press enter to search

Kamis, 27/06/2019 05:42 WIB

Obat ARV Langka, Puluhan Ribu ODHA di Indonesia Ketakutan

| Jum'at, 11/01/2019 04:03 WIB
Obat ARV Langka, Puluhan Ribu ODHA di Indonesia Ketakutan “ARV merupakan satu-satunya obat yang dapat memperpanjang harapan hidup kami,” ujar Koordinator Nasional organisasi perempuan ODHA Ikatan Perempuan Positif Indonesia Baby Rivona.

JAKARTA (aksi.id) - Organisasi perempuan mengungkapkan banyak orang dengan HIV AIDS (ODHA) yang ketakutan dengan terbatasnya obat Antiretroviral (ARV) jenis Tenofovir, Lamivudin dan Efavirenz (TLE).

“ARV merupakan satu-satunya obat yang dapat memperpanjang harapan hidup kami,” ujar Koordinator Nasional organisasi perempuan ODHA Ikatan Perempuan Positif Indonesia Baby Rivona.

Sejak tender dan lelang terbatas yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dengan dua perusahaan BUMN PT Kimia Farma dan PT Indofarma Global Medika gagal, menurut Baby, stok obat ARV jenis TLE hanya tersedia hingga April 2019 saja.

Catatan Kementerian Kesehatan RI, hingga Agustus 2018 terdapat 43.586 atau 41 persen ODHA yang mengkonsumsi obat ARV jenis TLE.

Di 13 dari 28 provinsi wilayah kerja Ikatan Perempuan Positif Indonesia, ungkap Baby, bahkan kekosongan obat itu sudah terjadi sejak enam bulan lalu.

Jika ODHA tak mengonsumsi obat ini, kata Baby, ancamannya adalah virus akan lebih resisten dan mereka harus mengonsumsi obat yang lebih mahal.

Ancaman jangka panjangnya, lanjut Baby, adalah kematian.

Baby mengungkapkan jika organisasinya banyak berupaya mengeliminasi agar tidak terjadi inveksi HIV dan AIDS baru.

Upaya itu dilakukan dengan memberikan obat ARV pada ibu hamil terinfeksi agar virus itu tak menular ke bayi yang dikandungnya.

“Kami memantau hingga anaknya lahir,” kata Baby.

Hingga kini, Ikatan Perempuan Positif Indonesia telah mendampingi 136 perempuan hamil dan berhasil menghindari bayi terlahir positif HIV/AIDS.

“Jika obat langka begini, bagaimana ibu hamil itu bisa menghindari anaknya tidak tertular,” kata Baby.

ARV Community Support Ria Pangayow mengungkapkan di 23 wilayah dampingannya, kekosongan obat itu sudah terjadi sejak Agustus 2018 lalu.

Padahal umumnya Puskesmas menerima sekitar lima orang pasien HIV/AIDS baru setiap harinya.

“Pemerintah harus menjamin agar persoalan kelangkaan ini bisa segera diselesaikan,” kata Ria.

RATUSAN RIBU PENDERITA

Sebelumnya diberitakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan, di Indonesia ada 300 ribu ODHA yang tercatat, namun diperkirakan baru 100 ribu dari mereka yang disiplin minum obat Anti Retro Viral (ARV).

Jika melihat dari contoh Ibu Kota Jakarta saja, berdasar data LSM KOTEX saat ini tercatat ada 45 ribu ODHA. Angka itu diprediksi akan lebih besar lagi karena banyak ODHA lainnya yang masih menutupi statusnya. Alasannya takut menghadapi stigma di masyarakat.

“Bisa jadi saudara atau tetangga kita. Atau 1-2 blok dari rumah kita ada yang HIV positif. Kan enggak ada labelnya, jadi tak diketahui,” ujar Pegiat HIV AIDS dari LSM KOTEX Yudi Syahendra saat Workshop Kepatuhan Warga Binaan (Lapas) dengan HIV Positif dalam Pengobatan ARV bersama Perawat dan Dokter.

Yudi menargetkan, dari 9 ribu sasaran ODHA minum ARV, ada 8.956 yang tingkat kepatuhan minum ARVnya tergolong baik. Dirinya juga mengimbau kepada para kelompok Lelaki Suka Lelaki (LSL) agar patuh mengusung hidup sehat dan perilaku seks yang sehat.

“Saat ini ODHA justru semakin banyak didominasi LSL. Harusnya mereka lebih perhatian lagi, misalnya selal memakai kondom saat berhubungan badan,” jelasnya.

Sumber: Anadolu Agency dan Jawa Pos.

Keyword HIV AIDS