press enter to search

Rabu, 11/12/2019 18:38 WIB

Naik Level Waspada, Tangkuban Perahu Ditutup Lagi dan Pengelola Kawasan Wisata Pasrah

Redaksi | Jum'at, 02/08/2019 14:06 WIB
Naik Level Waspada, Tangkuban Perahu Ditutup Lagi dan Pengelola Kawasan Wisata Pasrah Erupsi gunung Tangkuban Perahu. (ist)

BANDUNG (Aksi.id)  – Pengelola Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu, PT Graha Rani Putra Persada, mengaku pasrah dengan keputusan penutupan menyusul peningkatan aktivitas gunung itu.

Direktur PT Graha Rani Putra Persada, Putra Kaban, menyatakan menaati keputusan otoritas terkait, yakni Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Kami mematuhi semua, kami patuh,” katanya, singkat, Jumat, (2/8).

BNPB mengonfirmasi bahwa Gunung Tangkuban Perahu ditutup untuk umum mulai Jumat pagi hingga waktu yang belum ditentukan menyusul peningkatan level kedaruratannya dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).

Warga di sekitar Gunung Tangkuban Perahu, pengunjung, wisatawan, dan pendaki, diimbau untuk tidak mendekati kawah puncak dalam radius 1,5 kilometer dari kawah aktif dan mewaspadai letusan freatik yang bersifat tiba-tiba tanpa didahului oleh gejala vulkanik yang jelas.

"Selain itu kawasan Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu ditutup sementara hingga jarak aman," kata Agus Wibowo, Pelaksana Harian Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Konsentrasi Gas Naik

Badan Geologi melaporkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Perahu belum mereda. Gunung itu erupsi lagi pada Kamis malam, 1 Agustus 2019, setelah sempat mereda usai erupsi enam hari sebelumnya.

Berdasarkan catatan Badan Geologi, erupsi pada Kamis malam terjadi pukul 20:46 WIB dengan tinggi kolom abu teramati lebih-kurang 180 meter dari dasar kawah. Kolom abu teramati berwarna kelabu condong ke arah utara dan timur-laut.

Erupsi serupa terjadi lagi empat jam setelahnya, atau Jumat dini hari. Kolom abu tak teramati karena cukup gelap, namun erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi lebih-kurang 3 menit 6 detik. Erupsi kembali terjadi pada pukul 01.45, 03.57, dan 04:06 WIB.

"Secara deformasi, pascaerupsi 26 Juli 2019, Gunung Tangkuban Perahu masih mengalami inflasi kecil bersifat lokal. Data deformasi masih mengindikasikan aktivitas Gunung Tangkuban Perahu belum stabil," jelas Badan Geologi.

Secara geokimia gas, menurut Badan, pascarupsi 26 Juli 2019, di area sekitar Kawah Ratu menunjukkan hasil pengukuran konsentrasi gas vulkanik H2S dan cenderung menurun.

"Namun pengukuran gas tanggal 31 Juli dan 1 Agustus 2019 menunjukkan konsentrasi gas masih berfluktuasi dan cenderung naik." (ds/sumber viva.co.id)