press enter to search

Kamis, 15/11/2018 00:30 WIB

Tak Hanya Illegal Fishing, Susi Pudjiastuti Juga Perangi Sampah Plastik di Laut

| Jum'at, 26/10/2018 01:43 WIB
Tak Hanya Illegal Fishing, Susi Pudjiastuti Juga Perangi Sampah Plastik di Laut Susi Pudjiastuti

JAKARTA (aksi.id) - Membicarakan laut dan sektor perikanan Indonesia 4 tahun belakangan ini tak bisa dipisahkan dari sosok Susi Pudjiastuti.

Populer dengan jargon `tenggelamkan`, sang Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Jokowi ini mengeluarkan kebijakan yang dianggap kontroversial demi upaya penyelamatan sektor maritim. Ia banyak dipuja atas langkah beraninya, tapi tak sedikit pula yang mencaci.

Pada tanggal 29-30 Oktober 2018, Indonesia menjadi tuan rumah `Konferensi Laut Kita` (Our Ocean Conference) yang dihadiri 1900 delegasi dan 7 kepala negara dari seluruh dunia.

Laut dan sektor perikanan Indonesia kini lekat dengan sosok Menteri Susi Pudjiastuti, perempuan berlatar belakang pengusaha, yang populer dengan jargon `tenggelamkan` di berbagai media.

Susi berharap konferensi tersebut tak hanya berjalan sebagai ajang diplomasi tanpa aksi.

"Selama ini komitmen negara-negara di dunia secara umum sudah ada namun delivery tracking-nya belum ada, nanti kita akan susun mekanisme dari setiap komitmen yang ada, jangan cuma omong komitmen saja tapi nyatanya tidak ada," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan tamatan SMP ini kepada ABC.

Komitmen, sebut Susi, sangat penting dalam menjaga ekosistem laut. Di tengah fenomena perubahan iklim dan isu penangkapan ikan ilegal, Susi menganggap konsep perikanan berkelanjutan sebagai hal yang sepatutnya diterapkan semua negara.


"Kalau semua negara komitmen untuk sustainable fisheries (perikanan berkelanjutan), kan mereka akan kembali ke kita juga banyak. Jadi resources (sumber daya) yang ada di laut itu adalah kepentingan semua negara untuk tetap ada banyak...produktif," papar Menteri yang sempat disorot karena kebiasaan merokok dan tato di tubuh-nya ini.

"Ya itu kepentingan kita apalagi kita paling luas lautnya, dibandingkan negara-negara lain salah satu yang terbesar," imbuh Susi.

Selama 4 tahun menjabat, Susi dianggap beberapa kalangan mengeluarkan kebijakan kontroversial, salah satunya penenggelaman kapal. Selama 4 tahun pula, Indonesia telah melarang 10.000 kapal asing dari menangkap ikan di perairannya.

Ia mengatakan, penangkapan ilegal yang terjadi di Indonesia sebagian besar adalah kejahatan trans-nasional.

"Oh memang illegal fishing (penangkapan ikan ilegal) ya kebanyakan transnational organized crime (kejahatan terorganisir transnasional), hampir semuanya. Involve (melibatkan) beberapa kelompok negara, kemudian benderanya juga biasanya banyak."

"Lalu mereka melakukan pengiriman antar negara, mengoperasikannya dari beberapa negara, di beberapa negara, diawaki beberapa kebangsaan. Hasilnya juga dijual ke beberapa negara. So it`s transnational organized crime (jadi ini kejahatan terorganisir transnasional)," utara Menteri asal Pangandaran, Jawa Barat, ini.


Akibat keengganan Susi untuk berkompromi atas kasus penangkapan ikan ilegal, beberapa pihak justru menyebutnya melakukan kejahatan laut.

"Sovereignty (kedaulatan) sumber daya alam kita ya harus kita jaga untuk bangsa kita, saya tidak merasa sebagai penjahat laut justru saya menertibkan penjahat di laut yang merusak sumber daya alam kita," belanya.

Dalam diskusi publik `Arah Pembangunan Indonesia 2019-2024: Menimbang Ide dan Gagasan Pasangan Capres-Cawapres` pertengahan Oktober lalu, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Sudirman Said, sempat menyebut dampak negatif dari kebijakan perikanan Indonesia yang berlaku saat ini.

"Saya berkeliling pantai di Jawa Tengah, banyak nelayan yang mengeluhkan kalau nasib mereka sekarang sangat susah di bawah kebijakan sekarang ini. Pendapatan mereka menurun drastis," kata mantan calon Gubernur Jawa Tengah di Pilkada 2018 ini.

Di sisi lain, menjelang `Konferensi Laut Kita`, Menteri Susi justru mengingatkan pentingnya penyelamatan laut dan kesadaran bahwa laut adalah salah satu pusat kehidupan.

Ia juga menampik Indonesia gentar akan protes dari negara ekonomi besar.

"Saya tidak melihat China, atau negara apa, Amerika kalau curi ikan ya saya tenggelamkan kapalnya, sama saja, saya dalam bekerja tidak lihat negara mana ukuran apa, kalau mereka salah ya..tanggung konsekuensinya, tenggelamkan!."


Atas keberanian dan semangat yang ia miliki dalam menjalankan tugas sebagai pejabat publik, Susi merasa berhutang budi kepada kedua orang tuanya.

"Mereka karakter-karakter yang sangat kuat, very logic (sangat logis), very rational (sangat rasional), tapi juga good heart sincere (berhati tulus). Jadi itu yang diterapkan ke anak-anaknya. Itu yang selalu jadi panduan bagi saya," tutur Susi kepada ABC.

Dua puluh empat jam seringkali dirasa tak cukup untuk mengakomodasi pekerjaannya. Susi mengaku resep kebugarannya berasal dari hati.

"Saya cinta Indonesia, saya cinta orang Indonesia dan nelayan-nelayan itu. Saya sampai disini [menjadi Menteri, red] itu juga karena saya kerja di perikanan. Orang-orang di kota dengan pendidikan yang lebih bagus punya kesempatan. Tapi mereka?? ya mereka yang membuat saya semangat."

Sumber: abc.net.au