press enter to search

Kamis, 21/11/2019 23:46 WIB

Buya Hamka Bersedia Jadi Imam Shalat Jenazah Orang yang Memfitnah, Memenjarakan & Menyiksanya

| Rabu, 05/06/2019 09:08 WIB
Buya Hamka Bersedia Jadi Imam Shalat Jenazah Orang yang Memfitnah, Memenjarakan & Menyiksanya

JAKARTA (aksi.id) - Kisah tragis dialami Buya Hamka di saat dihina dan difitnah pemerintah yang berkuasa.

Buya Hamka ditangkap dan dituduh dengan tuduhan tidak masuk akal, kemudian dijebloskan ke penjara seperti dialami oleh sejumlah ulama dan tokoh lainnya.

Dirinya dimasukkan ke penjara dan sang pelaku menaikkan kaki ke atas meja dengan sepatunya sambil menuding Buya Hamka dengan telunjuknya untuk menghinanya.

Perlakuan ini sangat menyakitkan hati Buya Hamka, yang merupakan ulama yang sangat dihormati itu.

“Hei Hamka, kamu pengkhianat negara!”

“Kamu mau jual negara ke Malaysia,” demikian tuduhan itu yang antara lain disemburkan pada diri ulama besar tersebut, yang ditirukan oleh Ustadz Abdul Somad, yang dikutip Warta Kota di Jakarta, kemarin.

Pelaku menunjuk dengan telunjuk untuk menghina Buya Hamka, yang hatinya berkecamuk dan sangat terhina diperlakukan seperti itu.

Selain dipenjara, Buya Hamka mengalami penyiksaan hebat.

Akibat penyiksaan itu, Buya Hamka harus menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Persahabatan, yang dibangun sebagai hibah dari Uni Soviet.

Menurut Ustadz Abdul Somad, Buya Hamka sangat terhina dinistakan sedemikian rupa.

“Sempat terlintas untuk mengakhiri saja hidupnya saat nampak pisau silet, bisikan-bisikan bahwa dia orang terhormat, gelarnya datuk, di Universitas Al Azhar bergelar Doktor Al Azhar, saking geramnya, kisah itu dituliskan dalam Tasawuf Modern,” katanya.

Di saat menjelang akhir hayatnya, dia minta anaknya untuk mengambilkan buku yang ditulisnya tersebut.

“Ambilkan buku itu, aku mau mengenang sakitnya masa itu,” katanya.

Ulama besar itu dipenjarakan atas tuduhan yang dibuat-buat pemerintah seperti dilakukan juga pada sejumlah kalangan lainnya.

Mereka ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan melawan pemerintah.

“Sampai akhirnya, PKI pun tumbang, Buya Hamka dibebaskan dari penjara,” kata Ustadz Abdul Somad.

Setelah itu, Buya Hamka menjalani hidupnya untuk berdakwah dan menjadi imam seperti dijalani sebelum itu.

Ada sebuah pelajaran berharga yang bisa diambil dari Buya Hamka dengan perilaku yang mulia.

“Ketika dia sedang duduk di rumah, datang seorang membawa surat, dibacanya surat itu,” katanya.

Surat itu berasal dari orang yang kejam pada Buya Hamka, orang itu juga menyiksanya.

“Isinya, kalau aku mati nanti, tolong yang menyolatkan jenazah adalah Buya Hamka,” katanya.

Yang menyiksa dan memenjarakan Buya Hamka selama 4 tahun itu akhirnya mati.

“Saya penasaran bacanya, mau tidak beliau, mau tidak, ternyata mau,” kata Ustadz Abdul Somad.

Saking gemasnya karena tindakan seperti itu, Ustadz Abdul Somad menutup buku Tasawuf Modern itu.

Meski kemudian, Ustadz Abdul Somad melanjutkan kembali untuk membaca buku tersebut.

Ada versi yang menyatakan bahwa orang yang minta disolatkan jenazahnya adalah Presiden RI I, Soekarno alias Bung Karno.

Meski Ustadz Abdul Somad tidak bersedia menyebutkan nama orang yang dimaksud telah memenjarakan Buya Hamka dan minta jenazahnya agar disolatkan itu.

“Kok mau dia.”

“Kok Mau Buya Hamka.”

“Andai saya lah itu, dipenjara orang, disiksa orang, lalu datang utusannya, terus bilang, andai aku mati, tolong yang mengimami aku adalah saya, saya suruh cari ustadz yang lain.”

“Aku tak mau, sampai mati, tak akan aku solatkan,” katanya.

Ustadz Abdul Somad menjelaskan, itulah yang membedakan antara Buya Hamka dan kebanyakan orang lainnya.

“Baru saya tahu, lembut hatinya, lunak.”

“Dia tidak pernah belajar di Al Azhar, sekali pun tidak.”

“Al Azhar memanggil dia memberikan gelar Doktor, sedangkan Ustadz Abdul Somad sudah 4 tahun kuliah di Al Azhar, gelarnya cuma LC,” katanya.

Menurut Ustadz Abdul Somad, dia sadar diri karena tidak selevel dengan Buya Hamka.

Namun, sejumlah fakta terungkap bahwa orang yang dikisahkan tersebut adalah Bung Karno.

Dalam bagian lainnya, kata Ustadz Abdul Somad, kemuliaan Buya Hamka memang tidak bisa ditandingi oleh banyak orang.

“Kalau saya kisahkan Nabi Muhammad SAW, nanti dibilang itu kan Nabi.”

“Kalau saya kisahkan sahabat Nabi Muhammad SAW, itu kan sahabat nabi,” katanya.

Karena itu, kata Ustadz Abdul Somad, dia sengaja membagikan kisah Buya Hamka, yang mulia.

“Kala itu, PKI sedang berkuasa dan mempunyai koran Lekra.”

“Tuduhan keji diberikan oleh Pramoedya Ananta Toer.”

“Buya Hamka dituduh novelnya itu plagiat diambil dari sastrawan Mesir, ditulis di Harian Lekra, PKI,” katanya.

Menurut Ustadz Abdul Somad, Buya Hamka tidak melawan, diam.

“Akhirnya isu itu hilang, PKI jatuh, NKRI bangkit kembali tetap tegak berdiri.”

“Setelah itu, datang seorang perempuan bermata sipit dengan suaminya, mualaf yang mau belajar Islam dengan sepucuk surat.”

“Kamu siapa?”

“Saya disuruh ayah saya ke mari mengantar calon suami saya belajar Islam,” kata tamu tak dikenal tersebut.

“Nama ayah kamu siapa?” tanya Buya Hamka.

Kemudian dijawab bahwa ayahnya adalah Pramoedya Ananta Toer yang telah menjatuhkan nama Buya Hamka dengan cara menyebarkan fitnah dan kebencian itu ke seluruh dunia.

Menurut Ustadz Abdul Somad, mungkin, itu cara Pramoedya Ananta Toer minta maaf.

“Dia tak datang ke rumah Buya Hamka, tapi anak dan menantunya diutus bertemu dengan Buya Hamka untuk belajar Islam.”

“Buya Hamka kemudian mengajarkan Islam tersebut, begitu mulianya beliau padahal fitnah luar biasa,” kata Ustadz Abdul Somad, yang dikutip Warta Kota di Jakarta, Sabtu (1/6/2019).

Andai itu adalah dirinya, kata Ustadz Abdul Somad, dia tidak akan bersedia.

“Kau cari saja ustadz yang lain.”

“Panas hati ini karena kalau hati panas mengajar orang tidak akan benar.”

“Ternyata marah Buya Hamka itu melebur dengan maaf tanpa bekas kalau maaf masih berbekas, itu namanya bukan maaf,” katanya.

“Kalau saya sebut Nabi, itu kan Nabi, saya sebut Abu Bakar, itu kan Abu Bakar, ada orang kita, Buya Hamka, urang awak.”

“Tapi, jangan dibayangkan kalau Buya Hamka itu bukan orang yang tidak bisa marah.”

“Saat naik kapal, berhenti kapal di pelabuhan di Padang, saat mau menjadi imam solat jamaah, ada pegawai kapal melarang solat jamaah karena di kapal solatnya di kamar masing-masing.”

“Buya Hamka bangkit, orang itu pun disemprot dengan kemarahannya,” katanya.

“Bahasanya tidak saya ubah, buka buku judulnya Ayah ditulis Irfan Hamka, yang menyaksikan hal tersebut, yang menengok Buya Hamka marah.” katanya.

Buya Hamka ada saatnya marah, ada saatnya lunak, ada saatnya berkonfrontasi.

“Dalam soal qunut, lembut hati Buya Hamka diundang ke Jember, salat Subuh, Buya Hamka diangkatnya tangan, baca qunut sebagaimana dilakukan NU padahal biasanya tidak karena dia Muhammadiyah.”

Hal itu dicontohkan untuk menjaga persatuan umat Islam.