press enter to search

Senin, 20/05/2019 12:31 WIB

Kapal Korut Wise Honest Bermuatan Batu Bara Ditangkap Indonesia & Disita Amerika

| Jum'at, 10/05/2019 11:25 WIB
Kapal Korut Wise Honest Bermuatan Batu Bara Ditangkap Indonesia & Disita Amerika

WASHINGTON (aksi.id) - Amerika Serikat (AS) mengumumkan mereka telah menyita sebuah kapal yang dipakai Korea Utara ( Korut) untuk melanggar sanksi internasional.

Kementerian Kehakiman AS menyatakan kapal yang dimiliki Korea Songi Shipping Company itu digunakan untuk mengekspor batu bara yang termasuk dalam daftar sanksi PBB.

Dilaporkan AFP Kamis (9/5/2019), kapal itu juga mengimpor mesin berat serta membayar biaya perawatan dan peralatan menggunakan dollar AS yang merupakan bentuk pelanggaran sanksi PBB serta Washington.

 Ini adalah kali pertama kapal kargo Korut bisa ditangkap karena melanggar sanksi dunia setelah beberapa tahun kucing-kucingan dengan menggunakan penyamaran.

The Guardian mewartakan, kapal dengan nama Wise Honest yang dibangun pada 1989 dan berbobot 17.000 ton itu pertama kali ditemukan oleh otoritas Indonesia.

Kapal itu terlihat pada 2 April 2018, atau dua bulan sebelum pertemuan pertama Presiden AS Donald Trump dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un pada 12 Juni di Singapura.

Saat ditemukan, kapal Wise Honest berlayar tidak tentu dan dilaporkan sempat keluar dari jalur pelayaran, serta transponder pelacaknya dimatikan.

Menurut keterangan pejabat setempat, kapal itu penuh dengan batu bara senilai 3 juta dollar AS, sekitar Rp43 miliar, dan teregistrasi berbendera Korut serta Sierra Leone.

Transponder Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) yang dipasang di Wise Honest itu dilaporkan tidak dinyalakan oleh kapten kapal sejak Agustus 2017.

Menurut dokumen Dewan Keamanan PBB, kapten kapal segera ditangkap dan dijerat dengan tuduhan mengetahui dan sengaja menggunakan identitas palsu.

BBC memberitakan segera setelah kapal Wise Honest ditangkap, AS segera merilis laporan penyitaan pada Juli 2018 dengan kapal itu dilaporkan berada dalam perjalanan dari Indonesia.

Asisten Jaksa Agung John Demers mengungkapkan kapal itu saat ini sudah mulai mendekati perairan AS. "Kapal yang dipakai melanggar sanksi ini bakal tak beroperasi lagi," tegas dia.

Dalam keterangan tertulis, Jaksa AS Geoffrey Berman berkata mereka mengungkap skema ekspor berton-ton batu bara berkualitas tinggi dengan menyamarkan pengiriman.

"Skema ini tak hanya membantu Korut menghindari sanksi. Namun mengembangkan kemampuan mereka untuk terus melakukan pelanggaran sanksi," ujar Berman.

Dengan penangkapan dan penyitaan kapal itu, Berman mengklaim AS berhasil mengganggu siklus Korut, dan menegaskan mereka terus berupaya mencegah pelanggaran sanksi Korut.

DI TELUK BALIKPAPAN

Kasus kapal MV Wise Honest itu sebelumnya lego jangkar di Teluk Balikpapan. Perjalanan kapal dengan 25 awak berkebangsaan Korea Utara (Korut) itu terpaksa ditunda karena adanya pemeriksaan dari prajurit dari KRI Terapang pada 4 April lalu. Hingga kemarin, mereka masih berada di kapal MV Wise Honest yang lego jangkar di Teluk Balikpapan. “Proses tetap berlanjut. Sesuai hukum,” tegas Danlanal Balikpapan Kolonel Laut (P) Dewa Oka Susila.

Pangkalan TNI Angkatan Laut Balikpapan yang meneruskan pemeriksaan kasus disebut sudah melayangkan berkas ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Balikpapan. Namun, disebut Dewa, berkas tersebut dikembalikan lagi (P19). Ini karena ada sejumlah pertanyaan yang masih harus dilengkapi pihaknya. “Iya P19. Sudah kami lengkapi apa yang diminta Kejari,” ucapnya.

Disebut Dewa, untuk barang bukti kapal, muatan, surat-surat hingga awak masih tak diizinkan berlayar ke Samarinda. Lantaran belum selesainya kepastian hukum. Meski begitu, pihaknya mengaku belum menetapkan tersangka atas kasus ini karena masih harus berkoordinasi dengan penyidik Kejari. “Belum ada (tersangka). Kami masih fokus pada surat-surat izinnya. Kami juga berharap ini ada tindak lanjutnya agar bisa segera selesai,” kata Dewa.

Sementara dari Kejari Balikpapan, kasus kapal MV Wise Honest dianggap belum memenuhi petunjuk penyidik. Masih ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab Pangkalan TNI Angkatan Laut Balikpapan terkait penundaan pelayaran kapal kargo berbobot 9.904 gross tonnage (GT) itu. “Masih ada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab sehingga bisa memenuhi unsur pasal yang dikenakan,” ungkap jaksa penyidik Agusverry.

Agus menyebut, untuk beberapa sangkaan yang dikenakan kepada nakhoda kapal belum tepat sasaran. Misal, soal kewenangan siapa yang seharusnya melaporkan keberadaan kapal. Semestinya, menurutnya yang melakukan itu adalah agen kapal. Sementara nakhoda hanyalah orang yang menerima perintah.

“Kalau sangkaannya ke nakhoda, salah sasaran. Nakhoda ibarat sopir. Dia hanya melaksanakan perintah ke mana berlayar oleh agen kapal. Kalaupun nakhoda harus melapor, ketika dia mau berangkat dari pelabuhan asal. Dalam hal ini, sudah dilakukan di Rusia,” ucap Agus.

Agus juga menganggap, secara legalitas, MV Wise Honest tak melanggar. Termasuk status batu bara yang diangkut. Punya dokumen resmi termasuk jual-beli. Agen kapal pun, disebutnya, sudah membayar biaya parkir ketika nakhoda kapal Rp 50 juta. “Makanya masih kami tunggu bagaimana perkembangan berkas pemeriksaan dari Lanal,” kata Agus.

Selanjutnya, Agus menyebut, belum menerima berkas dari Pangkalan TNI Angkatan Laut Balikpapan. Memang, dia mengaku pernah menerima berkas usai dikembalikan (P19), Senin (4/6) lalu. Lantaran saat itu adalah batas akhir penyerahan berkas. “Sedangkan kami masih harus menangani berkas lainnya. Sementara sebentar lagi masuk waktu cuti hingga Idulfitri,” ucapnya.

Seperti diketahui, Pangkalan TNI Angkatan Laut Balikpapan pada 13 April lalu menunjukkan, MV Wise Honest yang dicegat sementara karena diduga melanggar perizinan. Saat pemeriksaan awal, kru kapal tak dapat menunjukkan sertifikat atau surat pencegahan pencemaran dari kapal. Juga, tak memenuhi persyaratan barang khusus dan berbahaya. Pertama kali ditangani KRI Terapang, pemeriksaan dilanjutkan Pangkalan

Kapal yang dinakhodai Kim Chung Son asal Korut itu berlayar membawa batu bara dari pelabuhan Vladivostok, Rusia dengan tujuan Samarinda. Rencananya melakukan bongkar-muat ke kapal sejenis. Lantas akan kembali berlayar dengan tujuan Tiongkok. 

Dari informasi KRI Terapang, Wise Honest telah terdeteksi di perairan Selat Makassar sejak 2 April. Kecurigaan muncul ketika kapal itu menyimpang dari Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Dari laporan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Klas I Balikpapan dan Kantor Imigrasi Balikpapan, kapal ini diketahui lebih dari 2x24 jam tak membuat laporan.

Wise Honest disangkakan dengan Pasal 114 Ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 6/2011 tentang Keimigrasian. Karena memasuki teritorial Indonesia lebih dari 2x24 jam tanpa melapor Imigrasi Balikpapan. Selain itu, kapal melanggar Pasal 295 juncto Pasal 47, Pasal 302 Ayat (1) juncto Pasal 117 dan Pasal 294 Ayat (1) UU Nomor 17/2008 tentang Pelayaran.