workshop pintu dan jendela sendiri di rumahnya. “Alhamdullilah, Allah memang berkehendak lain, ternyata masa depan saya tidak sesuram yang pernah saya bayangkan sebelumnya setelah peristiwa yang saya alami,” ujar Ali yang kini telah mengantongi medali perak di nomor EP dan perunggu di nomor Foil pada Asian Para Games 2018 Indonesia ini. (Della)