press enter to search

Selasa, 20/10/2020 09:31 WIB

34 Bangunan Liar di Karawang Digusur untuk Transit Oriented Development dan Stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Ahmad Bashori | Kamis, 25/10/2018 19:46 WIB
34 Bangunan Liar di Karawang Digusur untuk Transit Oriented Development dan Stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung Alat berat merobohkan bangunan liar di sepanjang jalan Badami-Loji yang akan diperlebar guna kepentingan TOD KA Cepat Jakarta-Bandung.Foto DODO RIHANTO/PR

KARAWANG (aksi.id) - Sebanyak 34 unit bangunan liar yang berdiri di sepanjang jalan Badami-Loji digusur Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Karawang, Kamis, 25 Oktober 2018.

Penggusuran dilakukan untuk memperlebar jalan yang akan digunakan sebagai akses menuju Transit Oriented Development (TOD) dan Stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Karawang.

"Lebar jalan ini akan ditambah 200 meter. Dengan demikian, di masa mendatang tidak akan ada lagi penumpukan kendaraan hingga ke interchange Karawang Barat," ujar Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Karawang, Asep Hazar, di lokasi penggusaran, Kamis, 25 Oktober 2018.

Menurut dia, jalan tersebut perlu diperluas agar akses menuju Stasiun dan TOD KA cepat terbuka lebar. Hanya saja, di atas jalur tersebut saat ini sudah banyak berdiri bangunan liar permanen dan semi permanen.

Jalan tersebut saat ini masih berstatus jalan inspeksi Perum Jasa Tirta (PJT) 2, Jatiluhur. Sebelumnya jalan itu merupakan tanggul Sungai Kalimalang yang mengalirkan air dari Bendungan Jatiluhur ke Jakarta untuk bahan baku PAM Jaya.

Asep mengaku sudah berkoordinasi dengan pemilik lahan yakni PJT II. "Pelebaran ini untuk kepentingan umum, khususnya, bagi calon penumpang KA Cepat. Tidak logis kalau naik keretanya cepat tapi menuju stasiunnya macet," kata Asep Hazar.

Disebutkan, selain melalui jalan Badami-Loji, calon penumpang KA Cepat bisa juga menggunakan jalan konsorsium kawasan industeri KIIC atau jalan tol Jatiasih-Sadang yang akan segera dibangun Pemerintah Pusat.

Dari pantauan PR, proses penggusuran sempat mendapat perlawanan dari penghuni bangunan liar tersebut. Bahkan ada seorang wanita setengah baya nekad menghadang laju alat berat yang akan meratakan rumahnya.

Aksi wanita tersebut akhirnya diikuti puluhan penghuni lainnya. Mereka serentak menghalang-halangi eksavator.

Guna menghindari insiden, sejumlah Polwan berupaya memberi penjelaskan kepada penghuni bangunan liar tersebut. "Memang sempat ada insiden. Tapi situasi selanjutnya kondusif. Emosi warga dapat kami redam," kata Kepala Kepolisian Sektor Telukjambe Barat, Inspektur Satu Hasanuddin Bahar. 

Menurut Kapolsek, sebenarnya para penghuni bangunan liar itu sudah bermusyawarah dengan aparat, Rabu, 24 Oktober 2018 malam. Saat itu, sebanyak 41 keluarga sepakat pindah.

Namun saat penggusuran dilakukan, masih ada warga yang masih menempati bangunannya. Bahkan, di dalam bangunan itu masih banyak alat rumah tangga yang belum dipindahkan.

Meski begitu, pembongkaran tetap dilanjutkan. Alat berat yang dioperasikan dalam kegiatan itu meratakan semua bangunan, termasuk pagar pabrik dan hotel yang ada di jalan tersebut.*