press enter to search

Sabtu, 21/09/2019 13:14 WIB

Kapal Rombongan Pemancing Terbalik, 12 Penumpang & Kru Selamat

| Senin, 12/08/2019 10:23 WIB
Kapal Rombongan Pemancing Terbalik, 12 Penumpang & Kru Selamat

JAKARTA (aksi.is) - Rombongan Paguyuban Mancing mengalami nahas saat perjalanan mancing menggunakan kapal Endevour1, yang berangkat Sabtu pagi (10/8/2019), ke Kepulauan Seribu. Kapal mendapat kecelakaan hingga terbalik dan tenggelam, pukul: 15.00 WIB.

Namun beruntung, sebanyak 12 awak kapal yang terbagi atas 9 pemancing, 1 kapten dan 2 ABK (anak buah kapal) semua selamat dan hanya mengalami luka gores kecil.

Hal itu terungkap dalam sebuah postingan di Facebook milik akun Damon Prasetyo Wibowo. Dalam postingan Minggu pagi (11/8/2019) Damon menulis kronologisnya. Pukul 15.00 WIB, dalam perjalanan kembali dari karang jana (7km arah timur pulau pari) kapal melaju cepat menerjang ombak dan terlalu menyamping sehingga terbalik.

“Saya posisi di dalam kabin kapal bersama 3 rekan. Begitu kapal terbalik saya mencari jalan keluar kapal dan berenang ke arah atas (sudah tidak sempat membawa apa-apa,red). Dompet berisi kartu, dll, HP, kunci, tackle semua tengelam). Persis di film-film action. Beneran!” kenang Damon.

Begitu di atas permukaan air laut, lanjut Damon, dia mencari live jacket dan berenang ke arah ujung kapal mendorong keluar pelampung kapal. “Saya dan teman-teman berpegangan semua dengan tali yang diikat ke kumbul kapal,” ujarnya.

Sekitar 10 menit kapal tenggelam total, lanjut dia, terbalik, ujung kapal ke atas dan tengelam di kedalaman sekitar 30-40m. “Saya dan 12 orang berkumpul dan sebagian terpisah, kami mencari cara supaya semua bisa diikat di tali dan mengapung bersama bermodalkan lifevest dan 3 pelampung kapal,” tuturnya dalam postingan itu.

Akhirnya semua bisa berkumpul dengan masing-masing memakai lifevest, sambung dia, dan mereka terapung-apung selama 3.5 jam sambil mencari cara berenang ke pulau terdekat (yang terlihat pulau Pari).

“Ini menjaga agar teman-teman tetap semangat dan tidak panik, karena sudah ada yang mengalami kram dan mengigil terkena hipotermia. Kapten memutuskan berenang ke arah Pulau Pari dulu untuk mencari pertolongan,” terangnya.

Pukul 17.00 WIB, kata dia, ada dari kejauhan kapal cargo. “Kalau tidak salah namanya (….. LAUT). Kami meniup peluit keras-keras dan melambaikan tangan dan mereka memberikan signal mengerti,” imbuhnya.

Setelah menunggu lama, Damon melanjutkan, ternyata kapal tersebut melihat kapten kapal mereka dan meyelamatkan dia terlebih dulu. “Ini kami ketahui setelah naik di kapal. Kapal tersebut bergerak ke arah kami sambil mengulurkan tali tambang dan tangga tempel, sulit sekali bertahan didekat kapal sebesar itu,” ulasnya.

Jadi tinggi sekitar 10 meter ke atas. Karena ada arus kencang sekali ke arah belakang. “Tangga hanya 1 dan kami harus bergantian naik, beberapa teman sudah tidak kuat lagi bergerak dan kram. saya sendiri juga mengalami hal yang sama,” kenangnya.

Damon mau naik tangga, tapi ada 1 teman sudah tidak bisa bergerak sama sekali jadi harus diikat strainer dan di katrol total ke atas. “Saya pegang dia untuk pastikan tidak hanyut dan tetap sadar karena dia sudah minum air laut terlalu banyak. Hal ini sulit sekali karena saya harus juga berpegangan ke ujung tangga untuk menjaga jangan sampai kita ketusuk ujung tangga atau terhanyut,” paparnya.

Setelah teman Damon itu naik, baru dia ikatkan tambang di lingkar dadanya. “Saya minta ditarik dan saya berhasil memanjat tangga dengan sisa tenaga. Beberapa orang menangis sampai di atas. Saya sendiri memeluk orang yg menarik tambang saya,” cerita dia.

Di atas kapal mereka diberi baju kering, minuman hangat, makanan dan obat-obatan P3K dan dipersilahkan beristirahat. “Luar biasa sekali kebaikan mereka waktu berusaha menolong kami dan memperlakukan kami bagai saudara. Kami berhutang budi dan nyawa,” pujinya.

Setelah itu, mereka dijemput kapal Basarnas dan diantar ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ada sekitar 30 orang petugas berwenang dari pihak Basarnas, syahbandar dan petugas medis menanti mereka.

“Kmi dimintai keterangan. Diantar ke rumah sakit BMC untuk diperiksa dan dirawat. Setelah luka-luka diobati saya kabur duluan ke rumah minta dipesankan grab. Sampai di rumah, baru saya cerita ke istri apa yang menimpa dan dia pun shock,” tutupnya.

Pesan moral yang coba disampaikan Damon, terutama buat teman-teman yang hobi mancing di laut, rinci Damon, selalu waspada dan bersiap mengenakan lifevest/lifejacket, jangan panik dan lihat situasi kondisi, pikirkan keselamatan pribadi terlebih dulu baru menolong orang lain, selalu berpikir positif dan semangat seburuk apapun kondisinya.

Kemudian, itung inventaris keselamatan yang bisa dikumpulkan, tetap bersama dan jangan terpisah, tetap sabar menanti bantuan dan memberi signal dan paling penting berdoa ke Allah minta bantuan dan dikuatkan imannya.

“Berapa teman sudah panik shock dan hampir menyerah (sakratul maut) saya beri semangat untuk berusaha bertahan demi keluarga mereka dan saya bentak ala militer supaya tetap sadar,” tandasnya.

Kejadian ini bisa menimpa siapa saja di laut, kapal mancing ini kapal terbagus yang pernah saya naiki nyatanya,ya, kejungkel nyungsep. Selalu bersiap dan pantang menyerah. “Jika belum takdir pasti ada jalan keluar. Saya dan rekan-rekan mungkin mati jika tidak ada pertolongan sedini kemarin,” ujarnya.

Ini mukjizat Tuhan, Damon sepenuhnya menyerahkan nyawanya dan bernazar kemarin ke Yesus. Dan Dia menjawab pertolongann itu . Jadi Tuhan itu nyata. Kita hanya harus percaya dan tidak takut, itulah iman.

“Buat teman-teman mancing, saya sepertinya pensiun melaut, semua jadwal-jadwal janji mancing saya akan saya cancel harap maklum,” pungkasnya

(via/sumber dan foto: indopos.co.id).

Keyword Kapal Tenggelam