press enter to search

Sabtu, 17/08/2019 18:30 WIB

Laba Telkom Kuartal I Tahun 2019 Rp6,2 Triliun

| Kamis, 02/05/2019 10:57 WIB
Laba Telkom Kuartal I Tahun 2019  Rp6,2 Triliun Pegawai Telkom

JAKARTA (aksi.id) - Emiten BUMN PT Telekomunikasi Indonesia Tbk merilis laporan interim kuartal I-2019 setelah sehari sebelumnya juga melaporkan kinerja tahunan 2018.

Mengacu laporan keuangan kuartal I-2019, induk usaha Telkomsel ini tidak mencatatkan rapor merah karena laba bersih perusahaan mampu naik 8,55% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 6,22 triliun dari kuartal I-2018 sebesar Rp 5,73 triliun.

Pendapatan pada 3 bulan pertama tahun ini naik 7,72% menjadi Rp 34,84 triliun dari sebelumnya Rp 32,34 triliun. Data perdagangan di Bursa Efek Indonesia menunjukkan, kinerja positif ini langsung membuat saham perusahaannaik 1,5% pada perdagangan Kamis pagi ini, di level Rp 3.850/saham.

Sebagai perbandingan, sepanjang tahun lalu laba bersih TLKM anjlok 18,57% YoY menjadi Rp 18,03 triliun dari tahun 2017 yang tercatat Rp 22,14 triliun.

Dari pendapatan kuartal I yang naik tersebut, sebagian besar diperoleh dari segmen usaha mobile yang menyediakan produk mobile voice, SMS, value added service, dan mobile broadband.

Akan tetapi, segmen usaha yang tumbuh paling pesat adalah segmen enterprise. Segmen ini mencakup jasa ke pelanggan korporat dan institusional.

Pendapatan dari segmen enterprise tercatat naik 16,82% YoY menjadi Rp 11,26 triliun dari sebelumnya Rp 9,64 triliun.

Lebih lanjut, kenaikan pada pos beban usaha yang tidak sebesar pertumbuhan pada pos penjualan juga memberi ruang yang mendongkrak laba bersih TLKM.

Hingga akhir Maret 2019, beban usaha perusahaan hanya naik sebesar 6,46% YoY menjadi Rp 23,17 triliun. Rendahnya laju pertumbuhan pada pos beban usaha didukung oleh pos beban karyawan, beban umum, dan beban operasional yang naik kurang dari 5% YoY.

Di lain pihak, pada kuartal I-2019 total aset perusahaan meningkat menjadi Rp 219,11 triliun dari akhir tahun 2018 yang sebesar Rp 2016,2 triliun. Sedangkan, total liabilitas pada periode tersebut juga bertambah sekitar Rp 4,3 triliun menjadi Rp 93,19 triliun.

Telkomsel

Sementara itu, manajemen PT Telekomunikasi Selular Indonesia (Telkomsel) angkat suara soal wacana konsolidasi operator seluler. Anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) ini mendukung konsolidasi yang sesuai dengan undang-undang yang ada.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Ardiansyah mengatakan dalam undang-undang sektor telekomunikasi, konsolidasi yang dimaksud adalah menyatu beberapa perusahaan telco (merger dan akuisisi) bukan penyatuan jaringan atau berbagi (sharing) infrastruktur.

"Kalau kita lihat di beberapa negara, industri telco yang sehat maksimal hanya 3-4 operator. Di Indonesia terlalu banyak pemainnya," ujar Ririek Adriansyah dalam konferensi pers Telkomsel di Hotel Trans Resort Bali, Selasa (30/4/2019).

Namun agar konsolidasi ini berjalan, pemerintah harus memberikan kepastian pada pelaku industri, lanjutnya. Salah satunya terkait nasib spektrum pascamerger atau akuisisi.

"Pada UU yang ada sekarang belum diatur. Jangan sampai terjadi penumpukan spektrum pada satu operator. Spektrum merupakan resources terbatas. Pemerintah perlu merumuskan bagaimana formulasinya [spektrum] yang akan memudahkan konsolidasi ke depannya," ujar Ririek yang juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI).

Ketika ditanya apakah Telkomsel akan ikut berpartisipasi dalam konsolidasi sektor telco, Ririek menyatakan belum punya rencana untuk mengakuisisi perusahaan telco yang lain.

Wacana Konsolidasi Telco Menguat, Ini Kata Bos TelkomselFoto: ist


Hingga saat ini, ada lima operator setelah sebelumnya PT Internux (Bolt) menghentikan layanan dan dialihkan ke Smartfren. Tersisa Telkomsel milik Telkom, Indosat Ooredoo, XL, Smartfren, dan Tri.

Sebagai informasi, Undang Undang Nomor 36 Tahun 1999 Telekomunikasi mengamanatkan, frekuensi adalah milik negara. 

Dengan demikian, jika satu operator berhenti misalnya karena adanya akuisisi, maka frekuensi tersebut arus dikembalikan ke pemerintah. Itu sebabnya merger akuisisi belum terjadi karena itu berarti si pembeli harus mencaplok perusahaan operator tanpa frekuensinya alias kosong.

(fahri/sumber: cnbcindonesia.com).

Keyword Telkom