press enter to search

Minggu, 16/12/2018 21:41 WIB

Kepala BKPM Prediksi Dolar akan Terus Naik

| Rabu, 05/12/2018 23:23 WIB
Kepala BKPM Prediksi Dolar akan Terus Naik BI telah melakukan intervensi ganda atau dual intervention di pasar valas dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk terus menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

 JAKARTA (aksi.id)  - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan tertekan. Kondisi global mendukung dolar AS untuk semakin kuat.

"Saya prediksi tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Kondisi makro, kondisi luar tidak kalah beratnya dengan tahun ini dari sisi suku bunga, dolar akan terus naik, dan bahkan saya masih waspada apakah harga minyak tidak akan kembali naik," kata Kepala BKPM Thomas Lembong.

Ia menyampaikan hal ini dalam acara Mandiri Market Outlook bertema "Indonesia`s Market Potential and Global Economic Growth 2019" di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (5/12/2018).

 
Waspada, Kepala BKPM Sebut 2019 Dolar akan terus NaikFoto: Kepala BKPM Thomas Lembong (CNBC Indonesia/Bernhart Farras)


Namun, Thomas mengatakan kondisi Indonesia sendiri akan jauh lebih baik di 2019. Kenapa?

"Saat semua orang pesimistis saya itu cenderung optimistis dan saat semua orang lagi senang dan lagi optimis saya cenderung pesimistis ya." 

"Jadi kalau kita ingat kembali 3 tahun lalu, rupiah ambruk mendekati level Rp 15.000/US$ sudah pernah kejadian 3 tahun lalu saat itu saya baru bergabung kepada kabinet sebagai Menteri Perdagangan," ungkapnya.

Dijelaskan Thomas, yang menjadi pemicu ambruknya rupiah dan mata uang semua negara berkembang saat itu karena devaluasi Yuan. China mencoba untuk membuat mata uangnya lebih fleksibel di pasar namun pola komunikasi negeri tirai bambu tersebut blunder. 

"Semua pelaku kaget. (Melihat) mata uang China kok bisa rontok dan itu membuat rupiah, semua mata uang ikut rontok," tegas Thomas. 

"Saking parahnya situasi saat itu cadangan devisa China turun dari US$ 4 triliun menjadi US$ 3 triliun dalam waktu hanya 8 atau 9 bulan jadi waktu itu beneran sangat parah," katanya.

Kondisi yang membuat penjaga gawang investasi ini optimistis adalah karena tekanan-tekanan yang dihadapi Indonesia memicu pemerintah untuk melakukan reformasi. 

"Jadi tekanan yang kita hadapi dengan rupiah sudah mau melampaui Rp 15.000/US$ waktu itu membuat kita meluncurkan gelombang deregulasi. Jadi efeknya baru akan terasa di tahun berikutnya," tutur Thomas. 

(dien/sumber: cnbcindonesia.com).