press enter to search

Jum'at, 23/08/2019 03:38 WIB

Berbagai Cara Sopir Omprengan Akali Perluasan Ganjil Genap di Jakarta

Redaksi | Selasa, 13/08/2019 11:16 WIB
Berbagai Cara Sopir Omprengan Akali Perluasan Ganjil Genap di Jakarta Petugas Dishub DKI melakukan sosialisasi perluasan ganjil genap di Ibukota. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Pengemudi angkutan jalan pelat hitam atau omprengan punya cara sendiri menyiasati uji coba perluasan ganjil genap di sejumlah ruas jalan di Jakarta yang diterapkan sejak Senin (12/8).

Salah satu sopir omprengan, Dedi Undi (47), Selasa (13/8) menilai, kebijakan perluasan uji coba ganjil genap tak efektif karena mudah disiasati pengendara termasuk dirinya. "Ada berbagai caralah," katanya.

Dia mengaku kerap `kucing-kucingan` dengan polisi atau petugas Dinas Perhubungan DKI di area ganjil genap saat jam sibuk. Dedi yang rutin mengangkut penumpang dari kalangan pekerja kantoran di Kota Bekasi menuju kawasan Kuningan ini menyiasati uji coba ganjil genap di lintasan Tol Jakarta-Cikampek dengan mengambil jalur alternatif Jalan Kalimalang-Cawang.

"Ongkosnya Rp22 ribu per penumpang. Kalau sudah sampai di kawasan Otista jalur Cawang-Tanjung Priok pada jam operasional ganjil genap saya lihat situasi dulu. Kalau ada petugas ya saya parkir dulu di tempat aman," ujar Dedi di Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Saat tidak ada petugas yang berjaga, Dedi lewat begitu saja karena tidak ada petugas yang mengawasi.

Berbeda dengan sopir omprengan lainnya, Monang (43). Dia menyiasati perluasan uji coba ganjil genap dengan menyimpan dua pelat nomor di dalam kendaraannya, masing-masing bernomor akhir ganjil dan genap. Penggunaan pelat ini menyesuaikan tanggal ganjil dan genap ketika uji coba berlaku.

"Pelat nomor yang saya pakai hari ini ganjil. Sebenarnya ini pelat adik saya karena kebetulan tanggal ganjil. Besok baru saya pakai pelat yang asli (genap)," katanya.

Menurutnya, Pemprov DKI mesti meninjau ulang kebijakan perluasan ganjil genap ini. Alih-alih memperluas ganjil genap, Monang menilai moratorium kendaraan dan pembatasan mobil tua lebih efektif untuk mengurangi populasi kendaraan di ibu kota.

"Sebab yang sudah-sudah saja gagal. Buktinya jalanan masih macet. Kalau mau serius berlakukan moratorium kendaraan dan mobil tua juga harus dibatasi di Jakarta," kata Monang.

Pengalaman lain diungkapkan sopir omprengan Sudirman (65). Ia mengaku pernah `menyuap` oknum petugas saat ditilang di lintasan ganjil genap. "Kalau lagi apes (tertangkap petugas), paling saya kasih Rp100 ribu terus dilepas," tuturnya.

Namun, menurutnya, tak semua petugas lalu lintas saat ini mau menerima uang suap. Ia menyebut sejumlah petugas lalu lintas yang bertugas di daerah perbatasan DKI biasanya bersikap lebih tegas.

"Petugas yang galak itu biasanya di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta. Kalau di kawasan Pramuka, Cempaka Putih, Menteng, petugasnya tidak terlalu galak," ujar Sudirman.

Uji coba perluasan ganjil genap di Jakarta mulai diterapkan Pemprov DKI Jakarta, Senin (12/8) kemarin hingga 6 September mendatang. Kebijakan tersebut dikeluarkan demi menurunkan kadar polusi udara di ibu kota.

Ganjil genap yang semula hanya diterapkan di sembilan ruas jalan, kini berlaku di 25 ruas jalan Jakarta. Seperti sebelumnya, ganjil genap diterapkan pada Senin hingga Jumat, kecuali akhir pekan dan hari libur nasional mulai pukul 06:00-10:00 WIB dan pukul 16:00-21:00 WIB.

Perluasan ganjil genap akan sepenuhnya berlaku pada 9 September. (ds/sumber antara)