press enter to search

Selasa, 01/12/2020 00:35 WIB

Masalah Pembangunan LRT Jabodetabek

Redaksi | Selasa, 15/01/2019 07:06 WIB
Masalah Pembangunan LRT Jabodetabek Darmaninstyas (Direktur Instrans dan pengamat transportasi)

JAKARTA (Aksi.id) – Proses pembangunan LRT (light rail transit) Jakarta – Bogor – Depok – Bekasi (Jabodebek) tiba-tiba memperoleh gugagatan, salah satunya dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sementara, pembangunan proyek tersebut sudah hampir selesai dan siap dioperasikan.

“Pak JK menggugat dua hal, yaitu harganya yang katanya terlalu mahal (Rp 500 miliar per kilometer). Dan, mengapa pilihannya elevated (layang),” kata Direktur Instran dan pengamat transportasi Darmaningtyas kepada BeritaTrans.com di Jakarta, kemarin.

Sebagai aktivis yang mengamati proses pembangunan LRT ini sejak awal, menurutnya, sejak Presiden Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Tyas, sapaan akrab dia, ingin mencoba menjelaskan berdasarkan akal sehat, bukan secara teknis karena kalau secara teknis bukan kapasitas dia.

Pertama, lanjut pamong Perguruan Taman Siswa itu, adalah soal harga. Cara melihat biaya yang dikeluarkan untuk membangun LRT ini bukanlah hanya melihat biaya yang dipakai untuk konstruksi jalurnya, tapi secara keseluruhan konstruksi, yaitu 1). Pekerjaan struktur jalur, 2). Pekerjaan trackworks,

3). Pekerjaan Railway System (Power Supply System, Signalling System, Telecomunication System, SCADA, Passenger Screen Door), 4). Pekerjaan Stasiun, dan 5). Pekerjaan Depo 10 Hektar. Untuk LRT Jabodebek harga untuk pekerjaan itu semua adalah Rp467 miliar per km.

Harga ini masih lebih murah bila dibandingkan dengan LRT DKI Jakarta dan infrastruktur LRT sejenis di luar negeri, termasuk line-3 Kuala Lumpur yang beberapa kali melakukan studi banding dan meminta bantuan engineer ke Adhi Karya.

Alternatif Pembangunan LRT

Menurut Tyas, biaya pembangunan LRT/MRT yang paling murah adalah bila dibangun at grade, lalu termurah kedua adalah layang, sedangkan paling mahal adalah underground.

Hal lain yang mempengaruhi cost civil structure adalah besaran koefisien gempa yang sangat tergantung lokasinya, misalnya Indonesia lebih tinggi dibanding Singapore; Jakarta lebih tinggi dibanding dengan Palembang yang sangat berpengaruh pada perhitungan civil structure-nya.

Selain type civil structure, menurut Tyas, biaya pembangunan angkutan massal berbasis rel juga tergantung pada railway system yang dipakai. Diantaranya sistem otomasi dan signaling system-nya, sistem otomasi dibagi menjadi beberapa grade: misal GoA 0 (Grades of automation level 0) seperti yang dipakai oleh KRL dan LRT Jakarta Jakpro, sedangkan LRT Jabodebek direncanakan dengan GoA level 3 (Driverless with attendance).

Sedangkan signaling system juga mempengaruhi biayanya, apakah memakai system fixed block (seperti KRL dan LRT Palembang, Jakpro) atau moving block (MRT dan LRT Jabodebek), sistem ini sangat berpengaruh pada headway (frequensi lalu kereta/jarak lalu kereta) yang ingin dicapai yang mempengaruhi kapasitas angkut, bila menggunakan moving block headway 2-3 menit bisa dicapai.

“Masih banyak lagi faktor-faktor lain yang mempengaruhi biaya, misal: Jenis dan spesifikasi rolling stock/gerbong yang dipakai; luasan dan fasilitas depo; jumlah bentang panjang, fasilitas stasiun : Passenger Screen Door, Elevator, Lift etc,” terang Tyas.

Jadi kalau kita akan membandingkan harga (LRT), tambah Tyas maka harus dipastikan perbandingannya dilakukan secara apple to apple; dengan menggunakan elevated structure, serta memperhatikan jumlah long span (bentang panjang) harga 40-50 juta USD/km merupakan harga yang kompetitif untuk di Indonesia.(helmi/adinda)