press enter to search

Jum'at, 18/01/2019 20:21 WIB

Sudah 14 Hari Kapal Tanker Ocean Princess Kandas di Perairan Alor, 18 Kru Tolak Dievakuasi

| Kamis, 10/01/2019 08:13 WIB
Sudah 14 Hari Kapal Tanker Ocean Princess Kandas di Perairan Alor, 18 Kru Tolak Dievakuasi   Kapal MT Ocean Princess

KUPANG (aksimid) - Kapal tanker Ocean Princess kandas di perairan pesisir Desa Aemoli, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak Jumat (28/12/2018) atau sudah 14 hari.

Namun, hingga kini, 18 kru kapal  masih bertahan di kapal yang mengalami kerusakan mesin dan menolak untuk dievakuasi.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kelas B Maumere NTT, I Putu Sudayana memaparkan, pihaknya sebenarnya sudah siap untuk mengevakuasi ke-18 ABK kapal tanker berbendera Kepulauan Cook itu.

“Kami sudah berkoordinasi dengan ABK di atas kapal, tetapi mereka belum mau dievakuasi. Saat ini mereka semua dalam keadaan baik-baik, termasuk kapal,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kelas B Maumere, I Putu Sudayana, Rabu (9/1/2019).

Menurut dia, pihaknya siap kapan saja jika ada permintaan dari ABK untuk dievakuasi. Namun untuk evakuasi kapal merupakan tanggung jawab pihak perusahan bekerja sama dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kalahabi.

“Tugas kami adalah pertolongan dan pencarian korban. Evakuasi kapal merupakan tanggung jawab pihak perusahan,” katanya.

Kapal Tanker Ocean Princess mengalami kerusakan mesin induk dan karam di pesisir kepulauan Alor, saat dalam pelayaran dari Dili, Timor Leste, menuju Singapura.

Kapal tanker berbendera Kepulauan Cook yang dinakhodai Ahira Sroyer bersama 18 ABK itu, membawa bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dari Dili, Timor Leste, dengan tujuan Singapura.

Kapal tersebut diketahui terdampar pada Jumat (28/12/2018). Kapal berbendera Cook Island (Kepulauan Cook) itu karam di wilayah perairan laut sekitar Desa Aemoli, Kabupaten Alor, NTT.

RUSAK BIOTA LAUT

Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) baru saja usai melakukan investigasi awal terhadap kerusakan biota laut di Selat Pantar, Nusa Tenggara Timur.

Penelitian tersebut dilakukan pasca insiden karamnya kapal tanker Ocean Princess di perairan Pulau Alor pada 28 Desember 2018, pukul 13.00 Wita di posisi GPS 08°10`944" LS 124°25`53T" BT.

Kapal tersebut karam tepat di wilayah konservasi di area Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar. Hasil investigasi pun menunjukkan adanya kerusakan di wilayah tersebut. Rusaknya karang didominasi oleh jenis karang masif.

Hal ini pun telah tercatat pada berita acara pemeriksaan (BAP) usai investigasi awal terhadap Kapten Kapal Tanker Ocean Princess oleh Pengawas Perikanan Kabupaten Alor yang dilakukan pada Rabu (2/1/2019).

"Investigasi awal memang menemukan ada kerusakan biota laut, tetapi harus ada tim ahli yang turun ke lokasi, dan saat ini tinggal menunggu tim dari Jakarta," jelas Ketua Tim Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nusa Tenggara Timur, Saleh Goro, seperti dikutip CNNIndonesia.com, Selasa (8/1).

Sebagai langkah selanjutnya, Ketua Tim Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nusa Tenggara Timur, Saleh Goro, mengatakan bahwa timnya akan bergabung dengan tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, TNI Angkatan Laut, DKP, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Alor, serta WWF Indonesia.

"Kami masih menunggu tim dari KKP dan KLH. Mereka berjumlah 20 orang, termasuk tim ahli, untuk sama-sama berangkat ke Alor," kata Saleh Goro, seperti yang dikutip dari Antaranews, Selasa (8/12).

Sebelumnya, World Wide Fund (WWF) Indonesia juga telah mendesak pemilik Kapal Ocean Princes asal Singapura untuk menggantikan segala bentuk kerugian atas kerusakan sejumlah terumbu karang.

Untuk itu, tim masih menghitung kerugian yang ditimbulkan oleh kerusakan biota laut tersebut.

"Biaya tersebut yang harus ditanggung oleh pemilik kapal untuk perbaikan ekosistem terumbu karang, termasuk jika ada kerugian yang dirasakan oleh masyarakat sebagai dampak dari kerusakan tersebut," kata Project Leader WWF Indonesia Muhammad Erdi Lazuardi, seperti dikutip Sindonews, Kamis (3/1).

Karenanya, hingga kini Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTT melarang Ocean Princess untuk tinggal meninggalkan wilayah hingga investigasi selesai dilakukan.

"Kami sudah mengirim surat kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kalabahi, untuk tidak mengeluarkan surat izin berlayar kepada Ocean Princess sampai selesai dilakukannya investigasi disertai pertanggungjawaban dari perusahaan," tegas Kepala DKP NTT Ganif Wurdiyanto di Kupang, seperti dikutip Antaranews, Selasa (8/1).

Adapun kapal Ocean Princess karam dengan muatan berupa bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Kapal yang dinahkodai Kapten Ahira Sroyer dan 18 anak buah kapal (ABK) itu berangkat dari Dili, Timor Leste, menuju Singapura.

Pemeriksaan terhadap kapal karam tersebut sempat tertunda karena petugas dari Kupang baru tiba di Alor lima hari kemudian.

Menurut pengakuan kapten saat pemeriksaan, kapal karam akibat kerusakan pada mesin induk sehingga tidak bisa dikendalikan dan akhirnya karam di sana.

Kapten kapal juga tidak mengetahui bahwa kapal mereka karam di wilayah konservasi. Dia juga mengaku bahwa karamnya kapal langsung dilaporkan ke kantor pusat di Singapura beserta titik koordinatnya.

Kelak kapal itu juga tidak akan diproses secara hukum karena peristiwa tersebut dikategorikan sebagai musibah.