press enter to search

Minggu, 25/08/2019 20:13 WIB

Begini Tradisi Ponpes Nuu War AFKN Hormati Orang Berbagi Ilmu

| Sabtu, 13/07/2019 17:31 WIB
Begini Tradisi Ponpes Nuu War AFKN Hormati Orang Berbagi Ilmu Penyumbang ilmu disambut dengan begitu terhormat di Ponpes Nuu Waar AFKN.

BEKASI (aksi.id) - Tiba-tiba tim hadroh datang. Dengan tetabuhan yang mengiringi shalawat. Bermain di depan beranda rumah pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nuu Waar AFKN (Al Fatih Kaaffah Nusantara) sekaligus Presiden AFKN Ustadz Fadlan Garamathan.

 Sabtu pagi, 13 Juli 2019, saya yang duduk dan berdiskusi dengan Ustadz Fadlan Garamathan menjadi terhibur dengan kedatangan tim musik rebana tersebut. Tak lama berselang, datang sejumlah santri lainnya dengan membawa tandu bercat putih.

Namun rasa senang di hati kontan berubah menjadi keterkagetan luar biasa ketika Ustadz Fadlan menyampaikan bahwa tim itu menyambut saya yang akan memberikan semacam kuliah umum. "Antum nanti naik tandu, lalu diiringi hadroh sampai ke aula," tutur Ustadz Fadlan sambil tersenyum.

Saya bersegera menolak diperlakukan seperti itu. Saya sampaikan bahwa saya sebaiknya berjalan kaki ke aula. "Tidak boleh menolak. Ini menjadi tradisi kami menyambut tamu kehormatan," ujarnya.

Ustadz Fadlan menyebutkan sejumlah tokoh internasional dan nasional, yang diperlakukan yang sama. Dari duta besar, Kang Aher waktu menjabat Gubernur Jawa Barat hingga Ahmad Syaikhu, yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Wali Kota Bekasi.

Saya tetap menyampaikan penolakan. Alih-alih berusaha menghindari, namun saya harus pasrah. Karena Ustadz Fadlan langsung merangkulkan satu tangannya ke pinggang saya. Beliau lalu menuntun saya ke tandu.

 Duh...betapa tidak karuannya perasaan ini. Saya naik tandu, lalu diangkat oleh sejumlah santri. Kami pun berangkat menuju aula dengan diiringi tetabuhan hadroh dan shalawat. Yang terasa bahwa saya amat tidak sopan adalah Ustadz Fadlan Garamathan berjalan di belakang saya. Duuh...ampuni hamba, Ya Allah, yang tak sopan terhadap ulama besar itu.

Ketika tiba di beranda aula, saya turun dari tandu. Ratusan santri berbaris rapi menyambut. Mereka juga bershalawat.  Sebagian dari santri laki-laki.menyalami dengan cara yang khas, mencium bolak-balik tengkuk dan telapak tangan saya.

Begitu tiba di depan, saya diselesaikan oleh MC. Selanjutnya saya memberikan kuliah umum bertema `Berita Jurnalistik.`

Ratusan santri, sebagian besar asal Indonesia timur, termasuk Papua, Papua Barat, Maluku, Sulawesi dan lainnya itu bersemangat dalam sesi literasi tersebut.

Santri-santri, yang dibiayai sepenuhnya, termasuk transportasi pulang pergi dan biaya proses belajar, itu kelak menjadi SDM-SDM tangguh membangun Indonesia, terutama Indonesia bagian timur.

Mari bantu mereka!

(Agus W).