press enter to search

Minggu, 08/12/2019 22:26 WIB

Pemprov DKI Bagikan Lidah Mertua Gratis untuk Serap Polusi Mulai Agustus

Redaksi | Selasa, 23/07/2019 09:25 WIB
Pemprov DKI Bagikan Lidah Mertua Gratis untuk Serap Polusi Mulai Agustus Tanaman Lidah Mertua

JAKARTA (Aksi.id) - Pemprov DKI Jakarta bakal membagikan tanaman lidah mertua secara gratis. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berharap tanaman ini dapat mengurangi polusi udara di Ibu Kota.

"Dinas kehutanan mendapatkan rekomendasi beberapa tanaman untuk ditanam yang diharapkan bisa ikut mengendalikan pencemaran udara," kata Anies di DPRD DKI Jakarta.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Suharini Eliawati menyatakan, rencananya pembagian gratis dilakukan per Agustus, di Kantor DPKP.

Masyarakat bisa mendapatkan tanaman lidah mertua secara gratis cukup dengan menunjukkan KTP DKI Jakarta.

"Ditukar pakai KTP dapat dua tanaman. Itu untuk koleksi yang sekarang kita punya. Karena proses pengadaannya sendiri akan kita lakukan pada Agustus. Sekarang ini masih proses lelang," kata Suharini saat dihubungi, Senin (22/7) malam.

Secara teknis Suharini menjelaskan bahwa tanaman lidah mertua mampu menyerap 107 polutan udara. Dari penelitian yang ada setidak-tidaknya 15-18 pot tanaman lidah mertua itu mampu secara signifikan mengurangi polusi.

"Kalau saya kan hanya belajar dari analisanya dari kawan-kawan yang sudah melakukan penelitian. Jadi tahun 2013 itu ada salah satu peneliti dari Semarang, saya baca, jadi tanaman lidah mertua sendiri mampu menyerap 107 polutan udara," jelas dia.

"Tapi pada dasarnya semua tanaman itu punya manfaat karena begitu dia melakukan proses fotosintesa, dia akan mengeluarkan O2 dan menangkap CO2-nya," lanjut dia.

Suharini menuturkan tak hanya tanaman lidah mertua yang dibagikan gratis. Ada sejumlah tanaman lain seperti tanaman toga, Alpukat, Belimbing, Pucuk Merah akan dibagikan gratis.

Pembagian tanaman gratis ini juga dilakukan secara online. Warga yang ingin mendapatkan tanaman bisa mendaftar secara online, untuk selanjutnya tanaman dikirim dengan menggunakan jasa ojek online.

"Itu nanti kita mau buka sistem online, jadi warga itu enggak usah datang ke kami. Kalau dia hanya dua pohon, ngambil di tempat kami kan jauh, boleh dia pakai gojek, nanti gojek mereka yang bayar. Itu lebih mendekatkan pelayanan kita ke masyarakat," tutup dia.

Bukan Solusi Tepat

Sementara itu secara terpisah, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu menilai pembagian tanaman lidah mertua bukan solusi yang tepat untuk mengatasi polusi udara di wilayah DKI Jakarta.

Ia mengatakan rencana Pemprov DKI Jakarta mengurangi polusi udara dengan membagikan tanaman lidah mertua memang tidak salah, karena menurut Badan Aeronautika dan Antariksa Amerika Serikat tanaman jenis Sansevieria trifasciata memiliki kemampuan menyerap racun di udara.

"Tapi masak iya solusinya hanya bagi-bagi lidah mertua? Lah cerobong-cerobong yang masih mengeluarkan asap, knalpot-knalpot yang masih mengeluarkan gas buang berwarna hitam, sampah yang masih dibakar mau diapakan?" kata Bondan, Selasa (23/7).

Bondan menekankan pengendalian polusi udara seharusnya dilakukan dari sumber pencemarnya. Pertanyaannya, lanjut Bondan, berapa persen target pengurangan pencemaran udara yang ditetapkan Pemprov DKI untuk mewujudkan udara Jakarta yang lebih bersih pada 2030.

"Lalu berapa anggaran yang disiapkan untuk menurunkan persentase emisi transportasi, industri, pembakaran sampah di Jakarta?" katanya.

Pakar tanaman hutan kota Endes N Dahlan mengatakan tanaman pepohonan lebih efektif menyerap pencemar udara dibandingkan dengan tanaman jenis lain.

Ia mengatakan, tanaman pepohonan mampu menyerap polutan lebih tinggi karena memiliki jumlah daun lebih banyak. Endes menerangkan pohon yang daunnya lebar dan berdaun banyak seperti Trembesi mempunyai kemampuan tinggi menyerap pencemar berupa gas dan menyerap polutan yang berbentuk debu.

"Mawar, anggrek, lidah mertua juga bisa [mengurangi polusi], tapi tidak setinggi tanaman pepohonan kemampuan serapan polutannya," kata pengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut. (ds/sumber antara)