press enter to search

Minggu, 16/12/2018 22:08 WIB

Albert Einstein Pernah Rasis dan Tak Suka Warga Asing

| Rabu, 05/12/2018 04:51 WIB
Albert Einstein Pernah Rasis dan Tak Suka Warga Asing Albert Einstein melalukan perjalanan bersama istrinya, Elsa. Foto: AFP

NEW YORK (aksi.id) - Catatan perjalanan Albert Einstein menunjukkan fisikawan terkemuka ini pernah memiliki pandangan yang rasis dan tak suka dengan orang-orang dari negara lain (xenofobia).

Catatan itu ditulisnya pada periode Oktober 1922 hingga Maret 1923, saat melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan Asia, yang sekarang diterbitkan.

Dalam perjalanan hidupnya, Einstein kemudian menjadi aktivis hak-hak sipil di Amerika Serikat dan menyebut rasisme sebagai `penyakit orang-orang kulit putih`.

Pandangannya yang `rasis dan xenofobis` ini tercermin dalam catatan yang dikumpulkan dalam buku, yang diberi judul The Travel Diaries of Albert Einstein: The Far East, Palestine, and Spain 1922-1923.

Ia antara lain menulis tentang generalisasi orang-orang Cina yang disebutnya `kotor dan dungu`.

Anak-anak China digambarkannya sebagai `tak punya semangat hidup dan bodoh`. Selain itu, ia juga mengatakan `akan menyedihkan jika hanya ada ras China saja di dunia ini`.

Dalam tulisan lain ia mengatakan orang-orang Cina `lebih seperti mesin`.

Pada periode 1922-1923 Einstein mengunjungi Spanyol, kemudian ke Timur Tengah, Sri Lanka (ketika itu bernama Ceylon), Cina, dan Jepang.

Saat singgah di Kolombo, Einstein menulis `orang-orang di sini sangat kumuh`.

Einstein yang dikenal jenius dan humanis ini pindah ke Amerika pada 1933 setelah naiknya Adolf Hitler dan Partai Nazi.

Dalam pidato Universitas Lincoln, Pennsylvania, pada 1946, Enstein, menggambarkan rasisme sebagai `penyakit orang kulit putih`.

Catatan yang mencerminan pandangan yang akhirnya berubah

Analisis Chris Buckler, wartawan BBC News di Washington

Catatan perjalanan ini jelas menjadi salah satu petunjuk bagaimana pandangan Einstein soal ras berubah.

Ketika pindah ke Amerika pada 1933, ia terkejut dengan pemisahan atau segregasi antara warga kulit hitam dan kulit putih di sekolah dan gedung bioskop.

Pengalaman yang antara lain mendorongnya untuk bergabung dengan organisasi yang mengkampanyekan kepentingan orang-orang kulit berwarna.

Menurutnya ada kesamaan antara orang-orang Yahudi yang diburu di Jerman dan perlakukan terhadap warga kulit hitam di Amerika.

Dia sengaja memilih Universitas Lincoln di Pennsylvania, perguruan tinggi yang populer di kalangan warga kulit hitam, untuk memberikan pidato tentang rasisme, hanya setahun setelah Perang Dunia II berakhir.

Catatannya ini jelas adalah pandangan pribadi dan mungkin adalah reaksi spontan atas yang ia saksikan saat itu.

Dalam konteks kehidupan abad ke-21, pandangan ini mungkin akan menodai reputasinya sebagai ilmuwan hebat yang humanis tapi perlu diingat bahwa pandangan-pandangan tersebut ditulisnya ketika ia belum menyaksikan rasisme di Amerika dan di negara asalnya, Jerman.