press enter to search

Selasa, 19/11/2019 19:30 WIB

Mengenal KH Hasan Maolani Ulama Kuningan yang Dibuang Belanda ke Manado

| Minggu, 23/06/2019 16:57 WIB
Mengenal KH Hasan Maolani Ulama Kuningan yang Dibuang Belanda ke Manado

BEKASI (aksi.id) - Dalam banyak pertemuan keluarga di Desa Geresik, Kecamatan Ciawigebang, Kuningan, Jawa Barat, sering disebutkan nama `KH Hasan Maolani.` 

Adalah almarhumah Yuyun Hermina, yang semasa hidup selalu menggelorakan sejarah sekaligus silsilah KH Hasan Maolani. Mantan kepala SD negeri di Desa Geresik itu pula berinisiatif meliterasi tulisan silsilah ulama tersebut, yang disusun oleh KH Ma-ruf dari Karangtawang.

Dari silsilah itu terlihat urutan nasab sehingga tersambung ke ulama sekaligus pemimpin pergerakan melawan Belanda tersebut. Terlepas dari sahih atau tidaknya, urutan silsilah tersebut masih terpasang di dinding mushola satu rumah di Dusun Huludayeuh, Desa Geresik.

Kisah tentang KH Hasan Maolani menjadi terang bendera dengan adanya artikel berjudul `Eyang Menado dari Kuningan,"  yang ditulis Prof. Dr. Nina H lubis, MS,  guru besar ilmu sejarah Universitas Padjadjaran Bandung. Artikel, yang dimuat di media "Pikiran Rakyat," berisi sebagai berikut:

HINGGA 2006, jumlah pahlawan nasional bangsa Indonesia baru 136 orang. Hanya delapan orang yang berasal dari kalangan ulama, 2 orang di antaranya berasal dari Jawa Barat, yaitu K.H. Zaenal Mustofa dari Singaparna (Kabupaten Tasikmalaya), dan K.H. Noer Alie dari Kabupaten Bekasi.

Apakah ini berarti ulama kurang berperan dalam perjuangan meraih kemerdekaan? Agaknya bukan itu penyebabnya, namun peran para ulama, para kiai belum banyak digali para peneliti. Di Jawa Barat, ada banyak kiai, ulama yang berjuang sejak abad ke-19 hingga masa perang kemerdekaan

Dalam menghadapi pengaruh penetrasi Barat satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah melakukan gerakan sosial sebagai bentuk protes sosial. Demikian juga yang terjadi di berbagai tempat di Tatar Sunda, termasuk di Kabupaten Kuningan. Gerakan sosial yang terjadi di daerah ini dilakukan oleh Kiai Haji Hasan Maolani (1779-1874) dari Desa Lengkong. Masyarakat mengenalnya sebagai “Eyang Menado” karena ia diasingkan ke Menado (meskipun sesungguhnya diasingkan ke Tondano, sebelah selatan Menado), selama 32 tahun hingga meninggal dunia di sana. Beliau bergabung dengan Kyai Mojo dan pengikutnya. Wafat tahun 1874 dan dimakamkan di dekat makam Kyai Mojo.

Sumber-sumber yang memberitakan adanya gerakan ini sangat terbatas. Pertama sekali dilaporkan dalam Laporan Politik Pemerintah Kolonial tahun 1839-1849 (Exhibitum, 31 Januari 1851, no. 27). Kemudian disebutkan pula dalam tulisan E. de Waal, yang berjudul Onze Indische Financien, 1876, secara sangat singkat. Selanjutnya, diuraikan cukup panjang, dalam disertasi D.W.J. Drewes, yang berjudul Drie Javaansche Goeroe’s (1925).

Baru tahun 1975 A. Tisnawerdaya, menulis biografi ringkas Kiai Hasan Maolani. Hingga sekarang masih ada peninggalan K.H. Hasan Maolani, berupa bangunan rumah panggung berdinding anyaman bambu dan benda-benda milik pribadi. Selain itu, masih ada tinggalan berupa naskah yang ditulis di atas kertas dengan tinta hitam dan merah. Naskah berjudul Fathul Qorib, ini ditulis dalam huruf Arab pegon, berbahasa Jawa campur Sunda. Peninggalan berharga lainnya adalah kumpulan surat-surat yang dikirim Kiai Hasan dari pengasingannya.

Silsilah

K.H. Hasan Maolani dilahirkan pada 1199 Hijriah atau 1779 Masehi di Desa Lengkong, sekarang termasuk Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan. Menurut silsilahnya, Kiai Hasan Maolani, memiliki leluhur hingga kepada Sunan Gunung Jati. Ketika Hasan Maolani dilahirkan, Panembahan Dako, seorang kiai yang makamnya banyak diziarahi orang karena kekeramatannya, mengatakan bahwa anak ini benar-benar cakap dan memiliki “bulu kenabian”. Maksudnya, memiliki tanda-tanda akan menjadi ulama. Sejak kecil anak ini dikenal memiliki sifat-sifat yang baik. Hatinya lembut berbudi luhur, sayang kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Sejak kecil, Hasan Maolani suka menyepi (uzlah) di tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, setelah dewasa ia sering menyepi di Gunung Ciremai.

Hasan mula-mula menimba ilmu di Pesantren Embah Padang. Setelah itu, ia menimba ilmu di Pesantren Kedung Rajagaluh (Majalengka) dan Pesantren Ciwaringin, Cirebon. Selain itu, Hasan masih belajar lagi di beberapa pesantren lain. Setelah dewasa, Hasan Maolani, belajar tarekat: Satariyah, Qodariyah, Naksabandiyah, dst. Namun, akhirnya Hasan Maolani menganut tarekat Satariyah. Sekembali dari berguru di beberapa pesantren, Hasan Maolani kembali ke desa asalnya di Lengkong dan membuka pesantren.

Kiai keramat

Sejak ia membuka pesantren, berduyun-duyun orang yang datang ingin menjadi santrinya. Jumlah santri yang mondok cukup banyak hingga 40 pondok yang disediakan tidak mampu menampungnya. Selain itu, makin hari makin banyak orang datang kepada K.H. Hasan Maolani untuk berbagai keperluan, mulai dari berobat hingga meminta tolong untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Tentu saja, adanya orang berkumpul setiap hari, dalam jumlah banyak mengundang kecurigaan pemerintah kolonial, yang baru saja usai menghadapi Perang Diponegoro (1825-1830).

Salah satu ajaran Kiai Hasan Maolani, yang penting dan dianggap membahayakan pemerintah kolonial adalah tentang “jihad”. Ajaran yang ditulisnya dalam Fathul Qoribdemikian: “Jika sekiranya para orang kafir memasuki negeri Muslimin atau mereka bertempat yang dekat letaknya dengan negeri orang Islam, maka dalam keadaan yang demikian itu hukum jihad adalah fardlu ainbagi kaum Muslimin. Wajib bagi ahli negeri itu untuk menolak (menghalau) para orang kafir dengan sesuatu yang dapat dipergunakan oleh kaum Muslimin untuk menolak.”

Jelas, bahwa Kiai Hasan Maolani memiliki kesadaran bahwa negerinya sedang dijajah. Kesadaran ini disampaikan kepada masyarakat, yang datang maupun yang jauh melalui surat-suratnya. Perang Diponegoro menyisakan pelajaran bagi pemerintah kolonial untuk segera meredam ajaran-ajaran yang dianggap membangkitkan kesadaran rakyat untuk menentang orang kafir (dalam hal ini pemerintah jajahan). Itulah sebabnya, pemerintah kolonial melalui kaki tangannya di Kabupaten Kuningan segera melancarkan tudingan bahwa Kiai Hasan Maolani dituduh menyebarkan ajaran yang tidak sesuai dengan syariah, menghasut rakyat untuk melakukan perlawanan.

Padahal, ajaran-ajarannya seperti yang disebutkan di atas, tidak ada yang tidak sesuai dengan syariah. Dalam hal ini, kita bisa menduga apa motif pemerintah kolonial dalam melancarkan tuduhan kepada Kiai Hasan, tidak lain hanya untuk menjatuhkan nama Kiai Hasan di mata masyarakat pribumi dan mencari-cari kesalahannya.

Residen Priangan setelah mendapat informasi mengenai surat edaran dan akibat yang ditimbulkannya, segera mengirim surat kepada Gubernur Jenderal di Batavia, menyampaikan usul agar kerusuhan itu harus diselidiki di Lengkong, Kabupaten Kuningan (Cirebon).

Pengaruh Kiai Hasan Maolani semakin mendalam di kalangan penduduk, bahkan sampai merembet kepada para pemimpin pribumi. Hal ini dijadikan alasan oleh residen untuk menangkap Kiai Hasan. Residen Priangan menulis surat ke Batavia yang menyatakan bahwa rakyat lebih menghargai dan patuh kepada Kiai Hasan Maolani daripada kepada Bupati Kuningan. Residen juga melaporkan bahwa Kiai Hasan akan melawan “gubernemen” (pemerintah Hindia Belanda) dan ajarannya bertentangan dengan ajaran Islam.

Kiai Hasan Maolani yang sederhana itu dengan kata-katanya yang dibuat sedemikian rupa, hingga dipandang sebagai orang yang mempunyai kekuatan luar biasa dan dilebihkan dari keistimewaan ulama lainnya, sungguh membahayakan masyarakat serta mengganggu ketenteraman jika kepentingan kiai tersebut mendapat angin. Pada bagian akhir suratnya, Residen Priangan menulis kata-kata “Saya berharap bahwa Paduka Yang Mulia akan mendapat alasan, juga dengan laporan yang telah diberikan oleh para bupati. mengenai orang tersebut, untuk mengasingkan Kiai Lengkong dari Pulau Jawa.”

Diasingkan ke Tondano

Melihat gerakan Kiai Hasan Maolani, yang semakin hari dianggap semakin berbahaya, pemerintah kolonial akhirnya mengambil tindakan Kiai Hasan harus ditangkap. Dalam catatan keluarga, Kiai Hasan Maolani dibawa oleh petugas pemerintah kolonial, pada Hari Kamis, tanggal 12 Sapar 1257 H (1837 Masehi) waktu asar. Dikatakan bahwa kiai akan dibawa menghadap kepada Residen Cirebon untuk dimintai keterangan. Namun ternyata, Kiai Hasan tidak pernah kembali. Ia ditahan di Cirebon.

Ternyata setelah berada dalam tahanan di Cirebon, para murid, santri, dan masyarakat umum datang berduyun-duyun tiap hari menjenguk Kiai Hasan Maolani. Hal ini membuat pemerintah kolonial kewalahan. Oleh karena itu, diputuskanlah untuk memindahkan Kiai Hasan ke Batavia dengan diangkut kapal laut. Di Batavia, Kiai Hasan Maolani tetap saja mendapat kunjungan para murid dan santrinya dalam jumlah yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, setelah ditahan selama 9 bulan di Batavia, diambil tindakan lain: Dengan surat keputusan tanggal 6 Juni 1842, Kiai Hasan Maolani diasingkan ke Menado dengan status sebagai tahanan negara.

Kiai Hasan ternyata dibawa terlebih dahulu ke Ternate, dari sini kemudian dibawa ke Kaema. Seratus hari kemudian, ia dipindahkan ke Tondano. Di sini Kiai Hasan tinggal di Kampung Jawa bersama pasukan Kiai Mojo (panglima pasukan Diponegoro) yang diasingkan dari Jawa Tengah.

Di pengasingan

Ternyata selama di pengasingan, Kiai Hasan Maolani tidak tinggal diam. Di Kampung Jawa, ia mengajar bekas pasukan Diponegoro yang ingin mendalami agama Islam. Lama-kelamaan, makin banyak muridnya, termasuk orang sekitar. Banyak orang yang tadinya non-Islam berhasil diislamkan. Akhirnya, Kiai Hasan membuka pesantren, yang dikenal sebagai “Pesantren Rama Kiai Lengkong”. Semakin lama namanya tambah terkenal bukan karena kekeramatannya, namun juga karena ajarannya yang mudah dimengerti. Kiai Hasan juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan pertanian dan perikanan sebagaimana dilakukannya di Desa Lengkong dahulu.

Putra kiai yang bernama Mohamad Hakim pernah mengajukan suatu permohonan kepada pemerintah agar ayahnya dikembalikan dari tempat pengasingannya. Namun, Residen Priangan yang dimintai pendapatnya tentang hal ini tetap berpegang pada pendiriannya. Ia tidak mau mengambil risiko dengan mengatakan bahwa seorang yang diasingkan belum tentu akan jera dengan hukuman yang ditimpakan kepadanya.

Kemudian keempat orang putranya kembali mengajukan permohonan kepada pemerintah pada bulan Desember 1868, yang isinya menyatakan bahwa ayah mereka yang sudah berusia 90 tahun itu supaya dikembalikan ke Jawa. Semua permintaan ini ditolak karena Kiai Hasan dianggap terlalu berbahaya meskipun sudah diasingkan, pengaruhnya masih terasa. Para murid, santri, dan rakyat tetap menjalankan anjuran-anjurannya baik dalam beribadah ritual maupun ibadah sosial.

Untuk ketiga kalinya, salah seorang putra Kiai Hasan Maolani mengajukan permohonan untuk menengok ayahnya di Menado. Semula Residen Cirebon menolak permohonan itu, tetapi setelah mendapat saran dari gubernur jenderal, barulah putra kiai yang bernama Kiai Absori diizinkan menengoknya ke Menado.

Pada tanggal 29 April 1874 Kiai Hasan Maolani meninggal dunia dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kiai Mojo di Tondano. Kiai Hasan diasingkan begitu lama, namun namanya tetap melekat di hati rakyat Kuningan. Orang mengenangnya sebagai “Eyang Menado”. Makamnya banyak diziarahi orang, baik orang Kuningan maupun masyarakat setempat. Namun, yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana kita memberikan penghargaan atas perjuangannya. Rasanya bukan hanya masyarakat Kuningan yang setuju agar K.H. Hasan Maolani diangkat sebagai pahlawan nasional. 

Digitalisasi

Selain artikel Prof. Dr. Nina H lubis, MS di atas,  terdapat berita tentang KH Hasan Maolani di situs nu.or.id. Situs resmi PBNU itu menulis sejumlah naskah Eyang Hasan Maolani Lengkong berhasil didigitalkan oleh tim Digital Repository of Endagered Manuscript of South East Asia (Dreamsea) di Al-Fattah Institute, Lengkong, Kuningan, Jawa Barat, pada Jumat (14/9/2018).
 
 
Faiq Ihsan, salah satu keturunannya, menuturkan naskah tersebut terdiri dari berbagai bidang ilmu agama, antara lain fiqih, tafsir, hizib, dan kitab Tarekat Syatariyah.
 
"Mayoritas Tarekat Syattariyah. Sayrussalikin karya Syekh Abdus Shomad Al-Falimbani dan Talqin Baiat Syattariyah," imbuhnya mencontohkan.
 
Menariknya, meskipun dalam keseharian masyarakat Lengkong, Kuningan menggunakan bahasa Sunda, tetapi semua naskah Eyang Hasan Maolani tidak ada yang berbahasa Sunda. Adib Misbahul Islam, ketua tim Dreamsea, menuturkan bahwa bahasa yang digunakan dalam manuskrip tersebut terdiri dari bahasa Arab dan Jawa.
 
Saat ditanya perihal penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pendidikan saat itu, dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta itu menyatakan perlu penelitian lebih lanjut.
 
"Saya gak berani memastikan. Perlu penelitian untuk memastikannya," kata ahli filologi itu, meskipun ia juga pernah menemukan manuskrip berbahasa Jawa di daerah Tasikmalaya.
 
Adapun kondisi mayoritas naskah cukup memprihatinkan. Selain lapuk dimakan usia, beberapa naskah juga rusak karena serangga dan lembabnya tempat penyimpanan. Manuskrip yang berkertas eropa dan daluwang itu beberapa di antaranya sudah tak berjilid. Tak sedikit dalam satu jilidan, terdapat beberapa kitab.
 
Meskipun demikian, ada beberapa naskah yang masih cukup baik karena masih terus dibaca oleh pemiliknya. KH Mansur Yunus, pemilk naskah, mengaku saat membaca kitab tersebut, ia lebih mudah memahaminya. Pengasuh salah satu pondok pesantren di Windujanten itu kerap kali membersihkan naskahnya menggunakan kemoceng sehingga kondisi naskah sangat terjaga.
 
"Membaca kitab itu berbeda dengan membaca kitab lain. Selalu mendapatkan futuh, atau petunjuk pemahaman yang dituju. (Ini) semacam berkah dari leluhur," katanya.
 
Selain mendigitalkan manuskrip Eyang Hasan Maolani, tim Dreamsea juga mendigitalkan naskah dari Desa Ciwedus, Timbang, Kuningan.
 
Sedangkan M. Nida` Fadhlan dalam diskusi Turats Ulama Nusantara yang bertema Syekh Hasan Maolani Lengkong, Jejak Kiai Kampung di Pengasingan Kolonial di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tengerang Selatan, Banten, Sabtu (5/8/2017), menceritakan bagaimana ia mempertahankan Syekh Hasan Maolani sebagai objek penelitian Tesis dengan tidak menggunakan naskah asli. "Hasan Maolani ini orang penting, orang hebat, walaupun kiai kampung tapi diteliti oleh Drewes tahun 1925. Bahkan Drewes menyebutkan sebagai salah satu dari tiga guru Jawa," katanya.
 
Peneliti Barat lain adalah Babcock (1981), Bruinessen (1994), Laffan (2011) dan salah satu sejarawan Indonesia Fathurahman (2008),  dalam karyanya berjudul "Tarekat Syattariyah di Minangkabau" dan terakhir sebuh buku terbit tahun 2014 karya Syarifuddin dengan perspektif arkeoloigs.
 
Sedangkan Nida` sendiri ingin memberikan perspektif berbeda, dimana menjadikan surat-suratnya di pengasingan sebagai sumber primer penelitian. Pendekatannya sangat kaya. "Syekh Hasan Maolani dilihat dari terekatnya oke, fenomenologisnya oke, arkeologisnya, termasuk perspektif etnografinya," ujarnya.  
 
"Kiai kampung tapi dikaji secara global, kenapa? Ini yang perlu kita cari," tandas peneliti PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
 
Banyak ulama-ulama yang besar juga kiai kampung. Tapi karena terus di-endors dan dikaji oleh kita, kemudian akhirnya dikaji secara global, mereka dikenal banyak orang. Banyak juga kiai kampung yang kemudian sukses dalam berbagai bidang. "Saya bangga menyebut eyang Hasan Maolani ini sebagai Kiai Kampung," katanya.
 
Begitu juga, menurut Nida`, sebutan "eyang", digunakannya karena ingin meletakkan sosok Hasan Maolani dalam konteks sosiologis. Sebutan ini digunakan oleh masyarakat sekitar dan para keturunannya di dalam karya tulis.
 
Dalam silsilah Kiai Hasan Mughni, Syekh Hasan Maolani merupakan keturunan ke-12 dari Sunan Gunung Jati yang nasabnya sampai ke Rasulullah saw. Ia menghabiskan sisa umurnya di pengasingan kampung Jawa Tondano. Selama di Tondano, beliau bertemu denga para pasukan Kiai Mojo, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro.
 
Menurut penulis buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie, Syekh Hasan Maolani Lengkong ini korban dari Islamophobia Kolonial Belanda pasca-perang Diponegoro. Beliau dituduh mengajarkan pengamalan tarekat yang sesat, dan berani melawan kepentingan kolonial.
 
Dalam surat-suratnya, menurut Nida Fadlan, justru beliau menganjurkan kepada keturunannya (dzurriyah) agar jangan sampai meninggalkan syariat. Meski di pengasingan, beliau tetap memberikan semangat perjuangan melawan kolonial melalui surat-surat untuk keturunannya.
 
(agus w).