press enter to search

Kamis, 27/06/2019 17:34 WIB

Menelusuri Jejak Keturunan Indonesia Asal Bawean di Vietnam

| Jum'at, 11/01/2019 02:13 WIB
Menelusuri Jejak Keturunan Indonesia Asal Bawean di Vietnam

HO CHI MINH (aksi.id) - Ratusan orang keturunan Indonesia yang berasal dari Pulau Bawean tinggal di Ho Chi Minh Vietnam, sejak masa pemerintah kolonial Belanda.

Tujuan mereka datang ke Vietnam berbeda-beda, ada yang merantau dan ada juga yang bekerja untuk pemerintah kolonial Prancis yang berkuasa di Vietnam.

Sebagian besar tak dapat pulang ke kampung halaman karena tidak memiliki dokumen kewarganegaraan dan tak lagi memiliki hubungan dengan kerabat di Pulau Bawean, Jawa Timur.

Bawean adalah pulau yang terletak di Laut Jawa, sekitar 120 kilometer sebelah utara Gresik. Secara administratif, pulau ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Gresik.

mudah menemukan komunitas keturunan Indonesia di Vietnam. Terutama di kota Ho Chi Minh. Maklum, di kota terbesar kedua di Vietnam itu hampir seluruh penduduknya merupakan masyarakat asli dari etnis Vietnam. Kira-kira 90 persen. Sisanya adalah komunitas Tionghoa dan etnis minoritas yang lain.
 
Namun, pencarian itu seakan menemui titik terang jika sudah sampai di salah satu masjid yang berada di dekat pusat kota Ho Chi Minh City. Masjid tersebut bernama Masjidil Rahim, atau banyak orang di Ho Chi Minh menyebut Masjid Malaysia-Indonesia.
 
Sebab, dalam sejarahnya, masjid tersebut dahulu dibangun oleh komunitas pendatang dari Malaka (Malaysia) dan Indonesia. Masjid tersebut berada di District 1, tepatnya di 45 Nam Ky Khoi Nghia. Letaknya cukup dekat dengan pusat keramaian. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit dari Ben Thanh Market yang merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Ho Chi Minh City. Dari terminal bus kota Ben Thanh juga bisa naik bus atau transportasi umum yang lain.
 
Meski disebut Masjid Malaysia-Indonesia, sekilas tidak tampak nuansa Malaysia maupun Indonesia di kawasan tersebut. Malah kawasan itu tidak ada yang berbeda dengan blok permukiman penduduk asli. "Hampir seluruh warga yang bermukim di sini merupakan keturunan Indonesia, dari Pulau Bawean," ujar Imam Masjidil Rahim Haji Ali bin Ahmad.
 
Walaupun didominasi keturunan dari Bawean, jangan berharap bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Saat Jawa Pos mencoba berkomunikasi dengan warga setempat menggunakan bahasa Inggris ataupun Indonesia, tak ada satu pun yang bisa menjawab. Mereka lebih bisa berkomunikasi dengan bahasa Vietnam.
 
Bahkan, imam masjid juga tidak bisa berbahasa Inggris maupun Indonesia. Untungnya, Jawa Pos mendapat bantuan dari salah seorang mahasiswa muslim Vietnam yang alumnus Universitas Brawijaya Malang Mohammed Yusuf. Dialah yang menjadi penerjemah.
 
Haji Ali mengatakan, saking jauhnya garis keturunan serta kebiasaan sehari-hari menggunakan bahasa Vietnam, bahasa Indonesia, bahasa Jawa, atau bahasa Madura (bahasa sehari-hari warga Bawean) tidak lagi dikenal. "Kalaupun bisa, itu hanya orang-orang yang berusia di atas kepala tujuh. Itu pun harus dilakukan dengan berbicara pelan-pelan," tutur kakek 84 tahun itu.
 
Sejarah kedatangan warga Bawean di Ho Chi Minh sama dengan tahun berdirinya masjid tersebut. Masjid itu dibangun pada 1885 oleh sekelompok buruh karet dari Indonesia. Nah, kelompok itu kemudian membaur dengan masyarakat setempat menjadi komunitas baru.
 
Di antara 400-an jiwa warga yang menghuni blok permukiman sekitar masjid itu, 95 persen adalah keturunan Bawean. Lima persen sisanya dari etnis Melayu dan warga asli Vietnam yang sudah berkeluarga dengan keturunan Bawean. "Semua menganut agama Islam," ujar kakek empat cucu itu.
 
Budaya Islam Indonesia di masjid tersebut memang perlahan mulai luntur seiring dengan perkembangan zaman. Namun, tidak seluruhnya hilang begitu saja. Masih ada beberapa tradisi umat Islam di Indonesia yang kerap diselenggarakan di masjid itu. "Terutama saat perayaan hari-hari besar agama Islam," ungkap sesepuh masjid Haji Raden Musa bin Haji Habib.
 
Ragam kesenian seperti seni musik hadrah dengan menggunakan alat musik rebana atau kendang tetap dipertahankan. Meskipun, intensitasnya sudah tidak seperti dulu lagi.
 
Menurut Haji Raden Musa, sepuluh tahun lalu di masjid tersebut memiliki grup musik hadrah. "Sekarang semua sudah tidak ada lagi. Kami merasa kesulitan mencari sumber pendanaannya. Mungkin sekarang yang paling sering ya pas perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW saja. Itu saja yang memainkan ya kaum tua semua," ungkap kakek berusia 85 tahun itu.
 
Dari segi budaya, saat ini mereka masih mempertahankan arsitektur muslim Indonesia. Itu bisa dilihat dari ukir-ukiran yang banyak menghiasi masjid tersebut. Sedangkan lainnya dipertahankan dari perangkat pernikahan, mulai dekorasi hingga riasan.
 
Lantas, apakah selama ini belum ada sentuhan dari pihak Konsulat Jenderal RI di Ho Chi Minh City? Mereka bersepakat menjawab sudah tidak ada lagi. Pembangunan selama ini lebih menggantungkan dari sumbangan warga setempat dan donatur dari pengusaha yang ada di sekitar lokasi itu. Kali terakhir masjid tersebut direnovasi secara besar-besaran tiga bulan lalu.
 
Bukan hanya dari segi pendanaan, mereka pun merindukan kunjungan rutin yang biasa dilakukan para petinggi konsulat. Haji Ali mengungkapkan, 7-8 tahun silam masjid itu kerap dikunjungi petinggi atau staf dari Konjen RI. Biasanya mereka menggelar acara diskusi maupun mengisi khotbah salat Jumat. "Minimal masih ada stafnya yang salat di sini. Daripada sekarang tidak ada sama sekali," ucap Haji Ali.
 
Tidak mau lupa dengan asal usul budayanya, mereka mulai mengenalkan kembali nilai-nilai budaya Indonesia kepada generasi mudanya. Tugas tersebut dibebankan kepada pemuda lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta 2006, Muhammad Ali.

 

Bawean
Fatima dan Imam Ally keturunan Bawean yang tinggal di Ho Chi Minh Vietnam.

 

Jadi Warga Vietnam

Menurut cerita sang nenek pula, Fatima mengetahui keturunan Bawean di Vietnam sempat sulit mengurus identitas kewarganegaraan mereka.

“Pas mereka bikin kartu (KTP) itu ga boleh karena tidak jelas asalnya dari mana, tetapi karena sudah lama di sini akhirnya diakui oleh pemerintah,” jelas Fatima.

Hampir seluruh keturunan Bawean yang tinggal di Vietnam tidak memiliki identitas sebagai WNI karena mereka tiba negara tersebut ketika Indonesia belum merdeka.

Masalah kewarganegaraan ini muncul setelah Vietnam Selatan yang didukung Amerika Serikat dikalahkan oleh Vietnam Utara pada 1975.

Perubahan situasi politik dan keamanan di Vietnam membuat keturunan Bawean di Ho Chi Minh merasa khawatir, apalagi banyak juga dari mereka yang bekerja dengan AS.

Malte Stokhof mengatakan sejumlah keturunan Bawean di Vietnam berupaya untuk pulang, tetapi terkendala dokumen dan terputusnya kontak dengan keluarga di kampung halaman.

"Sebagian besar dari mereka tidak memiliki dokumen dan tidak bisa pulang ke Indonesia. Yang berhasil mengontak kerabatnya dapat pulang ke Bawean, tetapi jumlahnya sedikit sekali karena alat komunikasi yang sangat terbatas pada masa itu," jelas Stokhof.

Vietnam
Keturunan Bawean di Vietnam diperkirakan mencapai 400 orang.

Stokhof mengatakan bagi orang-orang Bawean yang memilki dokumen yang dikeluarkan pemerintah kolonial Prancis pun mengalami kesulitan.

"Dalam dokumen itu mereka disebut sebagai etnis Melayu. Lalu kantor Kementerian Luar Negeri Vietnam mengatakan mereka itu Ma`alay yang artinya warga Malaysia. Selanjutnya mereka pun mendatangi perwakilan pemerintah Malaysia, tetapi ditolak karena mereka juga bukan warga negara di sana," jelas Stokhof.

Akhirnya mereka pun kembali ke kantor Kementerian Luar Negeri Vietnam dan akhirnya ditawarkan untuk menjadi warga negara Vietnam.

Akan tetapi masalah kembali muncul ketika akan mencantumkan etnisitas.

"Ketika mereka sebut berasal dari suku Bawean, tidak dikenal di Vietnam lalu ditawarkan dicantumkan sebagai etnis Cham karena sama-sama Muslim. Tetapi karena bukan orang Cham maka mereka pun menolak, akhirnya setelah pembahasan yang panjang dalam kolom suku di kartu identitas orang Bawean disebut Indonesia, padahal kan itu bukan suku tapi nama negara asal," kata Stokhof.

Enggan pulang

Keturunan Bawaen yang besar atau lahir di Vietnam ada juga yang kemudian pindah ke negara lain seperti Singapura dan juga Prancis yang pernah berkuasa di Vietnam. Salah satunya adalah Nur Jannah Binti Abubakar, keturunan Bawean asal Vietnam yang telah menjadi warga negara Singapura.

Nur Jannah berada di Ho Chi Minh pada pertengahan Juni lalu untuk mengurus bisnis kafe dan penginapan yang berlokasi di dekat Masjid Al Rahim.

Dia mengatakan kakeknya tiba di Vietnam ketika negara itu berada dalam jajahan Prancis. Kakeknya kemudian menetap di Ho Chi Minh.


Nur Jannah Binti Abubakar keturunan Bawean kelahiran Vietnam yang jadi warga negara Singapura.

Tetapi kekalahan pemerintah kolonial Prancis menyebabkan situasi keamanan Vietnam tidak pasti, sehingga ayahnya memutuskan untuk mengungsi ke Paris bersama anak-anaknya, kecuali Nur Jannah.

"Saya waktu itu sudah menikah dengan orang Singapura dan menjadi warga negara di sana. Adik saya ada yang ikut ayah ke Paris, lalu ada juga yang menetap di AS," jelas dia.

Meski demikian, Nur menceritakan ayahnya memintanya untuk tetap berhubungan dengan kerabat yang berada di Pulau Bawean.

“Saya ke Bawean untuk bertemu dengan kerabat dan juga beberapa kali nyekar ke makam keluarga, " jelas dia.

Berbeda dengan keturunan Bawean di Vietnam yang tak lagi kenal tradisi leluhur, Nur mengatakan keturunan Bawean yang tinggal dan menjadi warga negara Singapura masih berhubungan dengan kerabat di kampung halaman dan menjalankan tradisi Bawean.

Imam Ally mengatakan anak-anaknya lebih merasa sebagai orang Vietnam dibandingkan Indonesia. Sementara dirinya tidak ingin kembali ke Bawean karena tidak mengetahui apakah masih ada kerabat di sana dan khawatir jika kembali malah hidup susah.

(dien/sumber: BBC Indonesia dan Jawa Pos).