press enter to search

Senin, 17/12/2018 17:45 WIB

Kak Seto Sesalkan Pelibatan Anak di Kasus Pembakaran Bendera

Redaksi | Rabu, 24/10/2018 15:40 WIB
Kak Seto Sesalkan Pelibatan Anak di Kasus Pembakaran Bendera Kak Seto (Foto. dok)

JAKARTA (aksi.id) - Kasus pembakaran bendera berkalimat tauhid saat apel Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut yang juga melibatkan anak-anak membuat Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi angkat bicara.

Pria yang disapa Kak Seto ini menyayangkan pelibatan anak pada kejadian tersebut.

"Pembakaran bendera sebagai sebuah aktivitas simbolik tidak serta merta dapat dipahami anak-anak sebagaimana pemahaman orang dewasa," katanya dikutip dari Antara.

Kak Seto mengatakan dengan kesederhanaan pola pikir anak, perilaku membakar bendera tersebut dapat memunculkan kebingungan dalam diri anak.

Kebingungan anak-anak tersebut mungkin saja tak terlihat, namun bisa jadi juga mereka bertanya-tanya tentang apa yang salah dengan bendera tersebut anak akan bertanya apa yang salah dengan bendera tersebut, mengapa bendera dibakar pada peristiwa tertentu, mengapa pihak tertentu membakar bendera, dan apa tujuannya.

"Referensi utama anak-anak adalah keluarga, tempat pendidikan, kelompok pergaulan dan teman-teman sebaya. Karena itu, terdapat persoalan yang tidak ringan bagi seluruh pihak untuk membangun pemahaman utuh pada diri anak mengenai pembakaran tersebut," ucapnya.

Kak Seto khawatir hal tersebut akan mengisi ruang kosong dalam diri anak dengan pemahaman-pemahaman negatif bahkan berpeluang berisiko buruk bagi tumbuh kembang anak.

"Kami khawatir, aksi pembakaran tersebut akan terasosiasi dengan `low politics` daripada `high politics`. Aksi tersebut rentan dimaknai sebagai permusuhan satu pihak ke pihak lain secara destruktif," katanya.

Low politics menurut Kak Seto diasosiasikan dengan berbagai permasalahan menang-kalah dan hitam-putih. Sedangkan "high politics" berurusan dengan hajat hidup orang banyak dan hidup pada bahasan tentang bagaimana menyejahterakan warga bangsa, terutama anak-anak. (ny/CNNIndonesia)