press enter to search

Minggu, 25/08/2019 21:00 WIB

Di Masjid Alfatah Terjadi Harmoni Tradisi Ke-NU-an dengan Muhammadiyah

| Senin, 03/06/2019 20:56 WIB
Di Masjid Alfatah Terjadi Harmoni Tradisi Ke-NU-an dengan Muhammadiyah Seorang remaja menjadi imam salat Isya dan Tarawih di Masjid Alfatah.

MENGHARGAI  perbedaan pernah diperlihatkan Buya Hamka dan KH Idham Chalid. Seperti diketahui Buya Hamka merupakan tokoh Muhammadiyah, sedangkan KH Idham Chalid merupakan tokoh NU.

Saling menghargai perbedaan terlihat ketika  kedua tokoh muslim ini sedang dalam perjalanan menuju tanah suci dalam sebuah kapal laut.

Di saat melakukan shalat subuh berjamaah, para pengikut Nadhlatul Ulama heran saat KH. Idham Chalid yang mempunyai kebiasaan menggunakan doa qunut dalam kesehariannya, malah tidak memakai doa qunut saat Buya Hamka dan sebagian pengikut Muhammadiyah menjadi makmumnya.

Sehingga seusai shalat Buya Hamka bertanya, “Mengapa Pak Kyai Idham Chalid tidak membaca qunut.”

“Saya tidak membaca doa qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut,” jawab KH. Idham Chalid.

Demikian sebaliknya. Suatu ketika Buya Hamka mengimami shalat subuh, beliau membaca doa qunut karena KH. Idham Chalid  dan sebagian pengikut NU menjadi makmumnya. 

Seusai shalat, KH. Idham Chalid pun bertanya, “Mengapa Pak Hamka tadi membaca doa qunut subuh saat mengimami shalat?”

“Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat subuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka.

Akhirnya kedua ulama tersebut saling berpelukan tanda keakraban. Jamaah pun menjadi berkaca-kaca menyaksikan kejadian yang mengharukan, air mata tak dapat mereka tahan. Hal ini juga mengingatkan kita persaudaraan antara pendiri organisasi terbesar umat Islam Indonesia ini, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.

Dalam keseharian, menghargai sekaligus menghormati perbedaan antara dua arus besar muslim di Indonesia itu malah lebih aplikatif di Masjid Alfatah, RW 14, Kompleks Pondok Hijau Permai, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

Di masjid itu, praktik ibadah dengan mempertemukan tradisi ke-NU-an dan Muhammadiyah dilaksanakan sejak lama. Sejak belasan tahun, bahkan mungkin puluhan tahun lalu. Tak hanya itu, arus  Salafy dan Jamaah Tabligh juga diterima.

Contoh, setiap Ramadan, dilaksanakan ceramah singkat berupa kultum atau kuliah tujuh menit setelah  salat Isya. Ceramah ini selain menampilkan ustadz, yang memahami ilmu agama, juga memberikan kesempatan kepada tokoh masyarakat untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di hadapan jamaah.

Salat Tarawih dilaksanakan dengan 11 rakaat. Namun ada sedikit modifikasi yakni adanya pembacaan doa di antara dua rakaat shalat. Setelah salat witir, kembali digelar doa dan pelafalan niat berpuasa. Setelah itu jamaah saling bersalaman sambil melafalkan shalawat Nabi Muhammad SAW.

Salat Isya dan Tarawih pun mendorong terjadi regenerasi imam melalui penugasan kepada sejumlah remaja, yang sudah banyak hafal surat Alquran.

Kita ketahui tradisi NU menggelar salat tarawih dengan 23 rakaat. Setelah itu, digelar doa dan.pelafalan niat berpuasa. Di masjid-masjid yang dikelola pengurus NU, juga relatif tidak ada tausyiah di antara salat Isya dan Tarawih.

Pada salat wajib sehari-hari, di Masjid Alfatah tidak ada zikir dan doa bersama usai salat. Namun pengurus dan jamaah akan datang untuk acara tahlilan saat ada warga yang wafat. Mereka juga menggelar prosesi pemakaman mayat dengan memakai tradisi antara lain membacakan azandi telinga jenazah di lubang makam.

Demikian halnya salat Subuh. Kadang ada pembacaan doa qunut, kadang tidak. Ketika imamnya beraliran salafy maka dapat dipastikan tidak ada doa qunut.

Begitu pengurus DKM Alfatah dipimpin Ir. H. Supriyadi menjaga tradisi merawat harmoni di antara perbedaan mahzab. 

Seperti itulah yang sebaiknya terjadi di antara sesama muslim. Saling asah,  saling asih dan saling asuh. (awe).