press enter to search

Senin, 17/12/2018 17:57 WIB

Malam Sebelum Jatuh, pesawat Lion Air JT-610 Diduga Alami Masalah Instrumen

Redaksi | Selasa, 30/10/2018 17:03 WIB
Malam Sebelum Jatuh, pesawat Lion Air JT-610 Diduga Alami Masalah Instrumen Lion Air (Foto Ilustrasi)

JAKARTA (aksi.id) Sebelum jatuh di perairan sebelah utara Karawang, Jawa Barat, pada Senin (29/10), pesawat Lion Air mengalami masalah instrumen pada penerbangan Minggu (28/10) malam, sebagaimana tercantum dalam catatan teknis penerbangan yang diperoleh BBC.

Dalam penerbangan malam sebelumnya rute Denpasar-Jakarta, pesawat Boeing 737 Max8 itu menggunakan kode penerbangan JT43, dan untuk penerbangan berikutnya, Jakarta Pangkal Pinang, pesawat yang sama menggunakan kode penerbangan JT610.

Catatan teknis pesawat nomor penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng menyebutkan data kecepatan pesawat saat mengudara pada instrumen kapten pilot tidak dapat diandalkan. Bahkan data ketinggian yang tertera pada instrumen kapten pilot dan kopilot berbeda.

“Teridentifikasi instumen CAPT (kapten) tidak dapat diandalkan dan kendali diserahkan ke FO (first officer/kopilot). Kecepatan udara NNC tidak dapat diandalkan dan ALT tidak cocok,” sebut catatan penerbangan JT-43.

Meski demikian, kru pesawat memutuskan untuk meneruskan penerbangan dan mendarat dengan aman di Cengkareng.

Keesokan paginya, pesawat tersebut memakai nomor penerbangan JT-610 guna melayani rute Jakarta-Pangkal Pinang.

Secara terpisah, Direktur Utama Lion Air, Edward Sirait, mengakui memang ada kendala teknis dalam penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng pada Minggu (28/10) malam.

“Namun kami tegaskan, pesawat dalam keadaan layak terbang, sudah diperiksa para insinyur kami. Memang ada laporan mengenai masalah teknis, dan masalah teknis ini sudah dikerjakan sesuai prosedur maintenance yang dikeluarkan pabrikan pesawat,” kata Edward dalam jumpa pers di Bandara Soekarno Hatta.

“Jika pesawat rusak, mustahil pesawat bisa diijinkan terbang dari Denpasar. Ketika kami menerima laporan kru pesawat, kami secepatnya membenahi,” sambungnya.

Edward menegaskan terlalu dini untuk menduga penyebab kecelakaan.

“Kami tak bisa berspekulasi, karena ini menyangkut nyawa manusia,” ucapnya.

Sementara itu, sejumlah serpihan dan barang-barang milik penumpang pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang telah ditemukan, sementara Lion Air menegaskan pesawat masih baru dan layak terbang kendati pernah mengalami masalah teknis.

“Kami menemukan antara lain KTP dan paspor, tas dan barang lain milik penumpang, serta serpihan dan potongan badan pesawat,” kata Mayjen Nugroho Budi Wiryanto, Deputi Operasi Basarnas, dalam jumpa pers di kantor Basarnas di Jakarta.

Perairan di lokasi yang diperkirakan jatuhnya pesawat, tampak penuh dengan berbagai benda dari pesawat yang sudah dalam serpihan-serpihan kecil, kata Silvano Hadjid dari BBC News Indonesia dari lokasi pencarian.

Betapa pun, kata Deputi Operasi Basarnas, sejauh ini yang ditemukan baru benda-benda kecil. “Belum signifikan, belum ada badan pesawat yang utama,” kata Nugroho.

Karenanya, “Kami sudah menurunkan tim untuk melakukan penyelaman di perairan Tanjung Karawang, untuk menemukan korban,” lanjutnya.

Kedalaman di perairan itu sekitar 30-35 meter, jadi bisa diselami, tambah Nugroho lagi.

Sepatu bayi dan sejumlah kantung jenazah
Wartawan BBC News Indonesia Silvano Hajid dari lokasi pencarian

Basarnas mengerahkan belasan kapal dan ratusan petugas pencari ke perairang Teluk Karawang, sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Beberapa perahu karet juga diturunkan untuk mendekati satu titik pencarian.

Sepatu bayi yang mungil juga ditemukan mengambang di atas permukaan laut bersama benda-benda pribadi yang bercampur dengan serpihan pesawat. Dalam pesawat Lion Air JT-601 itu memang terdapat dua penumpang bayi.

Terdapat tiga kantung jenazah di kapal itu, yang sudah diisi bagian tubuh yang ditemukan. Sementara kapal lainnya sedang dalam perjalanan membawa satu kantung jenazah lagi.

Dek Kapal Basudewa dipenuhi barang-barang temuan tim pencari.

Tim penyelam juga diturunkan melakukan pencarian di kedalaman laut, sementara beberapa perahu karet menyisir benda-benda yang terbawa angin, tidak jauh dari lokasi yang diperkirakan tempat jatuhnya pesawat.

Kumpulan serpihan dan benda-benda itu tampak berserakan memanjang di atas permukaan laut.

Kapal pencari silih berganti merapat ke Kapal Basudewa untuk mengumpulkan temuannya.

Hingga pukul 14.10, sudah ada empat kantung jenazah di atas dek kapal, untuk dibawa menuju Posko Basarnas di Jakarta.

Pesawat dengan registrasi PK-LQP jenis Boieng 737 MAX 8, yang tergolong sangat baru. Pesawat ini selesai dibuat tahun 2018.

“Kami menerima pesawat itu dari Boeing pada 13 Agustus 2018, dan mulai mengoperasikannya secara komersial pada 15 Agustus 2018, kata Presiden Direktur Lion Air, Edward Sirait.

“Penerbangan Lion Air JT 610 dengan rute penerbangan Cengkareng menuju Pangkalpinang … setelah 13 menit mengudara, pesawat jatuh di koordinat S 5’49.052″ E 107′ 06.628″ (sekitar Karawang),” kata Edward Sirait pula, dalam jumpa pers mereka.

Pesawat itu dipimpin Kapten pilot Bhavye Suneja dengan copilot Harvino bersama enam awak kabin dan tiga pramugari yang sedang menjalani pelatihan.

“Kapten pilot sudah memiliki jam terbang lebih dari 6.000 jam terbang dan copilot telah mempunyai jam terbang lebih dari 5.000 jam terbang. Keduanya adalah poilot yang sangat berpengalaman, juga dalam menerbangkan pesawat ke luar negeri,” kata Edward Sirait pula.

“Ini pesawat baru, kami terima dari Boeing awal Agustus, dan dipoeprasikan pada 15 Agustus. Jadi masih sangat baru.”

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang dilaporkan hilang kontak sesaat setelah lepas landas pada Senin (29/10) pagi.

Boeing meluncurkan pesawat model 737 Max tahun lalu seraya mengklaim pesawat ini lebih senyap dan lebih hemat bahan bakar ketimbang model sebelumnya, yaitu 737.

Sumber: BBC Indonesia.

Keyword Lion Air JT-610