press enter to search

Kamis, 27/06/2019 17:02 WIB

Kisah Perjuangan Triyono, Penggagas Ojek Online Difabel

Redaksi | Jum'at, 11/01/2019 15:01 WIB
 Kisah Perjuangan Triyono, Penggagas Ojek Online Difabel Triyono dan ojek online difabel. (ist)

YOGYAKARTA (aksi.id) -  Triyono di kantor Difa Bike di Jalan Bugisan, Wirobrajan, Patangpuluhan, Yogyakarta berkisah tentang perjuangannya dalam mensyukuri kehidupan, melawan tindakan bullying.

Dia juga bercerita kisah berbisnis hingga berguna untuk orang sekitar dengan membuat membuka lapangan pekerjaan bagi kaum difabel agar tetap mandiri dalam berkarya.

Berikut petikan wawancara:

Apa yang ada alami sehingga bisa mengalami kelumpuhan di kaki?

Saya dulu awalnya terlahir normal, masuk usia 2 tahun saya mengalami panas yang sangat tinggi. Saya nyaris meninggal waktu itu, sudah 39 derajat waktu itu.

Lalu dibawa ke rumah sakit. Ternyata setelah panasnya turun malah beberapa organ gerak saya mati. Jadi saya hanya bisa gerak sedikit. Kemudian terapi, sudah mulai gerak tangan dan menoleh. Tapi setelah dicek lagi, ternyata ada kerusakan permanen karena serangan virus polio.

Mungkin waktu itu imunitas saya menurun karena step tadi, virus polio kan dari lingkungan sekitar bisa menyerang siapa pun, pas fisik saya sedang collaps. Masuk usia 5 tahun baru keliatan badan saya tumbuh tapi kaki saya masih kecil.

Tapi sebenarnya dari segi kasih sayang keluarga saya nggak ada perbedaan dengan anggota keluarga yang lain, saya bersyukur karena tidak semua difabel mendapatkan apa yang saya rasakan.

Ditolak masuk SD 2 Kali.

Saat memasuki masa sekolah saya mengalami banyak hambatan, 2 kali ditolak masuk SD (Sekolah Dasar) negeri dekat rumah. Akhirnya saya ke SLB (Sekolah Luar Biasa) pada 1988.

Setelah masuk SLB, saya tetap berniat masuk ke SD karena saya melihat kompetensi di SLB kan kurang. Akhirnya saya ingin ke SD yang kompetensinya ada dan teman-teman saya satu kampung kan di situ, sedangkan SLB itu beda wilayah sangat jauh dan saya tidak merasa menikmati dunia anak-anak saya.

Demi bisa masuk ke SD, kemudian ada ditawari operasi kaki dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM di Kaliuang, Jogja pada 1990, saya pikir kalau udah operasi bisa jalan normal, ternyata tidak seperti itu.

Tantangan selanjutnya Anda mengalami bullying dari di lingkungan sekolah...

Bully itu pasti, seperti buah simalakama. Tapi saya berani ya, ketika saya dihina saya balik menghina, saya kalahnya kalau jauh-jauhan. Kalau deket saya berani melawan.

Ibu saya yang bikin saya semangat percaya diri. Dari sekali ia memotivasi, "jadi kalau kamu dihina atau dilukai orang lain lawan aja atau bilang ibu", ibu selalu bilang gitu.

Anda merupakan Sarjana Peternakan, bagaimana anda bisa memilih mendirikan Difa Bike?

Awalnya Difa Bike ini tidak sengaja, memang jauh dari peternakan. Saya juga tidak ingin jadi PNS atau pegawai, ya saya dari awal memang ingin jadi pengusaha. Tapi saya sadar usaha itu tidak lahir begitu saja, insting harus dilatih, keterampilan, jatuh bangun.

Saya sadar dengan resiko itu, saya mulai dari kuliah belajar dagang, setelah lulus kuliah saya sempat bisnis peternakan dan konsulting. Jadi beberapa design set up peternakan mulai dari buat pakan. sistem produksi hingga pengolahan limbah saya bangun disana karena ilmu saya di sana.

Saya juga punya peternakan sendiri di Solo. Tapi mulai bangkrut pada 2012, perusahaan saya alihkan ke konsulting dan resto. Saya harus terus berjalan walau sempat bangkrut.

Tahun 2013 saya bantu set up resto teman, warung jus, warung susu, ya tidak jauh dari produk peternakan juga.

Kemudian 2014 itu saya mulai masuk ke dunia difabel. Waktu itu tidak sengaja juga, saya lagi salat di masjid daerah Denggung, Sleman.

Saya bertemu dan diskusi dengan seorang difabel, Muryanti, ternyata apa yang saya alami bertolak belakang dengan apa yang mereka alami. Mereka terpaksa nggak sekolah, tidak diurus keluarganya, bahkan untuk pergi ke sana-sini harus menunggu belas kasihan orang.

Dari situ saya mulai mendalami, ternyata saya beruntung sekali SD-SMA diantar jemput sama orangtua. Ke mana-mana diantar, nggak susah. Tapi mereka cuma mau beli pulsa atau ke warung saja susah.

Kemudian dari situ karena saya punya lumayan banyak jaringan pengusaha di Jogja banyak yang kenal. Lalu saya membuat program iseng-iseng, namanya program Mobilitas Tanpa Batas.

Jadi difabel-difabel yang kurang beruntung itu saya bantu motor, kerja sama dengan Rumah Singgah Sedekah Rombongan. Mulai tiga motor, awalnya bahkan hanya untuk mobilitas mereka saja.

Lalu saya berfikir, bagaimana jika mereka bisa mendapatkan nafkah dan berkarya dengan motornya. Kemudian saya dekati beberapa pihak termasuk ojek online yang besar, tapi kan standarnya tidak bisa difabel dimasukkan ke sistem mereka. Mereka adanya roda dua dan roda empat.

Setelah itu Difa Bike dirilis, apa tantangan pertama yang Anda hadapi?

Difa Bike ini mulai Februari 2015 dan resmi dirilis pada Desember 2015. Segitu lamanya rilis karena saya sempat bingung, harus mempelajari satu demi satu individu, harus menggabungkan aksi sosial dengan bisnis. Saya pun latih driver-driver ini, bagaimana mereka harus bisa melayani orang. Mulai dari omongan, kerapian, keberaniannya untuk berinteraksi. Selain itu saya juga harus mencetak pribadi mereka.

Layanan apa saja yang ditawarkan Difa Bike?

Selain ojek orang, kami juga menerima layanan kargo antar jemput barang.

Berapa tarif yang diterapkan Difa Bike?

Dalam satu kali order, Difa Bike menerapkan tarif 5 km pertama Rp 20.000, kilometer selanjutnya dikenakan tambahan Rp 2.500 per km

Lalu masa tunggu Rp 10.000 per jam. Tapi kan tidak semua penumpang sesuai regulasi bayarnya. Kebutuhan difabel kan bukan hanya makan minum, mereka kadang berobat terapi dan sebagainya juga butuh uang banyak.

Sementara itu untuk city tour, tarif dimulai dari Rp 150.000 dengan tiga rute yang sudah disiapkan. (ds/sumber: suara.com)

Keyword Ojek Difabel

Artikel Terkait :

-