press enter to search

Selasa, 01/12/2020 00:33 WIB

Ini Pertimbangan Rasional Mengapa Proyek LRT Jakarta Dibangun Elevated

Redaksi | Rabu, 16/01/2019 11:04 WIB
Ini Pertimbangan Rasional Mengapa Proyek LRT Jakarta Dibangun Elevated Darmaninstyas (Direktur Instrans dan pengamat transportasi)

JAKARTA (Aksi.id) – Persoalan model pembangunan LRT Jakarta yang layang (elevated) bukan tanpa alasan. Tentu dengan memperhatikan kondisi geografis serta kondisi lalu lintas jalan yang ada di Jakarta. Sekaligus juga mengurangi potensi kecelakaan di perlintasan sebidang KA.

“Tingkat Atomasi yang di-design untuk LRT Jabodebek adalah GOA (Grade of Automation) level 3, saat ini sebagian besar KA di Indonesia masih GOA 0 ataupun 1,” kata Direktur Instran dan pengamat transportasi Darmaningtyas kepada BeritaTrans.com di Jakarta.

Seperti diketahui, lanjut dia, infrastruktur LRT dapat dibangun dengan berbagai cara :

1.At grade (di atas tanah langsung) seperti jalur kereta api yang ada selama ini, termasuk jalur KRL Jabodebek (commuter line).

2.Elevated (dengan menggunakan jalur layang) ini yg dipakai di LRT Palembang, Jakarta dan Jabodebek serta sebagian MRT Jakarta, komuter line di daerah Gondangdia hingga Jayakarta.

3.Underground (bawah tanah) ini dipakai oleh sebagian jalur MRT )Bundaran Senayan – Hotel Indonesia)
Pemilihan cara di atas sangat tergantung pada ketersediaan lahan, kebijakan tata ruang, dan kapasitas angkut yang direncanakan (perlintasan sebidang).

Pertimbangan konstruksi LRT Jabodebek elevated, menurut Tyas, sapaan akrab dian antara lain:
1.Menghilangkan perlintasan sebidang dengan jalan raya, sehingga kapasitas jalan akan tetap terjaga tinggi karena tidak ada gangguan kereta lewat, serta menghindari kecelakaan lalu lintas kecelakaan yang sering terjadi.

Saat ini bahkan muncul wacana untuk membuat Commuter Line elevated mengingat ketika at grede banyak hambatan dan tidak dapat meningkatkan headway menjadi lima menit karena akan berdampak pada kemacetan jalan raya sepanjang hari. 

2.Model elevated dapat memastikan frequensi perjalanan kereta dapat maksimum karena tidak mendapat gangguan dan juga tanpa menggangu jalur lalu lintas lain.

3.Banyak flyover dan JPO yang di lewati sehingga posisinya yang paling tepat adalah di atas (layang);
4.Menjaga kelandaian minimum jalur (maksimum 2%), bila  trase vertikalnya turun naik akan mengurangi kenyamanan penumpang dan juga sarananya membutuhkan power yang besar sehingga boros listrik/biaya operasional dan biaya perawatan.

5.Meminimalkan pembebasan lahan,  (bila at grade, membutuhkan ruang bebas yang lebih luas lagi).

6.Meminimalkan masalah sosial atau gangguan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab seperti halnya yang sering terjadi pada jalur at grade (pencurian sinyal, gangguan pada rel, dan sebagainya);

7.Meminimalkan pembebasan lahan. Bila at grade, membutuhkan ruang bebas dan lebih luas, sementara untuk pembebasan lahan, selain biayanya mahal, juga sering menghadapi masalah social yang sangat besar dan kompleks.

8.Bila konstruksi elevated di atas jalan, maka ruang dibawahnya masih bisa difungsikan setelah konstruksi selesai, sehingga penggunaan lahan lebih efisien.

9.Ruas Tol Cikampek juga dibuat elevated (padahal kriteria jalan tol untuk gradient lebih ringan daripada yang berbasis rel); KCIC juga elevated dan underground di lokasi tol Cikampek.

Kesimpulannya, menurut pamong Perguruan Taman Siswa itu, biaya pembangunan LRT Jabodebek tidak mencapai Rp500 miliar per km dan masih lebih murah dibandingkan dengan LRT Jakarta maupun LRT sejumlah Negara yang membangun LRT.

“Sementara pilihan bangunan LRT yang layang lebih didasarkan pada sejumlah pertimbangan yang rasional dan mengurangi resiko terjadinya kecelakaan di persiangan KA sebidang jima dibangun at grade,” tegas Tyas.(helmi/adinda)