press enter to search

Kamis, 27/06/2019 05:54 WIB

Mengenal Masyarakat Dayak Losarang Indramayu

| Sabtu, 05/01/2019 20:46 WIB
Mengenal Masyarakat Dayak Losarang Indramayu RENDEMAN: Warga suku Dayak Losarang Indramayu tengah menjalani tradisi ritual rendeman di kali sebagai bentuk penyatuan dengan alam. Foto: Ilmi Yanfau`nnas/Radar Cirebon

INDRAMAYU (aksi.id) - Senyum Eran Takmad Diningrat berderai menyambut ramah, lalu dengan logat khas Indramayu dia mempersilakan masuk ke dalam pendopo miliknya.

Pimpinan Kelompok Masyarakat Dayak Indramayu itu lantas memanggil Wardi, orang kepercayaannya, untuk menceritakan siapa Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu Indramayu itu.

Ki Takmad, begitu Eran Takmad Diningrat biasa dipanggil. Nama pria beruban itu memang populer di kalangan Masyarakat Dayak Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Bahkan warga luar--selain anggota kelompok--juga mengenalnya, misalnya warga Desa Krimun, Kecamatan Losarang. Apalagi selama ini keberadaan Masyarakat Dayak yang tinggal di Jalan Pantai Utara itu juga dikenal ramah dan bersahabat dengan warga. Meskipun, mereka ini dikenal ekslusif karena tinggal di pendopo.

Lokasi pendopo Dayak Indramayu ini tidak begitu jauh dari Jalan Pantura. Patokannya sekitar 500 meter dari kantor Kepolisian Sektor Losarang.

Di sana ada sebuah gang yang bisa lewati mobil, masuk ke dalam ada sebuah kubah mirip masjid dengan gaya arsitektur mirip candi. Di situlah markas mereka.

 

Di pintu gerbang tertulis `Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu Indramayu`. "Silakan masuk, wartawan dari Jakarta ya," kata Ki Takmad seraya berjabat tangan dan mengantarkan ke rumah Punden Gunung Krakatau, Sabtu kemarin.

Bangunan seluas kurang lebih 50 meter itu disebut Punden Gunung Krakatau lantaran di dalamnya ada replika Gunung Krakatau berbentuk bulat. Di dalamnya berisi air dan ditutupi penutup mirip kubah masjid. "Di sini tempat melakukan pujian," kata Wardi menerangkan.

Pujian biasa dilakukan oleh Masyarakat Dayak Losarang saban Jumat Kliwon. Semua murid yang tergabung dalam Padepokan Suku Dayak Bumi Segandhu itu berkumpul dalam rumah Punden Gunung Krakatau.

Ki Takmad, selaku pimpinan akan menceritakan kisah pewayangan dengan lakon Pandawa Lima. Sementara muridnya akan bernyanyi melakukan pujian. "Bercerita soal perjalanan manusia," ujar Wardi. Biasanya, dia melanjutkan, anggota padepokan melakukan ritual itu sebulan sekali.

Kebetulan, dia kembali melanjutkan, pada Malam Jumat, pekan kemarin, anggota padepokan baru saja berkumpul. "Kemarin ada dua bis datang dan Jumat sudah pulang," ujarnya.

 

Masyarakat Dayak Losarang Indramayu ini muncul pada 1970. Cikal bakalnya merupakan perguruan silat serbaguna yang dipimpin Takmad.

Keputusan Takmad untuk meninggalkan hiruk pikuk kehidupan duniawi dan menyebarkan kebaikan serta kesabaran diperoleh setelah dia bertapa.

"Bapak yang mendirikan. Dulu pakaiannya masih hitam-hitam," kata Wardi sambil menunjuk foto Takmad di rumah Punden Gunung Krakatau.

Sekitar tahun 1990-an, nama perguruan silat yang dipimpin Takmad berubah hingga akhirnya menjadi Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu Indramayu. Ajarannya melatih kesabaran dan lebih dekat dengan alam.

Bagi anggota ada ritual bernama kumkum untuk melatih kesabaran. Biasanya mereka merendam diri pada setiap musim hujan. Ritual Kumkum dilakukan selama empat bulan dalam setahun.

Anggota yang mengikuti ritual ini harus merendam diri mulai dari pukul dua belas malam hingga pukul enam pagi. Siangnya mereka kembali melakukan ritual lanjutan dengan berjemur di tengah terik matahari, dimulai dari pukul sebelas siang hingga pukul satu siang hingga celana yang mereka gunakan mengering. Tujuan dari ritual ini untuk melatih kesabaran.

"Kita belajar melatih kesabaran, jarang yang kuat untuk ritual seperti ini," kata Wardi.

Selain merendam diri di sungai selama enam jam dan berjemur di bawah terik matahari, selama menjalankan ritual Kumkum, anggota juga pantang makan sayuran tanpa rasa.

Olahan sayuran untuk dikonsumsi biasanya hanya direbus lalu dimakan. Tujuannya adalah melatih hawa nafsu. "Bagaimana kita menjadi manusia sesungguhnya," ujar Wardi.

Pada dasarnya ketika mereka melakukan Ritual Kumkum, aktivitas tetap dilakukan seperti biasa.

Wardi mengimbuhkan, mayoritas anggota Dayak Hindu Budha Segandu Indramayu adalah petani. Saban hari mereka tidak mengenakan baju dan hanya menggunakan celana berwarna hitam putih.

Sejatinya mereka merupakan suku tanpa identitas. Bagi mereka indentitas dengan tampilan dan baju yang digunakan merupakan identitas sebenarnya. Kemana pun mereka berpergian, hanya celana hitam putih yang mereka kenakan.

"Identitas kami ada dalam diri kami," tutur Wardi.

(abi/sumber: merdeka.com).