press enter to search

Minggu, 22/09/2019 00:41 WIB

Perdebatan Hak untuk Mati Vincent Lambert di Perancis

Redaksi | Kamis, 11/07/2019 21:03 WIB
Perdebatan Hak untuk Mati Vincent Lambert di Perancis Keluarga Vincent Lambert menyediakan foto saat Vincent berada di tempat tidur rumah sakit tahun 2015, meminta agar wajahnya dikaburkan.(AFP)

Aksi.id - Seorang pria lumpuh menjadi simbol bagi perdebatan hak untuk mati di Prancis. Ia akhirnya meninggal dunia Kamis 11 Juli sesudah dokter mencabut pipa makanan - yang mempertahankannya hidup.

Vincent Lambert, 42 tahun, berada dalam keadaan vegetatif - hidup tapi lumpuh total - sejak mengalami kecelakaan sepeda motor 11 tahun lalu.

Dokter mulai memutus pipa makanan minggu lalu sesudah ada keputusan akhir dari pengadilan kasasi di Prancis.

Eutanasia - mengakhiri dengan sengaja hidup seseorang yang sakit berat secara tenang dan mudah atas dasar perikemanusiaan - merupakan tindakan ilegal di Prancis.

Tetapi dokter diperbolehkan melakukan bius mendalam bagi pasien yang sakit sangat parah.

Kasus Vincent Lambert ini menyebabkan kontroversi tajam baik di keluarganya maupun di Prancis, hingga memicu demonstrasi di jalan-jalan di Paris.

Keponakannya menyatakan Vincent meninggal pukul 08.24 waktu setempat, sembilan hari sesudah pipa makannya dicabut.

Pada tanggal 2 Juli, Pengadilan Kasasi di Prancis memutuskan untuk memperbolehkan dokter mencabut pipa makan untuk Vincent Lambert, yang merupakan mantan perawat psikiater.

Tim medis di Rumah Sakit Sébastopol di kota Reims kemudian mulai mencabut pipa makannya sambil memastikan "pembiusan mendalam dan berkesinambungan".

Orang tua Vincent Lambert terus berupaya mempertahankan agar anak mereka tetap hidup. Namun mereka diberitahu bahwa sudah tak ada upaya hukum yang bisa dilakukan lagi.

Hari Senin (08/07) mereka "mengundurkan diri" untuk menerima kematian putra mereka.

Dukungan kepada Vincent Lambert di Paris, 11 Juli 2019Hak atas fotoREUTERS
Image captionUpacara diselenggarakan di Paris hari rabu (10/07) untuk memberi dukungan kepada Vincent Lambert.

Ayahnya, Pierre Lambert, 90, meggambarkan keputusan pengadilan kasasi itu sebagai "pembunuhan tersembunyi" dan "eutanasia".

Namun istri Vincent Lambert dan banyak orang lain berpendapat bahwa membiarkan Vincent meninggal dunia merupakan jalan kemanusiaan.

Apa yang terjadi dengan Vincent Lambert?

Tahun 2008, Vincent Lambert mengalami kecelakaan yang membuatnya mengalami kelumpuhan total dengan kesdaran diri yang minimum.

Dokter mengatakan kerusakan otak yang dideritanya tak bisa disembuhkan.

Ia dibiarkan hidup hanya dengan air dan makanan yang diberikan lewat pipa di perutya. Ia bisa bernapas tanpa alat bantu, dan sesekali bisa membuka mata.

Rachel Lambert di European Court of Human Rights di Strasbourg, 7 Januari 2015Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionRachel Lambert saat sedang menghadiri sidang di Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa untuk kasus suaminya, pada sidang bulan Januari 2015.

Sesudah beberapa tahun berupaya memperbaiki keadaannya, tim medis Vincent menyarankan di tahun 2013 agar perawatan dihentikan - sesudah mereka berkonsultasi dengan istirnya, Rachel Lambert.

Di bawah hukum Prancis, Rachel adalah wali hukum Vincent dan ia memastikan bahwa sebelum kecelakaan Vincent sempat mengatakan tidak ingin hidup dengan alat bantu.

Dokter melakukan berbagai upaya untuk mencabut alat bantu hidupnya, tetapi karena tentangan orang tua Vincent, mereka harus melalui berbagai upaya hukum.

Mengapa kasusnya ke pengadilan?

Anggota keluarga Vincent Lambert tidak diajak berkonsultasi mengenai keputusan tim medis, maka mereka menentang saran pengakhiran hidup Vincent dalam pertarungan hukum yang panjang.

Pihak yang mendukung adalah istrinya, enam orang saudara-saudarinya, dan seorang keponakan. Sementara orang tua Vincent, Pierre dan Vivianne - keduanya penganut Katolik yang taat - serta dua orang saudaranya berkeras bahwa perawatan Vincent harus tetap dilanjutkan.

Pierre (kiri) dan Viviane Lambert ketika berkampanye 23 Juli 2015Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionOrang tua Vincent Lambert, Pierre (kiri) dan Viviane yang berkampanye selama bertahun-tahun untuk mempertahankan hidup anak mereka.

Pada puncak perseteruan di tahun 2015 orang tua Vincent mengedarkan sebuah video lewat kanal Katolik di situs YouTube yang memperlihatkan Vincent bereaksi terhadap anggota keluarganya.

Dokter yang merawat memprotes video ini karena dianggap memberi informasi sesat tentang kondisi Vincent dan memanipulasi publik luas.

Kasus Vincent kemudian meluas ke berbagai pengadilan, hingga ke Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa, (ECHR).

EHCR mengukuhkan keputusan pengafilan Perancis yang memperbolehkan alat dukung hidup Vincent Lambert untuk dicabut.

Meskipun begitu, ketika itu dokter tidak menjalankan keputusan tersebut di tengah kekhawatiran soal keamanan seiring ketakutan yang diungkapkan oleh Pierre Lambert bahwa ada rencana untuk menculik Vincent.

Hak untuk banding ke pengadilan lebih tinggi pun sudah tidak ada lagi bagi pihak yang menentang, maka kemudian satu tim medis baru yang ditunjuk untuk menangani Vincent mulai mencabut alat dukung hidup untuknya.

Hidup Vincent Lambert pun berakhir Kamis, 11 Juli 2019.

(ny/ Sumber : BBCIndonesia)