press enter to search

Rabu, 18/09/2019 19:17 WIB

Terminal Kedatangan Bandara di Arab Saudi Dihantam Rudal Houthi, 26 Orang Terluka

Redaksi | Kamis, 13/06/2019 16:16 WIB
Terminal Kedatangan Bandara di Arab Saudi Dihantam Rudal Houthi, 26 Orang Terluka

ABHA (Aksi.id) – Kelompok pemberontak Yaman, Houthi, telah menembakkan rudalnya ke Bandara Abha di Arab Saudi, Rabu, 12 Juni 2019. Insiden itu menyebabkan 26 warga sipil yang tengah menunggu di aula kedatangan di bandara Abha, terluka.

Dilansir Al Jazeera, koalisi pimpinan-Arab Saudi dalam keterangan persnya mengatakan, sebuah proyektil mengenai aula kedatangan di bandara Abha, menyebabkan kerusakan material.

Tiga wanita dan dua anak termasuk di antara yang terluka, dan mereka adalah warga negara Saudi, Yaman dan India.

Sementara delapan orang dibawa ke rumah sakit dan sebagian besarnya dirawat di lokasi.

14684904-0-image-a-25_1560330661456

Koalisi menganggap serangan itu merupakan kejahatan perang dan membuktikan bahwa Houthi telah memperoleh senjata canggih dari Iran. Koalisi berjanji untuk mengambil langkah tegas menghancurkan kelompok Houthi dan melindungi warga sipil.

Al Masirah TV yang berafiliasi dengan Houthi, membenarkan serangan rudal ke bandara Abha, yang berjarak sekitar 200 km di utara perbatasan dengan Yaman dan melayani rute domestik dan regional.

Milisi Houthi berdalih memiliki hak untuk mempertahankan diri setelah dalam lima tahun terakhir menghadapi serangan bom yang dipimpin koalisi Saudi dan blokade udara-laut ke wilayahnya.

“Kelanjutan agresi dan pengepungan terhadap Yaman untuk tahun kelima, penutupan bandara Sanaa dan penolakan terhadap solusi politik, membuat orang-orang kami tidak dapat dihindarkan untuk membela diri mereka sendiri,” kata juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan oleh al- Masirah.

Sementara Iran, yang dituduh mempersenjatai Houthi untuk menyerang Arab Saudi belum merespons tuduhan tersebut.

Seperti diketahui, aliansi yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) melakukan intervensi di Yaman pada tahun 2015, untuk mencoba mengembalikan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional, yang telah dipaksa keluar dari kekuasaannya oleh Houthi.

Sejak saat itu, peperangan berlangsung dan menelan puluhan ribu korban jiwa yang mayoritasnya merupakan warga sipil.(BeritaTrans.com/adinda)