press enter to search

Kamis, 28/01/2021 02:37 WIB

Kulon Progo Yogya Digoyang Gempa 5,1 SR, Terasa hingga Pacitan dan Semarang

Redaksi | Sabtu, 10/08/2019 23:32 WIB
Kulon Progo Yogya Digoyang Gempa 5,1 SR, Terasa hingga Pacitan dan Semarang   Gempa Kulon Progo. (ist)


JAKARTA (Aksi.id) - Gempa bumi kembali mengguncang Tanah Air. Kini giliran Kabupaten Kulon Progo yang dihampiri gempa tektonik dengan magnitudo 5,1 atau skala richter (SR) pada Sabtu (10/8) malam, sekitar pukul 8:26 WIB. Beruntungnya, gempa tak berpotensi Tsunami.

Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tektonik terjadi di wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa. Episenter gempa terletak pada koordinat 8,88 Lintang Selatan dan 110,06 Bujur Timur. Tepatnya berlokasi di laut pada jarak 113 kilometer (Km) arah selatan Kota Wates, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta pada kedalaman 71 km.

"Hingga pukul 20:54 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock)," ujar Rahmat Triyono, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/9) malam.

Menurut laporan masyarakat, guncangan dirasakan di Sanden Bantul, Kota Jogja, Giri Mulyo, Maguwoharjo Sleman dengan intensitas guncangan II-III MMI. Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Selain itu, guncangan juga terasa di wilayah Pacitan, Purworejo, Semarang, Klaten, Wonogiri, Kebumen, Cilacap, dan Ponorogo dengan intensitas guncangan II MMI. Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda yang digantung bergoyang.

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempabumi berkedalaman dangkal ini diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia," ungkapnya.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis Sesar Naik. (ds/sumber CNN)