press enter to search

Kamis, 27/06/2019 17:03 WIB

Kisah Tentang Anak Krakatau

| Rabu, 26/12/2018 19:26 WIB
Kisah Tentang Anak Krakatau Erupsi Gunung Anak Krakatau

SERANG (aksi.is) - Sekitar 47 tahun setelah gunung Krakatau meletus dan menghilang ditelan ledakan dahsyat pada 1883, bongkahan lava menyeruak ke atas permukaan laut Selat Sunda.

Ia mengering dan membentuk kubah kecil. Pada tahun 1930 itu Krakatau kembali menyapa matahari. Penduduk menamainya Anak Krakatau.

Sejak dekade 1950-an, gunung api berusia muda ini tumbuh pesat, mencapai 13 cm per pekan atau mencapai tujuh meter per tahun. Penyebabnya adalah geliat magma yang tak henti-henti di perut Bumi.

Karena Krakatau terletak di atas zona subduksi yang ketika aktif melumerkan batuan menjadi lava. Fenomena inilah yang memompa pertumbuhan Anak Krakatau.

Sejak 1950an, Anak Krakatau meletus dalam rentang satu hingga maksimal dua tahun. Hanya antara 1988-1992 dan 2001-2007 gunung api yang kini mencapai ketinggian 300an meter di atas permukaan laut tersebut membisu untuk waktu yang relatif panjang.

Sejak 2015 Anak Krakatau kembali memasuki periode aktif.

Ilmuwan sempat meyakini Anak Krakatau hanya akan kembali mengancam jika mencapai ketinggian serupa sang ibu, yakni 800an meter di atas permukaan laut.

Namun erupsi pada 22 Desember 2018 tercatat sebagai yang paling mematikan dalam sejarah Anak Krakatau.

Serupa seperti letusan Krakatau pada 1883, geliat vulkanik Anak Krakatau menciptakan gelombang tsunami yang menewaskan hampir 500 orang di Banten dan Lampung.

Gelombang air itu tercipta ketika punggung gunung seluas 44 hektar amblas ke dalam laut. Erupsi yang terjadi secara terus menerus memicu kekhawatiran terhadap tsunami lanjutan di Selat Sunda.

(dw.com).