press enter to search

Kamis, 27/06/2019 05:23 WIB

Masih Belum Ditemukan, Kapal Tanker MT Namse Bangdzod Ternyata Pernah Dibajak di Laut Jawa 8 Tahun Lalu

| Jum'at, 11/01/2019 20:20 WIB
Masih Belum Ditemukan, Kapal Tanker MT Namse Bangdzod Ternyata Pernah Dibajak di Laut Jawa 8 Tahun Lalu

SAMPIT (aksi.id) – Susah lewat hari ke-5 semenjak dinyatakan kehilangan kontak terhadap kapal tanker MT Namse Bangdzod pemuat Crude Palm Oil (CPO) di Pelabuhan Bagendang Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) hingga kini belum ada kejelasan terkait dimana posisi kapal dan keadaan 12 anak buah kapal (ABK).

BeritaTrans.com dan Aksi.id menelusuri data ternyata Namse Bangdzod pernah menjadi korban perompakan di Laut Jawa.

Kapal yang mengangkut sebanyak 1.800 ton bahan bakar minyak dari Surabaya dengan tujuan Samarinda dibajak di Laut Jawa kemudian diarahkan untuk dibuang di perairan Singapura dan ditemukan oleh Kapal Patroli Police Guard Singapura, Rabu, 20 April 2011.

Nakhoda MT Namse Bangdzod , yang dibajak oleh dua kapal yakni MT 3 Dolphin dan MT Tere, sempat menluncurkan parasut darurat (emergency) untuk meminta pertolongan kepada Kapal Patroli Police Guard Singapura di perairan perbatasan Singapura

Nasib baik parasut terakhir yang saya tembakkan, langsung direspon pihak Police Guard Singapura yang saat itu lagi patroli," kata Kapten Kapal MT Namse Bangdzod, Abdul Yusuf (37) kepada batamtoday, Jumat 22 April 2011, di halaman Markas Dit. Polair Polda Kepri, Sekupang dengan didampingi beberapa awak kapalnya.

Yusuf mengatakan, awalnya setelah kapal MT Namse Bangdzod ditinggal begitu saja setelah seisi kapal digasak oleh dua kapal pembajak yakni tanker MT 3 Dolphin dan MT Tere di perairan Singapura (OPL). Dirinya terlebih dulu melepaskan ikatan ke 13 anak buah kapal (ABK) di ruangan istirahat kapten yang dijadikan tempat penyanderaan.

Masih kata Yusuf, karena respon cepat oleh kapal Police Guard Singapura, akhirnya diketahui ternyata posisi kapal MT Namse Bangdzod sudah berada di perairan Singapura.

"Ketika itu, kebetulan kapal Patroli Police Coast Guard Singapura sedang melakukan patroli rutin. tetapi kami tetap bersukur, karena mereka langsung memberikan pertolongan kepada kami," syukur Yusuf.

BELUM DITEMUKAN

Di awal tahun ini, kapal tersebut kembali dinyatakan hilang. Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sampit Capt. Thomas Chandra melalui Baslan Damang selaku Kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP) mengatakan, kapal itu resmi dinyatakan hilang kontak dengan posisi terakhir di perairan Ujung Karawang arah Tanjung Priok pada 1 Januari 2019.

Dia menuturkan pencarian langsung diambil alih oleh Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

“Kasus ini telah ditangani oleh pihak pusat setelah dinyatakan lost contact (kehilangan kontak) di Laut Jawa. Jadi oleh Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Indonesia (KPLP), Basarnas, Syahbandar Utama Tanjung Priok, TNI kini sedang melakukan pencarian terhadap kapal Namse Bangdzod tersebut,” kata Baslan Damang, Jumat (11/1/2019) melalui via WhatsApp dan dirilis beritasampit.co.id.

Bukan hanya pihak terkait, akan tetapi dalam hal pencarian pihak pemilik kapal MT Namse Bangdzod juga ikut serta melakukan pencarian. Semenjak dinyatakan lost kontak pada 1 Januari 2019 hingga saat ini belum diketemukan, berarti kapal MT Namse Bangdzod berikut dengan 12 ABK sudah menghilang selama 15 hari.

Ketika disingung, apakah kapal tersebut hilang karena rampok atau sengaja dihilangkan. Baslan Damang menegaskan, ia tidak berani memberikan komentar karena masih dalam proses pencarian.

“Saya tidak bisa komentar, apakah kapal itu dirampok, atau sengaja dihilangkan. Mudahan-mudahan akan segera ada titik terangnya, karena sampai saat ini kami juga masih menunggu informasi keberadaan kapal itu. Saat ini pencarian dipusatkan pada dua titik, yakni di perairan laut Jakarta dan laut Jawa,” terang Baslan.

Berikut nama-nama ABK Kapal MT Namse Bangdzod, Muhammad Asdar Wijaya selaku capten, Yanuardin Mendrofa dan Husni Mubarak sebagai mualim, Andi Tasyriq sebagai KKM, Satria Idam Sulistio dan Bambang Mulyono sebagai masinis, Agustinus Piter, Asrun Suriansa dan Dahar sebagai juru mudi, serta Wardani, Ardiyanto dan Dwi Wahyu Sabtono sebagai juru minyak.