press enter to search

Kamis, 27/06/2019 17:02 WIB

Angkut CPO, MT Namse Bangdzhod dengan 12 Kru Hilang Kontak Saat Berlayar dari Sampit Menuju Tanjung Priok

| Minggu, 06/01/2019 19:30 WIB
Angkut CPO, MT Namse Bangdzhod dengan 12 Kru Hilang Kontak Saat Berlayar dari Sampit Menuju Tanjung Priok Kapal MT Namse Bangdzhod

SAMPI (aksi.id) - Kapal.MT Namse Bangdzhod  bermuatan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang bertolak dari Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dilaporkan hilang kontak saat perjalanan menuju Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.

"Iya benar. MT Namse Bangdzhod hilang kontak, posisi terakhir te-record di perairan ujung Karawang arah Tanjung Priok dari Sampit," kata Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Sampit, Thomas Chandra saat dikonfirmasi di Sampit, Minggu, 6 Januari 2018.

Menurut Thomas, MT Namse Bangdzhod dengan GT/NT 1128 merupakan kapal berbendera Indonesia. Kapal ini dioperasikan oleh PT Surabaya Shipping Lines yang berkantor pusat di Surabaya.

MT Namse Bangdzhod dinakhodai Muhammad Asdar Wijaya dengan anak buah kapal sebanyak 11 orang yaitu Yanuardin Mendrofa dan Husni Mubarak sebagai mualim, Andi Tasyriq sebagai KKM, Satria Idam Sulistio dan Bambang Mulyono sebagai masinis, Agustinus Piter, Asrun Suriansa dan Dahar sebagai juru mudi, serta Wardani, Ardiyanto dan Dwi Wahyu Sabtono sebagai juru minyak.

"Kapal ini bertolak dari Sampit pada 27 Desember 2018 lalu dan seharusnya sudah di Pelabuhan Tanjung Priok, namun hingga kini belum diketahui keberadaannya," katanya.

Thomas mengatakan, saat ini berbagai upaya sedang dilakukan untuk mengetahui keberadaan kapal tersebut.

Dia tidak ingin berspekulasi terkait dugaan keberadaan dan kejadian yang dialami kapal tersebut.

"Ditjen Perhubungan Laut melalui Direktorat KPLP, bersama Kantor Syahbandar Tanjung Priok, Basarnas, KSOP Sampit dan pemilik kapal, sedang dan terus mencari tahu atau memonitor keberadaan kapal tersebut," ujar Thomas.

Sementara itu, kabar hilang kontak MT Namse Bangdzhod langsung menyebar di media sosial. Beberapa pemilik akun media sosial yang memuat kabar dan foto kapal tersebut, meminta bantuan masyarakat untuk menginformasikan jika mengetahui keberadaan kapal pengangkut minyak sawit mentah tersebut.

PERNAH DRIOMPAK

Sebelumnya kapal MT Namse Bangdzhod mengalami perompakan terjadi di tengah perjalanan atau sekitar 15 jam perjalanan dari Pelabuhan Gresik, yakni pukul 17.00 WIB Jumat (15/4/2011).

Kapal tersebur dirompak saat berlayar dari Pelabuhan Gresik, Jawa Timur, Kamis (14/4/2011), pukul 22.00 WIB, dengan tujuan Samarinda, Kalimantan Timur. 

Pelakunya diperkirakan berjumlah delapan orang. Semuanya warga negara Indonesia. Mereka setidaknya membawa senjata tajam seperti clurit, sangkur, linggis, dan pedang, serta menggunakan dua kapal.

Setelah mengusai kapal, perompak menyekap awak kapal dan mengarahkan kapal ke Selat Singapura. Setelah berhasil mentransfer sekitar 800 ton solar ke kapal penadah, perompak kabur dengan membawa berbagai peralatan dan perlengkapan kapal.

Selama MT Namse Bangdzod di bawah penguasaan perompak, menurut Yusuf, awak kapal yang semuanya berjumlah 14 orang disekap di dalam kapal. Tangan diikat dengan tali rafia dan mata ditutup lakban hitam.

Pada hari kelima, awak kapal menyadari perompak telah pergi meninggalkan kapal yang telah buang lego untuk beberapa waktu lamanya di Selat Singapura. Saat itu, suasana sunyi dan tidak lagi terdengar aktivitas apa pun di atas kapal. Awak kapal akhirnya berhasil membebaskan diri sendiri pada Rabu (20/4/2011) dini hari.

"Seluruh awak kapal selamat, tidak ada yang terluka. Mereka (perompak) mengambil hampir semua barang yang ada di anjungan. Solar tentu saja mereka ambil juga," kata nahkoda Kapal Motor Tanker (MT) Namse Bangdzod Kapten Abdul Yusuf saat ditemui di kompleks markas Direktorat Kepolisian Air Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) di Batam, Jumat (22/4/2011).

Awalnya awak kapal tidak tahu berada di mana karena seluruh peralatan navigasi dan peralatan telekomunikasi semuanya hilang. Maka mereka kemudian menyalakan parasut beberapa kali sampai akhirnya ada kapal Coastguard Singapura datang menolong.

Coastguard Singapura selanjutnya berkoodinasi dengan Direktorat Kepolisian Air Polda Kepri. Pada Rabu siang, dilakukan serah terima KM Namse Bangdzod berikut awak kapal dari Singapore Coastguard ke Direktorat Kepolisian Air Polda Kepri.

Direktorat Kepolisian Air Polda Kepri menggelar jumpa pers pada Jumat sore. Polisi masih dalam penyidikan kasus tersebut. Saat ini, MT Namse Bangdzod buang lego di perairan Batam. Seluruh awaknya juga berada di Batam.

(aisha/sumber: antaranews.com dan kompas.com).