press enter to search

Minggu, 16/12/2018 22:33 WIB

Di Bandara Kairo Malah Jadi Ingat Hebatnya Bandara Soekarno-Hatta

| Selasa, 04/12/2018 16:22 WIB
Di Bandara Kairo Malah Jadi Ingat Hebatnya Bandara Soekarno-Hatta Pengguna jasa harus shalat di teras Terminal Kedatangan Bandara Kairo

KAIRO (aksi.id) -  Menjelajah Mesir melalui Bandara Kairo malah jadi bersyukur memiliki Bandara Soekarno-Hata dan bandara-bandara lain di Indonesia.

Datang dan pergi melalui bandara di negeri  Firaun dan Kleopatra pernah berkuasa itu sungguh mendapatkan pelayanan, yang jauh dari bandara kelolaan PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II dan Ditjen Perhubungan Udara.

Apalagi dikomparisakan dengan Bandara Soekarno-Hatta maka kita wajib bersyukur karena mememiliki bandara, yang dikelola dengan energi berinovasi pelayanan untuk kepuasan dan dedikasi pelanggan.

Di Bandara Kairo tidak ada porter. Konsumen bandara dipaksa untuk mengangkat dan menurunkan bagasi sendiri. Contoh, rombongan dari Hazz Haromain Elfauz dari Indonesia, yang di antaranya merupakan emak-emak dan nenek-nenek, harus mengangkat bagasi dan mendorong troli sendiri, Selasa (4/12/2018).

Betapa repotmya ketika mereka harus cek in. Mengurus tiket sambil mengangkat sendiri bagasi ke petugas cek-in tiket. Parahnya tidak ada anjungan pelaporan (cek in) mandiri. Segalanya serba manual. Jadi jangan berharap ada pelayanan digital seperti Mobile Apps Indonesia Airport, yang dibesut PT Angkasa Pura II.

Di terminal keberangkatan juga tidak ada konter penjaja makanan dan minuman. Jadi kalau haus atau lapar dipersilakan untuk bersabar hingga tiba di kawasan ruang tunggu atau di pesawat. Untuk turis asing maka kesabaran ini dibutuhkan karena harus  terlebih dahulu melalui konter cek in dan imigrasi.

Di terminal keberangkatan juga tidak disediakan fasilitas untuk shalat. Walhasil calon penumpang pesawat harus pintar mencari tempat untuk shalat di lantai terminal.

Sedangkan urusan berwudhu, mesti menggunakan wastafel. Ketika membasuh kaki yang sungguh repot. Karena kaki harus diangkat ke wastafel. Wudhu seperti itu terpaksa dilakukan karena tidak ada selang shower di toilet.

Bayangkan saja betapa sengsaranya berwudhu seperti itu untuk penderita asam urat atau osteoporosis. Cukup bayangkan sampai di situ saja, tidak perlu membayangkan seperti apa emak-emak dan nenek-nenek mengangkat kaki ke wastafel.

Masih banyak sebenarnya persoalan dalam pelayanan di Bandara Kairo. Persoalan itu menjadi kontradiktif dengan Mesir, yang amat menggantungkan pendapatannya dari devisa pariwisata. Sekadar catatan, pendapatan dari pariwisata merupakan posisi pertama dalam APBN Mesir.

Catatan lainnya adalah kunjungan turis mancanegara ke Mesir belum pulih setelah revolusi tahun 2011. Sebelum revolusi mencapai 15 juta turis per tahun, sedangkan setelah revolusi anjlok menjadi sepertiganya yakni sekitar 5 juta orang.

Jadi kembali ke laptop, eh ke Bandara Soekarno-Hatta, maka kita patut berbangga hati dan menyampaikan apresiasi setinggi-tinggi secara seksama untuk pengelola bandara di tanah air.

Ketika kaki menginjak lantai Bandara Soekarno-Hatta, hati pun lantas bersyukur. 

Sambil mengutip ayat suci, Ustadz Salahuddin Rafi pernah bilang ke saya: "Nikmat apa lagi yang kita dustakan".

(Agus Wahyudin).