press enter to search

Sabtu, 21/09/2019 11:37 WIB

Dokter Forensik UI Ungkap Kejanggalan Kematian Mahasiswa Indonesia di Kampus Singapura

Redaksi | Sabtu, 17/08/2019 19:07 WIB
Dokter Forensik UI Ungkap Kejanggalan Kematian Mahasiswa Indonesia di Kampus Singapura Mahasiswa tewas di Singapura. (ist)

SINGAPURA (Aksi.id) - Ahli Forensik DNA dari Universitas Indonesia, dr Djaja Surya Atmadja, dimintai tolong oleh seorang wartawan untuk menganalisa hasil autopsi David Hartanto Widjaja, mahasiswa Nanyang Technological University (NTU) Singapura yang dikabarkan bunuh diri akibat terjun dari lantai 4 kampusnya.

Karena jasad David sudah dikremasi, maka analisa forensik dilakukan dr Djaja menggunakan manekin, dengan tujuan agar pihak keluarga David mengetahui dengan pasti penyebab meninggalnya pemenang Olimpiade Matematika Internasional 2005 tersebut.
Hasil reka autopsi tersebut menghadirkan fakta baru yang mengejutkan di balik kematian David. Reka autopsi tersebut juga membuat orangtua David yakin bahwa kematian sang anak bukanlah karena bunuh diri.

Dr Djaja Surya Atmadja yang memberikan penjelasan detail hasil reka autopsi yang ia lakukan terhadap analisa forensik jenazah David, 10 tahun yang lalu. Satu dekade berselang, dr Djaja masih yakin bahwa kematian David bukan karena bunuh diri, melainkan dibunuh.

Dokter yang malang melintang di dunia forensik selama 39 tahun tersebut juga membeberkan secara lengkap kejanggalan demi kejanggalan yang ia temukan dari hasil analisa forensik pihak Singapura. Simak wawancara kumparan bersama dr Djaja Surya Atmadja:

Dokter Djadja Surya Atmaja, kita tahu waktu itu dokter diminta pihak keluarga untuk melakukan reka autopsi. Itu bisa diceritakan lagi awal mulanya kenapa dokter bisa diminta tolong pihak keluarga untuk reka autopsi, sementara pihak Singapura juga sudah melakukan autopsi?

Begini, saya ini pada waktu itu status saya sampai sekarang juga masih sih, saya itu adalah dosen di FKUI. Datang seorang wartawan. Nah, wartawan itu tanya ke saya, dok, dokter bisa nggak membaca hasil autopsi dari Singapura? Saya bilang bisa, kenapa? Dia bilang ada satu orang mahasiswa Indonesia yang sekolah di Nanyang katanya dia bunuh diri.
"Dokter boleh nggak tolong dokter lihat?" Saya bilang "Ini kamu dapat dari mana?" Karena kan hasil autopsi tuh keluarga yang punya. "Oh saya dari keluarga. Keluarganya nanya, wajar apa nggak?" gitu.

Waktu saya baca, lho, dia bilang kesimpulannya karena jatuh. Nah, waktu saya tanya kenapa, jadi ceritanya keluarganya dipanggil, dibilang bahwa si David itu bunuh diri, lompat dari lantai empat. Nah, saya baca, lho lompat kok aneh kalau menurut saya, karena saya baca (hasil analisa forensiknya) luka-lukanya tuh tidak cocok.

Saya bilang lukanya kayaknya ada penganiayaan deh. Penganiayaan itu bukan jatuh, (tapi ada luka benda) tajam. Terus dia (wartawan tersebut) kaget. Dia bilang "Iya dok gimana caranya ya? bisa nggak dokter jadi saksi di pengadilan Singapura?" Saya bilang bisa saja, pada prinsipnya bisa.

Tapi kan saya harus nerangin dulu, lukanya itu banyak. Karena lukanya banyak, saya pikir satu hal, saya mesti menerangkan secara detil dulu ke keluarga sebenarnya apa yang terjadi. Nah, pada waktu itu saya punya ide, saya mau

Waktu itu saya dengan dokter lain menggambarkan luka-lukanya, dan bagusnya di Singapura itu detail sekali (analisa) lukanya dia gambarkan. Ada beberapa luka yang aneh menurut saya. Luka-luka jatuh itu memang ada, ada luka-luka lecet di mana-mana, itu pada orang jatuh itu normal. Cuma masalahnya saya temukan ada beberapa luka.

Satu luka di sebelah sini (sambil menunjuk bahu), luka di bahu belakang. Itu adalah luka (benda) tajam. Luka (benda) tajam itu sama luka tumpul itu beda. Luka tajam itu lebih tajam seperti pisau.

Saya bilang ini luka pisau. Dan kalau pisau nggak mungkin dia yang melukai diri sendiri karena ini bukan daerah yang buat bunuh diri. Yang kedua, saya dapatin apa? Luka di tangan sebelah kanannya, itu lukanya tajam dan miring lukanya.
Waktu itu saya pikir, kalau luka miring, dibilang luka bunuh diri, orang melukai diri di sini, nggak mungkin. Karena kenapa? Luka bunuh diri itu dia lurus. Kedua, kalau mau bunuh diri, orang pasti mengiris beberapa iris tipis-tipis, sudah gitu baru dalam satu. Jadi enggak cocok.

Nah, yang enggak cocok lagi apa? Saya lihat ternyata di sininya (menunjukkan lengan sebelah kanan) ada luka tangkis. Di sini, kalau orang diserang kan dia nangkis gini, di sini (bagian lengan) luka tajam semua nih, berarti dia diserang orang dan diserangnya pakai senjata tajam.

Tapi ada satu lagi. Dia menggambarkan waktu dia periksa daerah paha, ada gambaran bahwa di paha sebelah kirinya itu ada tulang patah. Patahnya itu kalau orang jatuh, patahnya patah begini (dr Djaja menunjukkan posisi tulang yang patah lurus).
Tapi ini patahnya seperti dipelintir, seperti spiral. Saya bilang, tidak mungkin karena secara forensik orang sebesar dia, (tingginya) lebih dari 1 meter 60 lebih lah, sampai 170 cm gitu, nggak mungkin.

Itu cuma bisa terjadi kalau orang itu dipelintir. Berarti kalau dia sampai bisa dipelintir, berarti ada yang megangin. Karena kalau dia nggak dipegangin, dipelintir, pasti orangnya yang terbalik. Betul nggak?

Pelakunya lebih dari satu orang berarti?
Pelakunya lebih dari satu orang. Tapi yang lebih mengherankan saya adalah keluarga sempat foto di TKP. Di fotonya itu (gedungnya) empat tingkat. Empat tingkat turun ke bawah tuh cukup jauh. Nah di situ (di lokasi jatuhnya David) tidak ada benda tajam.

Yang aneh lagi apa? Kalau kakinya patah, itu pagar (pembatas) untuk bisa terjun ie bawah kira-kira satu setengah meter. Berarti dia harus naik (ke atas pagar), baru dia bisa turun (terjun), lalu jatuh. Kalau dia naik (ke atas pagar), kakinya (kan) patah, nggak mungkin dia naik. Sudah gitu, posisi jatuhnya dia itu jauh dari tempat dia (terjun dari lantai 4), jauh ke sebelah sana (menunjuk ke arah depan). Jadi artinya seperti dilempar.

Menurut perkiraan dokter, jenazah David dilempar dari atas dari ketinggian berapa meter?
Kalau rata-rata (satu lantai) kan dua meter, dua meter empat tingkat kira-kira delapan meter lebih. Itu posisinya, dalamnya sih organ dalamnya memang luka-luka orang jatuh, tetapi luka luarnya itu luka orang dianiaya dengan senjata tajam.

Makanya waktu itu saya bilang, kok kesimpulannya kayak gini? Ya saya bilang kesimpulannya buat saya nggak cocok. Jatuh iya, tapi kalau dibilang bunuh diri, enggak. Pasti dia diserang.

Hasil analisa dokter akhirnya diterima? Bukankah di pengadilan koroner yang digelar pemerintah Singapura, hasilnya ditolak?

Mereka sidang ujung-ujungnya mereka memang maunya (hasilnya) itu bunuh diri. Karena kenapa? Itu masalah soal politis. Politik karena ternyata di Nanyang itu hampir 80 persen siswanya itu siswa orang Indonesia. Nah itu, apa ya, latar belakang pembunuhan itu atau penganiayaan itu, latar belakangnya politis. Jadi (kasus kematian David) Nggak mungkin bisa dimenangkan.

Jadi pada waktu itu pernyataan saya itu sempat masuk di koran di sana. Paling tidak menunjukkan bahwa memang itu yang mereka katakan tuh nggak sepenuhnya benar. Nah saya waktu itu ditanya, kalau begitu kenapa dokter forensiknya sana (Singapura) kok mau berbohong? Saya bilang tidak berbohong, saya kenal kok dokternya. Cuma begini, seorang dokter forensik itu adalah dokter yang hanya mengatakan kebenaran.

Dia menulis secara tepat, secara benar, apa yang dia temukan. Makanya saya bisa tafsirkan. Tapi sebagai warga negara yang baik, dia musti bela negaranya. Maka dia akan ambil kesimpulan yang mungkin tidak sesuai dengan ilmu. Tapi itu membuka peluang dokter forensik lain untuk menilai.


Paling tidak si dokter forensiknya itu menuliskan (analisa autopsi) yang benar ya dok? Dan itu akhirnya bisa dilihat oleh pihak keluarga.

Betul. Itu saya lihat poinnya dari situ. Ilmu forensik adalah suatu ilmu yang sifatnya universal. Artinya kalau saya ngomong seperti itu, setiap dokter forensik siapapun kalau dapatkan fakta yang sama, kesimpulannya pasti sama seperti
Saat itu pertimbangan dari pihak Singapura apa untuk segera mengkremasi jenazah David? Padahal waktu itu

Saya sendiri sih enggak tahu, kita kalau kasus forensik itu ada sebagian kasus itu murni kriminal, tapi sebagian tuh punya latar belakang politis dan lain-lain. Yang saya dengar nih kasus ini rada-rada berbau politik dan itu menyangkut keamanan negara. Saya tidak tahu itu katanya ada penelitiannya menyangkut intelijen. Tapi saya tidak tahu. Tapi whatever itu, itu kasus itu memang kenyataannya seperti itu, makanya kalau menurut saya buat kita memang agak janggal.

Karena kenapa? Keluarga juga tidak diberikan kesempatan untuk melihat secara detil. Jadi mereka foto-foto, paling foto-foto TKP, dan kemudian luka-lukanya secara detil juga mereka ga dapetin.
Waktu itu orang tua dikasih waktu berapa lama untuk melihat?

Hanya beberapa jam. Beberapa jam, kemudian dilihat, kemudian dimandikan, terus dikremasi, selesai. Jadi mereka tidak punya data apa-apa.

Pertimbangan pihak rumah sakit atau Singapura untuk segera mengkremasi?
Mereka tidak dapat alasan. Mereka bilang pokoknya kalau di sini, kalau habis di autopsi, selesai, langsung dipakaikan baju, dikremasi, selesai. Dan itulah yang kemudian membuat mereka curiga. Dan mereka tunjuk itu, lukanya, saya bilang wah lukanya ini memang... Jadi akhirnya memang saya lihat yang dicatat dokter di laporan autopsi sama yang kenyataan di fotonya itu memang sama. (ds/sumber kumparan)