press enter to search

Kamis, 27/06/2019 00:51 WIB

Cendekiawan Asal Bulukumba Shamsi Ali Jadi Khatib Shalat Ied di New York

| Rabu, 05/06/2019 18:40 WIB
Cendekiawan Asal Bulukumba Shamsi Ali Jadi Khatib Shalat Ied di New York

NEW YORK (aksi.id) - Umat muslim di New York Amerika Serikat melaksanakan sholat Idul Fitri 1440 Hijriyah berlangsung hikmad pada 4 Juni 2019 Masehi.

Khotbah yang dibacakan Imam Masjid New York, Shamsi Ali, Rabu, 5 Juni 2019 mengutarakan, pelaksanaan sholat Id di negara Paman Sam ini digelar oleh Jamaica Muslim Center di Pusat Komunitas Center.

“Alhamdulillah walaupun hidup di kota yang dikenal sebagai ibukota dunia (Capital of the world) dan jantung kapitalisme dunia ini, pelaksanaan Idul Fitri terasa semarak penuh syiar,” ujar pria kelahiran Bulukumba, Sulaweai Selatan, itu.

Dalam khotbahnya Shamsi menegaskan, kekeliruan besar atau kesalahan yang berbahaya adalah ketika kita beramal dan merasa. “Saya menyebutnya sebagai “religious arrogance” (keangkuhan beragama),” imbuh dia.

Oleh karena itu, kata dia, harus disadari bahwa kita bisa melakukan ibadah-ibadah dalam agama ini semuanya karena hidayah dan taufiq Allah SWT. Karenanya hal pertama yang harus kita bangun adalah sadar syukur nikmat Allah. Terkhusus nikmat iman dan Islam ini.

Hal yang disayangkan dalam beribadah adalah seringkali ibadah-Ibadah yang kita lakukan bertujuan sekedar mengumpulkan “pahala”. Sering dijadikan barteran syurga. Seolah kita membeli syurgaNya Allah dengan ibadah-ibadah kita.

Shamsi menilai, ini adalah sebuah kekeliruan besar karena sesungguhnya tidak seorangpun yang mampu masuk syurga karena ibadah-ibadahnya. Apalagi membayar Allah atas semua karuniaNya dengan ibadah-ibadah itu.

Tujuan beribadah adalah untuk meraih ridho dan kasih Allah (rahmatNya). Hanya dengan rahmah dan ridhoNya jugalah kita akan menerima imbalan dariNya termasuk di dalamnya masuk syurgaNya di Akhirat kelak.

Ibadah bisa meraih ridho dan kasih Allah, hendaknya ibadah-ibadah yang dilakukan tidak sekedar kegiatan rutinitas harian, mingguan atau tahunan. Tapi hendaknya memiliki dampak positif dalam kehidupan nyata kita.

“Dampak inilah yang saya namai transformasi. Bahwa ibadah-ibadah yang kita lakukan harus membawa transformasi dalam kehidupan kita,” beber putra asal Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Sulsel.

Transformasi atau perubahan yang tumbuh saat ini sebagai dampak nyata dari puasa Ramadhan minimal akan terlihat pada lima titik kehidupan manusia.

Kelima titik yang dimaksudkan adalah transformasi dalam membangun kedekatan dengan Allah SWT.

Puasa itu adalah sebuah kegiatan ritual yang sangat privat sifatnya. Sebuah kegiatan ibadah yang hanya melibakan Allah dan hambaNya. Sehingga puasa benar-benar menjadi seolah-oleh milikNya Allah. Dan Allah sendiri yang memberikan pahalanya secara langsung”.

Praktek ibadah yang sangat privat inilah yang sendirinya membangun hubungan yang begitu dekat dengan Allah. Sebuah rasa yang membangun kebersamaan denganNya (ma’iyatullah).

Ia menambahkan, perasaan dan keyakinan bersama Allah inilah akan tumbuh rasa aman dalam hidup. Goncangnya dunia takkan menggoncang jiwa dan mentalitas umat beriman. Semakin tertantang mereka akan semakin solid melanjutkan langkah-langkah juang kehidupannya.

Selanjutnya, puasa telah membawa transformasi dalam visi hidup. Selama Ramadan kita mengesampingkan berbagai kecederungan “hawa nafsu” duniawi kita di siang hari. Mengesampingkan hawa nafsu tersebut merupakan latihan untuk mengontrol hawa nafsu.

Esensi puasa dengan mengontrol inilah yang dikenal dalam bahasa agama dengan imsak artinya menahan.

Kenapa begitu mendasar untuk menahan hawa nafsu duniawi kita? Karena ketika hawa nafsu duniawi kita tidak terkontrol maka terjadi ragam dekstruksi dalam kehidupan.

Berbagai keruskaan dan pengrusakan merajalela dalam dunia kita karena kegagalan mengontrol hawa nafsu duniawi tadi.

Menurut dia, kemampuan mengontrol hawa nafsu (dorongan) duniawi akan tumbuh sebuah visi hidup yang imbang. Visi hidup yang saling melengkapi, bahkan saling mengikat antara satu dan lainnya.

Itulah visi hidup Islami yang bersifat menyeluruh. Kuat dunia dan Insya Allah bahagia akhirat, jelas Direktur Jamaica Muslim Center New York ini.

Sebagaimana digambarkan oleh Al Quran: “Dan di antara manusia itu ada yang memohon: wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhirat, dan jagalah kami dari siksaan api neraka”.

Lalu, puasa membawa transformasi prilaku manusia. Prilaku inilah yang bahasa agama disebut akhlak atau karakter.

Karakter kemanusiaan sesungguhnya menjadi salah satu esensi sekaligus tujuan dari seluruh bentuk keberagamaan (religiositas) kita. Sholat, puasa, zakat, haji, umrah dan seluruh amalan-amalan agama semuanya memiliki makna-makna sosial (social dimensions) yang menjadi esensinya.

Sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Puasa menahan dari semua yang keburukan-keburukan prilaku, kata maupun aksi. Di saat haji dilarang berkata kotor (rafats), fusuk, bahkan berdebat yang bisa menimbulkan kegaduhan.

Intinya dengan puasa Ramadan pelakunya harus tertransformasi dalam karakter kemanusiaannya. Perilaku sosialnya akan semakin baik dan terpuji.

Akhlak adalah nilai tertinggi dari religiositas seseorang. Sehingga wajar kalau Rasulullah SAW dipuji dalam Al-Quran, bukan karena amalan rituanya yang luar biasa itu. Tapi karena karakter atau akhlaknya.

Transformasi hati nurani kemanusiaan kita dimana puasa membentuk hati manusia menjadi lebih tajam. Dengan puasa hati menjadi lebih sensitif terhadap lingkungan sekitar.

Realitanya saat ini hati manusia mengalami kebekuan. Atau boleh jadi mengalami mati suri. Sehingga ragam peristiwa kehidupan yang terjadi tidak menyentuh sensitifitasnya.

Bayangkan ketika sebuah kampung atau kota dibom. Anak-anak, wanita-wanita, orang-orang tua terbantai bagaikan tak punya harga.

Bulan Ramadhan sejatinya melatih rasa kemanusiaan kita merasakan perasaan orang lain. Dalam bahasa agama bulan Ramadan seharusnya mentransformasi hati kita dengan kasih sayang (rahmah).

Dunia kita saat ini sedang mengalami krisis “kasih sayang”. Manusia mengalami kegersamgan “rasa empathy” kepada sesama. Maka di bulan Ramadan itulah kita menumbuh suburkan rasa itu. Belajar merasakan perasaan mereka yang kurang beruntung (unfortunate).

Tak dapat disangkali jika saat ini hidup manusia dalam dunia yang terpecah (polarized). Runyamnya di beberapa negara yang selama ini getol mengkampanyekan kesetaraan justeru berbalik dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang memecah belah masyarakat.

Imam Shamsi Ali, Direktur Jamaica Muslim Center saat membaca khotbah pada sholat Id di Jamaica Hill USA, Selasa (4/6). Foto: doc

Memecah belah yang dimaksud adalah mengangkat dan memuliakan sebagian. Sebagian lainnya direndahkan dan dikelas duakan. Pemecah belahan itu lebih khusus lagi pada sisi ras manusia.

Tendensi seperti Itulah yang lazimnya disebut rasime. Pelakunya disebut rasis.

Penyakit rasisme saat ini sedang memuncak karena di beberapa negara besar terjadi kebangkitan “White Supremacy” atau keangkuhan kaum kulit putih. Mereka merasa lebih hebat dibandingkan orang lain karena ras putihnya.

Kekerasan-kekerasan terjadi di mana-mana. Termasuk yang paling terakhir penembakan saudara-saudara kita di New Zealand.

Puasa Ramadhan menyadarkan kita bahwa perbedaan ras dan warma kulit manusia bukan sesuatu yang menjadi dasar penilaian kemuliaannya. Justru perbedaan-perbedaan itu adalah alami, bahkan menjadi keindahan hidup itu sendiri.

Puasa mengajarkan bahwa kemuliaan manusia sesungguhnya bukan pada fisiknya. Tapi pada tatanan hati dan prilaku karakternya. Dalam bahasa agama karena iman dan amal (akhlaknya) semata.

Tahun ini Jamaica Muslim Center kembali mengadakan lebaran yang sangat besar bertempat di Lapangan Thomas Edison High School (Sekolah SMU Thomas Edison).

Jamaah membludak hingga pinggir jalan dengan bantuan aparat Kepolisian New York untuk dipakai sholat oleh sebagian yang tidak mendapatkan tempat di dalam lapangan.

Penutup khotbah sholat Idul Fitri di negara itu, Shamsi Ali berpesan, memasuki pemilihan umum di USA pada 2020 akan menjadikan Islamophobia meninggi.

Cara terbaik untuk menyikapi Islamophobia adalah dengan menguatkan keyakinan kepada Allah yang membolak balik hati manusia. Selain itu hendaknya Islamophobia dihadapi dengan cara terbaik (ahsan) yaitu dengan akhlakul karimah.

Selain itu, di tengah meningginya tantangan Islamophobia, jangan pernah putus asa dan hilang harapan. “Keep your heads up” (angkat kepalamu). Jangan pernah minder dan terintimidasi. Karena sesungguhnya sepanjang-panjang terowongan itu, pada ujungnya ada cahaya yang terang (shining light),” kata Shamsi Ali yang juga menjabat Presiden Nusantara Foundation.

Kajayaan dan kemenangan itu selalu bersama dengan kebenaran dan keadilan. Sebuah keyakinan yang harus dibangun terus, di tengah dunia Islam yang sangat memprihatinkan.

Jamaica adalah nama daerah bagian dari Kota New York USA bukanlah orang-orang Jamaica sebuah negara di Karibia.

Jamaica Muslim Center sendiri adalah salah satu dari 200-an Masjid di kota New York. Masjid ini terletak di sebuah perbukitan, dengan daerah yang masih hijau. Konon kabarnya sebelum Islamic Center ini berdiri lokasi tersebut cukup menyeramkan (tidak aman).

Jamaica Muslim Center berdiri sejak 1993 lalu, daerah sekitarnya menjadi daerah yang termasuk dianggap paling aman.

Jamaica Muslim Center sendiri bermula dari kegiatan sholat berjamaah di basement seorang Muslim Keturunan Bangladesh. Yang kemudian rumahnya diwakafkan menjadi masjid. Mulialah komunitas Muslim berdatangan ke daerah itu. Ada yang membeli rumah dan membuka usaha.

Dengan semakin ramainya warga Muslim yang tinggal di daerah yang lebih dikenal dengan Jamaica Hills itu, sebuah rumah lagi dibeli di samping rumah yang pertama.

Belangan kedu rumah itu dirubuhkan, lalu dibangun sebuah masjid yang cukup megah. Masjid berlantai 3 itu kini bisa memuat 1700-an hingga 2000-an jamaah setiap sholat Jumat.

Jamaica kini menjadi salah satu Pusat Komunitas Muslim yang sangat dikenal. Dalam sejarahnya masjid ini paling sering menjadi destinasi kunjungan para pejabat kota. Bahkan Michel Bloomberg di akhir jabatannya sebagai Walikota New York menyempatkan diri berkunjung ke masjid ini.

Walikota New York saat ini, Bill de Blasio, telah berkunjung tiga kali ke masjid yang bernama Al-Mamoor ini. Bahkan beberapa waktu lalu secara khusus datang untuk menyampaikan dukungan kepada komunikasi Muslim menghadapi Islamophobia yang semakin meninggi pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika.

Sumber: berandatimur.com