press enter to search

Minggu, 21/07/2019 11:46 WIB

Soal Kelanjutan Pembelian Pesawat 737 Max, Lion: Masih Diskusi Panjang Dengan Boeing

Redaksi | Senin, 27/05/2019 04:56 WIB
Soal Kelanjutan Pembelian Pesawat 737 Max, Lion: Masih Diskusi Panjang Dengan Boeing Foto : Ilustrasi

JAKARTA (Aksi.id) – Manajemen PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) masih berdiskusi dengan produsen pesawat asal Amerika Seikat (AS), Boeing, terkait persoalan Boeing 737 MAX.

Diskusi ini juga berkaitan dengan sisa pemesanan 200 unit secara bertahap jenis pesawat tersebut.

Managing Director Lion Air Daniel Putut Kuncoro mengatakan, saat ini terjadi diskusi yang panjang antara Lion Air dan Boeing baik dari aspek ekonomi, hukum, hingga kemanusiaan. Pasalnya, sempat ada isu bahwa Lion Air akan membatalkan pemesanan pesawat tersebut.

“Jadi banyak hal yang nanti saya bicara dan di-quote Boeing nanti jadi bahan untuk mereka. Saya sementara tidak komen dulu,” ujarnya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Minggu (26/5/2019).

Diskusi yang dilakukan secara intensif ini ditargetkan selesai saat investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi Kementerian Perhubungan selesai dilakukan. Investigasi ini terkait dengan penyebab kecelakaan pesawat JT610 pada 29 Oktober lalu.

“Kalau investigasi KNKT finalnya selesai baru kita akan follow up lagi. Mau kita teruskan atau tidak nanti hasil KNKT yang sangat menentukan,” ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pesawat jenis ini dilarang untuk melayani penumpang selama periode mudik Lebaran. Begitupun dengan pesawat-pesawat yang sempat dilarang terbang.

Hal ini untuk kenyamanan dan keselamatan penumpang. Pasalnya, pesawat Boeing 737 MAX menewaskan 189 penumpang dan kru Lion Air pada 29 Oktober 2019 dan korban dari Boeing 737 MAX 8 157 penumpang dan kru Ethiopian Airlines pada 10 Maret 2019.

“Tidak ada. Itu tidak ada alasan apapun itu tetap tidak boleh (terbang),” ujarnya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (26/5/2019).

Pelarangan terbang sementara ini karena pihaknya belum menerima surat rekomendasi dari otoritas penerbangan Amerika Serikat (FAA) atas Boeing 737 MAX. Hingga saat ini, Kemenhub masih belum mendapatkan investigasi akhir mengenai kelayakan pesawat buatan AS ini.

FAA: Beroperasi Juni

Sementara itu, Administrasi Aviasi Federal Amerika Serikat (FAA) berharap dapat memperbolehkan kembali beroperasinya Boeing 737 MAX pada akhir Juni tahun ini. Hal itu disampaikan oleh perwakilan otoritas penerbangan udara AS kepada badan penerbagan PBB pada Kamis, 23 Mei 2019.

Namun, perwakilan FAA menekankan bahwa belum ada tanggal pasti terkait penerbangan kembali tipe pesawat Boeing 737 MAX itu, sebagaimana dikutip dari situs South China Morning Post pada Jumat (24/5/2019).

Jika dapat beroperasi kembali sesuai target yang telah ditentukan, sejumlah maskapai akan dapat mengurangi kerugian yang harus ditanggung. American Airlines Group, Southwest Arlines, dan United Airlines telah menangguhkan penerbangan Boeing 737 MAX hingga Juli dan Agustus tahun ini.

images (74)

Langkah itu menyusul dua kecelakaan fatal pesawat dengan tipe sama yang menewaskan 346 orang dari Lion Air JT610 di Indonesia dan Ethiopian Airlines ET302 di Addis Ababa.

Di hari yang sama, sejumlah pejabat dari FAA dan Boeing telah memberi pengarahan secara pribadi kepada anggota dewan pemerintahan International Civil Aviation Organization (ICAO) di Montreal, begitu pula Dan Elwell bertemu dengan regulator penerbangan internasional selama delapan jam di Fort Worth, Texas.

Sementara itu, Elwell saat ini masih menolah untuk menjawab pertanyaan tentang hasil pengarahan ICAO. Ia lebih memilih mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa FAA tidak akan menyetujui pesawat untuk penerbangan sampai pihak yang bersangkutan menyelesaikan analisis keselamatan. Ia mengaku tidak ada jadwal yang ditetapkan.

Jalan untuk mengoperasikan kembali Boeing 737 MAX masih tidak pasti. Pasalnya, Kanada dan Eropa mengatakan pada Rabu, mereka akan menentukan kapan pesawat dapat kembali beroperasi dengan ketentuan mereka sendiri, bukan tergantung sepenuhnya pada FAA.

Pihak FAA mengatakan tidak akan mengambil keputusan untuk menerbangkan kembali tipe pesawat itu sampai mereka melihat temuan-temuan dari berbagai lemba mengenai rencana Boeing untuk memperbaiki perangkat lunak.

Boeing mengatakan pekan lalu telah menyelesaikan pembaruan untuk perangkat lunak, yang dikenal sebagai MCAS yang dapat menghentikan pembacaan data yang salah yang dapat memicu sistem beroperasi secara otomatis.

Meski demikian, perusahaan pesawat yang bermarkas di AS itu belum secara resmi mengajukan perbaikan ke FAA dan belum menetapkan tanggal untuk melakukannya.

“Setelah kami menjawab permintaan informasi dari FAA, kami akan siap untuk menjadwalkan penerbangan uji sertifikasi dan menyerahkan dokumentasi sertifikasi final,” kata direktur komunikasi Boeing Chaz Bickers.

Akibat Burung?

Sementara itu, baru-baru ini para pejabat penerbangan Amerika Serikat meyakini bahwa seekor burung mungkin menyebabkan kecelakaan mematikan pesawat Ethiopia Boeing 737 MAX 8 pada Maret 2019, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut.

Burung menyebabkan sensor sistem anti-stall pesawat salah mengumpankan data kepada pilot, yang menyebabkan kecelakaan, kata otoritas penerbangan AS seperti dikutip dari CNBC.

Sistem secara otomatis mendorong hidung pesawat ke bawah jika merasa pesawat berada dalam kondisi stall, cara normal untuk pulih dari posisi masalah itu. Namun, hal tersebut bisa menjadi bencana jika pesawat tidak ada dalam kondisi stall.

Pilot dalam dua kecelakaan itu melawan sistem, yang dikenal sebagai MCAS, yang berulang kali mendorong hidung pesawat mereka ke bawah.

Namun, Ethiopian Airlines mengatakan bahwa laporan awal penyelidikan kecelakaan menunjukkan “tidak ada bukti kerusakan benda asing” seperti burung yang mengganggu sensor pada pesawat Boeing 737 MAX 8.

images (75)

Sementara itu, Boeing mengecilkan kemungkinan bahwa serangan burung dapat merusak peralatan sensor pesawat namun, tidak memberikan penjelasan merinci, the Guardian melaporkan.(BeritaTrans.com/adinda) 

Keyword Lion Air