press enter to search

Kamis, 15/11/2018 00:13 WIB

Masjid Terapung Palu Saksi Bisu Amuk Gempa & Tsunami

| Minggu, 14/10/2018 08:19 WIB
Masjid Terapung Palu Saksi Bisu Amuk Gempa & Tsunami Pandangan udara Masjid Terapung Arqam Bab Al Rahman pasca gempa dan tsunami Palu di Pantai Talise, Sulawesi Tengah. Masjid yang dibangun tahun 2011 awalnya menampung 150 jamaah. (Liputan6.com/Fery Padolo)

PALU (aksi.id) - Allah Tabarakawata` ala memperlihatkan Maha Besar dan Maha Berkuasa-Nya. Amuk gempa dan tsunami tak berlaku untuk masjid yang terapung di pantai Palu. Tak ambruk walau dihantam bencana

Padahal lokasi masjid yang berdiri pada tahun 2011 itu di Pantai Talise, lokasi penemuan korban tsunami Palu terbanyak.

Masjid yang menjadi ikon Palu tu terletak di Jalan Rono, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Berdasarkan cerita warga sekitar, masjid dibangun seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang SPBU di Palu bernama Muhammad Hasan Bajamal.

Menurut warga, alasan Hasan sapaan akrab pengusaha itu membangun masjid ini pada 19 Januari 2011 lalu untuk mengenang jasa almarhum Syekh Abdullah Raqi atau Datuk Karama. Datuk Karama merupakan ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat. Dia diyakini seluruh warga Palu sebagai penyiar agama Islam pertama sejak abad ke-17.

Pembangunan masjid selesai pada 19 Januari 2012 dan diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola.

"Seperti pernyataan Pak Hasan lalu demikian. Dan peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan langsung Wali Kota Palu, Rusdi Mastura," kata Baho, warga Kelurahan Lere kepada Liputan6.com di sekitar masjid, pada 2014 lalu.

Selain untuk mengenang jasa Datuk Karama, pembangunan masjid juga bertujuan untuk menghilangkan kemaksiatan yang sering terjadi di sekitar lokasi masjid, sebelum masjid ini terbangun. Pasalnya, lokasi itu terhubung langsung dengan dua pusat hiburan malam di Palu, seperti kafe remang-remang Pantai Taman Ria dan Lokalisasi Pantai Talise tempat banyak pekerja seks komersial (PSK) menjajakan diri.

"Dulu lokasi masjid ini menjadi sarang maksiat anak-anak muda. Dijadikan tempat mabuk-mabukan, pacaran, bahkan sampai berhubungan badan. Tapi alhamdulillah sejak masjid ini ada, segala bentuk maksiat itu tidak ada lagi," tutur Baho yang mengaku lahir dan besar di sekitar lokasi masjid.

Masjid tersebut tidak pernah sunyi dari kunjungan jemaah yang hendak beribadah maupun orang-orang yang hanya sekadar singgah sambil berfoto-foto dengan latar belakang masjid terapung Palu. Jika sore hari menjelang, banyak warga menghabiskan waktunya di depan dan di dalam masjid.

Suasana semakin ramai saat memasuki bulan Ramadan. Masjid seluas 121 meter persegi dan mampu menampung lebih dari 150 anggota jemaah itu dijadikan sebagai salah satu tempat favorit warga Palu untuk menunggu waktu berbuka puasa tiba.

"Saya bersama teman-teman sudah sering ke sini, selain untuk salat juga sambil ngabuburit dengan menikmati suasana Teluk Palu di atas masjid sambil foto-foto seperti saat ini," ucap salah satu warga Palu, Wahyuni, di lokasi masjid.

Bangunan masjid ini berjarak 30 meter dari bibir pantai Teluk Palu. Di bawahnya terdapat lebih dari 25 tiang penyangga. Tiang-tiang itu dapat terlihat jelas jika air laut surut. Namun jika air laut pasang, masjid ini terlihat seolah-olah terapung di atas permukaan air laut.

Jalan masuk menuju ke dalam masjid dibuat jembatan berlantai tegel yang dihiasi beberapa lampu penerangan pada sisi kiri kanannya. Saat berada di atas jembatan masuk masjid, pengunjung juga dapat menikmati keindahan Teluk Palu dan kemegahan Jembatan Palu IV, yang tidak jauh dari lokasi masjid.

Selain desainnya yang seolah terapung, masjid ini memiliki keunikan lain. Desain bangunan yang telah modern jelas tampak menjadi pembeda dari seluruh bangunan masjid yang ada di Palu. Apalagi, masjid ini memiliki satu kubah besar dan empat kubah kecil yang mengelilingi pada tiap sudutnya.

Masjid ini tampak begitu megah dan indah dengan balutan warna krem yang mendominasi dipadukan warna hijau dan emas di seluruh bangunannya. Selain itu, kubah masjid dapat memancarkan tujuh warna cahaya lampu saat malam hari.

Ketujuh cahaya lampu itu, mulai dari warna merah, jingga, hijau, unggu, biru, pink, dan putih. Warnanya terlihat berganti-ganti dalam hitungan detik.

Masjid ini memang bukan yang pertama, karena masjid serupa juga telah ada bahkan lebih dulu terbangun di luar Indonesia, seperti di Laut Merah, Kota Jeddah, Arab Saudi dan Tanjung Bungah, Kota Penang, Malaysia.

Sedangkan di Indonesia, masjid serupa bisa juga dijumpai di Kota Makassar, Sulawesi Selatan; Kota Kendari, Sulawesi Tenggara; dan beberapa kota lainnya.

DIIDATANGI WARGA

Dua pekan pasca diguncang bencana alam gempa bumi dan tsunami, masyarakat Palu, Sulawesi Tengah sudah mulai berusaha bangkit.

Hal itu terlihat dari sudah banyaknya masyarakat yang berani mengunjungi lokasi-lokasi yang menjadi saksi bisu betapa ganasnya gempa dan tsunami ‎mengguncang wilayah itu.

Satu di antaranya adalah ‎mengunjungi Masjid Arwam Bab Al Rahman yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Terapung Palu.

Masjid yang berada di Pantai Talise ini memang menjadi salah satu ikon Kota Palu.

Utamanya karena letaknya yang unik yakni mengapung di atas air Pantai Talise.

Bila ingin menuju kesana jemaah harus melewati jembatan apung.

Pantauan TribunJakarta.com, Sabtu (13/10/2018), sudah banyak masyarakat yang melihat langung kondisi Masjid Terapung pasca musibah melanda.

Masjid Terapung Palu Usai Dihantam Tsunami_1
Dua pekan pasca dilanda bencana, warga mulai banyak mendatangi Masjid Terapung Palu, Sulawesi Tengah. TRIBUN JAKARTA/ELGA HIKARI PUTRA

Meski kondisi masjid saat ini sudah sedikit terendam dan tak bisa digunakan untuk sementara, masyarakat tetap mendatangi tempat itu.

Mereka mengabadikan kondisi di Masjid Terapung saat ini menggunakan ponsel cerdasnya.

Panji, salah satu warga yang datang ke Masjid Terapung mengatakan dia penasaran melihat masjid ini secara langsung pasca dihantam gempa dan tsunami.

"Penasaran saja mau lihat secara langsung karena masjid ini sempat viral di media sosial setelah gempa dan tsunami," kata ‎Panji, Sabtu (13/10/2018).

Hal senada disampaikan ‎Intan, masyarakat yang juga berada di tempat ini.

Ia terlihat beberapa kali berselfie dengan latar belakang Masjid Terapung.

"Iya kesini mau membandingkan saja kondisi masjid ini antara sebelum dan sesudah tsunami sambil berdoa semoga Palu dapat kembali bangkit dan bencana tidak kembali dilanda bencana," kata Intan.

(aisha/sumber: liputan6.com dan tribunnews.com).