press enter to search

Minggu, 16/12/2018 23:01 WIB

Peneliti Australia Temukan Penanda Sel Kanker yang Unik

| Kamis, 06/12/2018 01:13 WIB
Peneliti Australia Temukan Penanda Sel Kanker yang Unik Professor Matt Trau (kiri) bersama peneliti Dr Abu Sina dan Dr Laura Carrascosa dari University of Queensland. (Supplied: Australian Institute of Bioengineering and Nanotechnology, UQ)

QUEENSLAND (aksi.id) - Para peneliti University of Queensland berhasil menemukan tanda DNA unik yang biasanya ada pada berbagai jenis kanker. Hal ini berpotensi mengubah cara kedokteran modern mendiagnosis kanker terutama pada tahap dini.

Penanda sel-sel kanker tersebut ditemukan melalui pengujian darah dan jaringan biopsi.

Salah satu peneliti, Profesor Matt Trau, menjelaskan selama ini sangat sulit menemukan penanda sederhana untuk membedakan sel kanker dengan sel yang sehat.

"Kami tak menduga hal ini mungkin dilakukan, karena kanker itu sangat rumit," kata Prof Trau, yang penelitiannya diterbitkan dalam jurnal Nature Communications hari ini.

"Bahkan kanker payudara pun jenisnya banyak sekali, jadi kami berpikir perlu melakukan tes berbeda untuk jenis kanker berbeda," katanya kepada ABC Australia.

Para peneliti kaget ketika menemukan tanda DNA tersebut muncul pada setiap jenis kanker payudara yang mereka periksa. Begitu juga pada kanker prostat, kanker kolorektal, dan limfoma.

"Sangat mengejutkan kami karena hal ini jadi fitur umum dalam semua jenis kanker yang kami periksa," jelas Prof Trau.

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa kanker disebabkan oleh perubahan pada DNA yang mengontrol fungsi sel-sel.

"Biasanya untuk menemukan penanda kanker ini dilakukan dengan cara memeriksa urutan DNA," ujar Prof Trau.

Namun timnya melakukan pendekatan berbeda, yaitu dengan memeriksa pola-pola molekul bernama gugus metil (methyl groups) yang mendekorasi DNA dan mengendalikan aktivasi gen.

Posisi molekul-molekul ini membentuk bagian dari epigenome, yaitu instruksi yang mengontrol ekspresi gen.

Para peneliti ini menemukan bahwa dalam sel yang sehat, gugus metil menyebar ke seluruh genom.

Sebaliknya, pada genom sel-sel kanker, gugus metilnya mengelompok secara nyata pada lokasi tertentu.

"Hampir di setiap bagian DNA kanker yang kami periksa memiliki pola seperti ini," jelasnya.

"Jika mengumpamakan sebuah sel sebagai hard-drive maka epigenome ini merupakan aplikasi yang digunakan sel," kata Prof Trau.

"Tampaknya untuk meluncurkan kanker, maka harus menjalankan serangkaian aplikasi genetik," tambahnya.

Peran Nanopartikel

Para peneliti ini mengembangkan pengujian yang dapat mendeteksi sel-sel kanker dengan mencari pola epigenetik dalam darah dan jaringan biopsi.

Hal itu dimungkinkan setelah mereka menemukan bahwa memasukkan DNA kanker ke dalam larutan akan menyebabkannya menjadi struktur 3D.

Struktur ini ternyata menempel pada emas. Artinya, saat DNA kanker dimasukkan dalam larutan dengan nanopartikel emas, langsung menempel dan mengubah warna larutan.

"Ini hanya berupa tes darah biasa yang bisa kita lihat dengan mata telanjang," kata Prof Trau.

Mereka mencoba metode pengujian yang mereka kembangkan ini pada 200 sampel kanker manusia.

Menurut Prof Trau, akurasinya dalam mendeteksi kanker mencapai 90 persen.

"Kita bisa membandingkannya dengan berbagai teknik pendeteksian kanker yang sudah maju," katanya.

Pada tahap ini, pengujian yang dikembangkan para peneliti baru dapat mendeteksi keberadaan sel-sel kanker. Bukan jenis kankernya atau stadium penyakitnya.

Penelitian ini didanai National Breast Cancer Foundation dan para peneliti kini bekerja sama dengan universitas untuk mengembangkannya lebih lanjut.

Masih tahap awal

Peneliti kanker pada Edith Cowan University Prof Dr Elin Gray menanggapi hasil penelitian ini sebagai karya menarik yang menawarkan banyak potensi.

"Masih tahap awal dan harus divalidasi. Namun saya rasa sangat menarik, pendekatannya sangat berbeda," kata Dr Gray.

Dr Gray, pakar kanker melanoma, mengatakan hasil penelitian tersebut masih memerlukan banyak tahapan untuk memastikan kegunaannya sebagai alat skrining kanker.

"Jika sangat sensitif kita bisa menggunakannya untuk diagnosis dini kanker terutama yang belum ada paradigma skriningnya, seperti kanker ovarium dan pankreas," katanya.

Hal senada disampaikan pakar biologi molekul dari University of New South Wales Therese Becker.

"Sama seeperti semua sains yang bagus, hal ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan," katanya.

Dr Gray menambahkan hingga kini belum jelas apakah penanda sel-sel kanker memang ditemukan pada semua jenis kanker.

"Apakah universal sifatnya? Kita belum tahu sampai ada pengujian. Mustahil untuk mengetahuinya," ujarnya.

Prof Trau sendiri mengakui penelitiannya akan dilanjutkan dengan melakukan pengujian klinis lebih banyak.

"Kami memang belum tahu apakah hal ini merupakan kunci utama bagi semua diagnosa kanker. Namun yang jelas hal ini sangat menarik," paparnya.

Sumber:abc.net.au

Keyword Kanker