press enter to search

Minggu, 16/12/2018 22:30 WIB

Pendidikan Vokasi Libatkan 609 Industri dan 1.753 SMK

| Kamis, 06/12/2018 21:47 WIB
Pendidikan Vokasi Libatkan 609 Industri dan 1.753 SMK

JAKARTA (aksi.id) - Indonesia terus menggenjot perbaikan kualitas sumber daya manusia agar sesuai dengan kebutuhan revolusi industri 4.0, ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Tahun depan pemerintah akan menjalankan proyek percontohan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri.

“Kami sudah menggandeng 609 industri dan 1.753 SMK dari enam wilayah di Indonesia,” ujar Menteri Airlangga pada Kongres dan Dialog Nasional ke-XXI Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Padang, Kamis.

Pemerintah juga mendorong science, technology, engineering, arts, dan mathematics (STEAM) menjadi mainstream pada basis pendidikan agar mampu mencetak SDM produktif agar Indonesia lebih kompetitif di era industri 4.0.

Kesiapan Indonesia menghadapi industri 4.0 juga bisa menjadi tambahan penilaian dalam Index Daya Saing Global (Global Competitiveness Index), karena tahun ini World Economic Forum memasukkan komponen kesiapan industri 4.0

“Dari aspek baru itu, daya saing Indonesia jadi meningkat peringkatnya dari 47 di 2017 menjadi 45 di tahun 2018,” ungkap Menteri Airlangga.

Indonesia, menurut Menteri Airlangga sudah mampu menempati peringkat tertinggi di Asean untuk kontribusi sektor manufaktur terhadap ekonomi dunia dengan porsi 20,5 persen.

Menteri Airlangga menilai insinyur berperan penting dalam menyukseskan penerapan revolusi industri 4.0. Hal ini mendorong penciptaan inovasi sehingga sektor manufaktur nasional mampu berdaya saing global.

“Para insinyur adalah orang-orang yang kreatif dan inovatif, serta terbiasa menyelesaikan masalah. Jadi, insinyur harus bisa menemukan peluang dan melahirkan inovasi di era digital saat ini. Adapun peran pemerintah, memberikan fasilitas dan kesempatan,” kata

Dia berharap, para insinyur terus memberikan kontribusi signifikan dalam membangun Indonesia khususnya terhadap pengembangan industrialisasi.

“Apalagi kita sedang mengembalikan sektor manufaktur menjadi arus utama guna menggerakkan perekonomian nasional,” jelasnya. Faktor penting yang diperlukan, selain pemanfaatan teknologi, yaitu menyiapkan tenaga kerja kompeten.

Ketua Umum PII Hermanto Dardak menyampaikan, pihaknya akan terus berupaya membangun SDM yang kompeten di bidang keinsinyuran agar mampu memberi nilai tambah bagi Indonesia. Selain itu juga supaya dapat lebih kompetitif dibanding insinyur negara lain.