press enter to search

Senin, 20/05/2019 23:28 WIB

Katimun, Biang Kerok Isu Kimat di Probolinggo Dipertemukan dengan Kapolres Batu

Redaksi | Kamis, 14/03/2019 17:24 WIB
Katimun, Biang Kerok Isu Kimat di Probolinggo Dipertemukan dengan Kapolres Batu Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto berdialog dengan para santri. (ist)

MALANG (Aksi.id) - Sosok Katimun, warga Desa Watu Bonang, Probolinggo, Jawa Timur menjadi sentral setelah merebaknya isu kiamat yang berakibat eksodusnya 59 warga desa tersebut ke Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

Saat mengunjungi Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin Dusun Pulosari, Desa Sukosari Kabupaten Malang, Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto, akhirnya menemui Katimun untuk meminta penjelasan kedatangannya bersama puluhan warga desanya.

"Bisa Pak Katimun jelaskan langsung, karena mungkin ada yang salah persepsi, hingga kedatangan Bapak ke sini terkesan ada hasutan atau paksaan," ujar Budi kepada Katimun, seperti dilansir TIMES Indonesia, Kamis (14/3/2019).

Laki-laki yang menjadi pengurus pengajian di Ponorogo tersebut pun akhirnya membantah kalau kedatangannya karena paksaan.

"Karena saya punya jamaah di Ponorogo, akhirnya saya pamitan. Ternyata mereka ikut juga, saya tidak mengajak, mereka ikut sendiri, datangnya secara bertahap menyusul-menyusul begitu,” kata Katimun.

Setelah berdialog dengan Katimun, Budi meninjau dapur dan kemudian menuju ke asrama Putri. Selama lawatan di asrama putri, Budi sempat berdialog dengan beberapa santri putri.

"Kami di sini nyaman, kita datang ke sini untuk menuntut ilmu agama," ujar salah satu santriwati.

Dalam kesempatan tersebut, Budi juga memberikan keterangan mengenai data di Polres Batu yang menyebut ada 59 warga dari Ponorogo, dengan rincian 24 kepala keluarga, 16 istri dan anak yang eksodus.

Dikemukakan Budi, kedatangan warga tersebut pun karena kesadaran sendiri.

"Kedatangan mereka kesini ini dengan kesadaran sendiri, karena ingin mendalami agama,” kata Budi. Kami intinya memang membenarkan sebagian warga Desa Watu Bonang pergi ke salah satu pondok pesantren di Malang," kata dia.

Sementara Kapolres Ponorogo, AKBP Radiant menyampaikan jika isu kiamat bakal datang di Desa Watu Bonang itu bukan disebarkan dari pihak Pondok Pesantren di Kecamatan Kesambon Kabupaten Malang, Jawa Timur.

"Masyarakat itu tahunya dari koordinator di Desa Watu Bonang bernama Katimun. Bukan dari Pondok Pesantrennya yang di Malang," kata Radiant seperti dikutip Beritajatim.com, Kamis (14/3/2019).

Namun demikian, Radiant mengakui jika puluhan warga di Desa Watu Bonang memilih pergi ke pesantren tersebut. Mereka dimungkinkan meninggalkan Desa sejak sebulan yang lalu, hingga rombongan terakhir pada Sabtu (9/3/2019) lalu. Pergi ke salah satu pondok pesantren di Kecamatan Kesambon Kabupaten Malang.

“Kami intinya memang membenarkan sebagian warga Desa Watu Bonang pergi ke salah satu pondok pesantren di Malang," kata dia.

Lebih lanjut, Radiant mengatakan, sejak isu itu mencuat, para warga bahkan terpaksa menjual aset-asetnya di Desa Watu Bonang. Dia menduga, mereka sengaja menjual aset yang dimilikinya itu untuk bertahan hidup selama tinggal di ponpes tersebut.

"Mungkin itu alasannya mereka menjual asetnya,” kata dia.

Radiant juga menyampaikan, masih mendata warga di desa tersebut yang kini memilih menetap di sekitar ponpes di Malang. Berdasarkan keterangan sementara, warga Ponorogo yang ada di Pondok tersebut berjumlah 42 orang. Sedangkan warga yang minggat dari desa itu mencapai 52 orang. (ds/sumber beritajatim/suara.com)