press enter to search

Kamis, 15/11/2018 05:06 WIB

Wings Air di Bandara Torea Fakfak Seperti Jet Tempur di Kapal Induk, Penumpang Ikut Ngerem

Redaksi | Jum'at, 09/11/2018 20:03 WIB
Wings Air di Bandara Torea Fakfak Seperti Jet Tempur di Kapal Induk, Penumpang Ikut Ngerem Mendarat dengan cukup keras adalah ciri khas pesawat Wings Air Bandara Torea, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

FAKFAK (aksi.id) - Mendarat terbilang tak mulus adalah ciri khas pesawat Wings Air Bandara Torea, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Seperti dialami Aksi.id dan BeritaTrans.com saat bersama Inspektur Jenderal Kementerian Perhubungan Wahju Satrio Utomo naik Wings Air dari Bandara Rendani, Manokwari, Jumat (9/11/2017) siang.

Saat lepas landas dari bandara tersebut, pesawat ATR-72  terasa mulus berlari di runway. Sekitar satu jam perjalanan, pilot menginfokan bahwa pesawat akan mendarat di Bandara Torea.

Terasa keras ketika roda belakang pesawat menginjak landasan Bandara Torea. Banyak penumpang terkaget.

Kondisi seperti itu disebut Wakil Bupati Fakfak Abraham Sopaheluwakan: "Penumpang pesawat ikut ngerem. Mereka injak kaki walau tahu yang dapat mengerem pesawat ya pilot."

Pendaratan yang tidak bisa mulus oleh pesawat ATR-72 Wings Air itu bukan karena pilot tidak cakap. Justru bagian dari kompetensi pilot. Mengapa demikian?

Yudha, staf di Bandara Torea, mengemukakan runway (landasan) hanya sepanjang 1.200 meter. Itu pun karena obstacle (penghalang) pohon tinggi di ujung landasan, menyebabkan runway hanya bisa optimal dipakai 900 meter.

Sedangkan pesawat ATR-72 mensyaratkan panjang runway minimal 1.400 meter untuk lepas landas dan mendarat dengan aman.

"Kondisi runway seperti itu menyebabkan pesawat Wings Air paling banyak memuat 60 penumpang dari kapasitas 72 penumpang. Demikian halnya barang yang diangkut juga harus dibatasi," tutur Yudha kepada rombongan dipimpin Inspektur Jenderal Kementerian Perhubungan, Wahju Satrio Utomo, Jumat (9/11/2018).

Pilot, dia menuturkan harus menyiasati mendaratkan pesawat dengan agak keras. "Situasi seperti ini tidak bisa dihindari sepanjang bandara tidak diperpanjang menjadi 1.400 meter," ungkapnya.

Dia juga menjelaskan di sisi kanan landasan saat pesawat mendarat tersapat jurang dengan ramai perumahan penduduk dan sekolah. Sedangkan di sisi kiri tersapat tebing. Ekstremnya lagi di kedua ujung landasan tersapat jurang cukup dalam. 

Dengan kondisi landasan seperti itu, Aksi.id menikai dapat diibaratkan runway di Bandara Torea seperti landasan pesawat di kapal induk. Pilot harus sangat ekstra hati-hati saat mendarat dan lepas lendas.

Karenanya, pilot Wings Air patut diacungi jempol. Begitu juga Wings Air patut diapresiasi karena menjadi satu-satunya maskapai yang punya nyali terbang reguler di Bandara Torea.

Namun menjadi persoalan besar, sampai kapan situasi dan kondisi memacu keras adrenalin, dengan risiko ancaman keselamatan penerbangan tersebut dapat berakhir?

(Agus W).