press enter to search

Selasa, 22/10/2019 00:44 WIB

Mobil Esemka Gunakan Komponen dari Cina

Redaksi | Minggu, 28/10/2018 17:57 WIB
Mobil Esemka Gunakan Komponen dari Cina

 Surakarta (aksi.id) -  Mobil Esemka yang direncanakan diproduksi dalam waktu dekat, bakal menggunakan komponen yang didatangkan dari Cina. Sumber Tempo yang mengetahui kegiatan pabrik Esemka di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengatakan pabrik Esemka hanya menjadi tempat perakitan mobil. Komponen mobil didatangkan secara terurai atau completely knock down (CKD).

Aktivitas di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) di Boyolali itu, berdasarkan pantauan Tempo, meningkat menjelang dimulainya produksi massal pada akhir bulan ini. Dalam dua pekan terakhir, terlihat iring-iringan sekitar 20 rangkaian truk kontainer tiap malam.

Menurut sumber tersebut, pabrik di Boyolali digunakan untuk merakit komponen bodi dan interior. Sedangkan mesin sudah terpasang pada rangka pada saat diimpor. “Butuh biaya amat mahal untuk membuat blok mesin, lagi pula pabrik tak cukup besar untuk merakit mesin,” ujarnya, Jumat, 26 Oktober 2018, seperti dikuti dari Koran Tempo edisi Sabtu, 27 Oktober 2018.

Dia mengatakan pabrik Esemka terlalu kecil untuk membuat mesin. “Tidak mungkin pabrik kecil seperti itu merakit mesin. Logika sepele saja, untuk memasang satu roda minimal butuh dua orang.”

Pemerintah tak mempersoalkan ihwal komponen yang digunakan mobil Esemka. Kepala Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor Kementerian Perhubungan, Caroline Noorida, mengatakan semua jenis mobil, dengan berbagai sistem perakitan dan bahan baku yang digunakan, berhak mengikuti uji kelayakan dan mendapat sertifikasi. “Kalau lolos, ya, lolos... tidak jadi masalah bikinan atau komponen dari Cina, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, atau Korea,” ujarnya, Jumat, 26 Oktober 2018.

Ada delapan tipe mobil Esemka yang sudah layak jalan dan mendapat sertifikasi uji tipe dari Kementerian Perhubungan. Namun produksi empat tipe mobil yang berbahan bakar bensin, yakni Bima 1.0 (barang muatan), Bima 1.3 L (barang muatan), Bima 1.3 (barang muatan), dan Niaga 1.0 (mobil penumpang), harus ditunda untuk melengkapi mandatori standar emisi Euro 4 yang diterbitkan bulan ini.

Walhasil, hanya empat jenis mobil berbahan bakar solar yang mendapat lampu hijau untuk diproduksi massal. Keempat varian tersebut adalah Garuda I 2.0 (penumpang tipe SUV), Bima 1.8D (barang muatan), Digdaya 2.0 (barang muatan terbuka kabin ganda), dan Borneo 2,7D (minibus).

Kabar rencana produksi massal Esemka mencuat dari calon wakil presiden Ma’ruf Amin pada akhir bulan lalu. Mobil ini akan diproduksi PT Adiperkasa Citra Lestari, perusahaan yang dipimpin mantan Kepala Badan Intelijen Negara, Abdullah Mahmud Hendropriyono, bekerja sama dengan PT Solo Manufaktur Kreasi. Kedua perseroan itu membentuk PT Adiperkasa Citra Esemka Hero dan mendirikan pabrik di Boyolali.

Hingga Jumat, 26 Oktober 2018, Tempobelum mendapat konfirmasi dari manajemen PT Solo Manufaktur Kreasi. Petugas keamanan pabrik tak mengizinkan masuk. Ia menyatakan manajemen tidak berada di lokasi.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Putu Juli Andika, memastikan segala persyaratan administrasi produksi massal Esemka sudah lengkap. “Tapi pastinya kapan, tentu harus tanya ke perusahaan,” tuturnya, Jumat, 26 Oktober 2018.

Sebelumnya, Putu mengungkapkan, produksi mobil Esemka akan mengandalkan sebagian impor komponen dari Cina. “Saya tidak tahu secara keseluruhan,” ujarnya. (ny/Tempo.co)