press enter to search

Sabtu, 19/10/2019 22:22 WIB

Kisah Cinta Sejati di Tembok Besar China

Redaksi | Minggu, 01/09/2019 08:52 WIB
Kisah Cinta Sejati di Tembok Besar China Ilustrasi Mei Jiang di Tembok Besar China | Foto Istimewa

Aksi.id- Kisah cinta abadi selalu asyik diceritakan, dirasakan, dan dipelajari. Karena memang pada dasarnya manusia butuh cinta. Saling mencintai dalam kehidupan yang fana. Setiap kisah cinta mempunyai latar belakang dan kisah yang unik. Yang mana kisah cinta itu mampu menguras air mata bagi yang merasakannya.

Ada kisah cinta yang berujung bahagia, ada pula kisah cinta yang berujung duka. Dan bagi pecinta sejati, kisah cinta selalu bahagia, karena baginya cinta tak cukup di dunia saja. Ada dunia lain yang menanti cinta mereka. Sebab itulah para pecinta sejati rela berkorban demi apa saja untuk seseorang yang dicintainya. Meskipun harus bertaruh nyawa sekalipun.

Di Tembok Besar China, pada masa pembangunannya di zaman Qinshihuang, ada kisah cinta sejoli yang begitu mengharukan. Sebuah kisah cinta sejati yang diuji dengan kekuasaan dari Raja Segala Raja, Qinshihuang. Jika perempuan zaman sekarang boleh jadi kisah cintanya menjadi lain, tapi ini bukan perempuan biasa. Dialah Mei Jiang, seorang gadis berparas cantik berbudi setia yang dipersunting raja untuk dijadikan selirnya. Sebelum dijadikan selir, Mei Jiang mengajukan tiga syarat yang mesti dipenuhi Qinshihuang. Meskipun syarat itu sangat merendahkan Qinshihuang.

Memang dasar mata keranjang, demi mencicipi kemolekan si gadis itu, Qinshihuang menyanggupinya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya membuat kita tidak habis pikir, kisah cinta Mei Jiang patut dikenang. Sebagaimana kisah cinta Laila Majnun, Romeo dan Juliet, Jack dan Rose, dan kisah-kisah cinta lain yang mewarnai kehidupan kita.

Kisah cinta yang indah itu tertulis apik di Buku Qin, Kaisar Terakota, karangan Michael Wicaksono. Begini yang ditulis dalam buku tersebut:

Pada masa periode negara berperang, masing-masing penguasa negara bagian membangun tembok-tembok pertahanan untuk menangkal serbuan musuh. Setelah Qinshihuang menyatukan China, ia merasa bahwa tembok pemisah masing-masing wilayah kekuasaannya tidak ada gunanya. Ia memerintahkan agar tembok yang membatasi wilayah bekas negara bagian dihancurkan, dan hanya menyisakan tembok yang membatasi wilayah utara saja, yang mempertahankan wilayah Qin dari sebuah suku liar dari utara.

Qinshihuang kemudian memerintahkan agar tembok pembatas sebelah utara dari Qin, Zhao, dan Yan digabungkan saja menjadi satu, yang kemudian menjadi cikal bakal Tembok Besar yang ada sekarang ini. Ia mengarahkan hampir sejuta tenaga kerja untuk melakukan pekerjaan ini atau sekitar 5% dari jumlah populasi China saat itu. Karena tidak ada mesin atau teknologi canggih, pembangunan tembok ini menggunakan tenaga manusia, di lingkungan sekitar yang bermedan berat. Tembok itu harus dibangun melintasi pegunungan tinggi, perbukitan terjal, dan bahkan melintasi jurang dan lembah. Karena medan yang berat inilah, banyak pekerja yang tewas dan langsung dikubur di sekitar lokasi pembangunan tembok, sehingga banyak yang menyebutnya “Tembok Neraka”.

Qinshihuang mengambil tenaga kerja dari berbagi kalangan untuk memperbaiki Tembok Besar ini. Prajurit, rakyat jelata, petani, semuanya dikerahkan. Namun sebagian besar tenaga kerja diambil dari orang-orang buangan dan hukuman, yang melanggar hukum Negeri Qin yang terkenal keras itu. Seperti orang-orang hukuman yang diperintahkan membangun Maosoleum Qin, orang terhukum yang dibawa ke utara untuk membangun Tembok Besar juga dirantai sepanjang jalan, dan diperintahkan untuk tiba di lokasi pembangunan pada waktu yang ditentukan . jika mereka terlambat tiba, atau tidak lengkap jumlahnya, semuanya akan dihukum dengan berat, termasuk juga petugas pengawas yang ditugaskan mengawasi orang-orang hukuman itu.

Salah satu kisah di zaman Qinshihuang mengenai tragedi kemanusiaan yang tragis selama pembangunan Tembok Besar adalah kisah Meng Jiang. Keluarga Meng dan Jiang hidup bertetangga di Negeri Qin. Pada suatu di musim semi, Tuan Meng yang sudah tua menanam labu di pekarangan rumahnya, mengairi dan merawatnya dengan baik sampai tumbuh dengan lebat dan menjalari tembok rumahnya, sampai ke tembok tetangga.

Kebetulan, labu itu berbuah lebat di halaman rumah Tuan Jiang. Karena tertarik dengan labu yang besar, Tuan Jiang memangkas buah itu dan membelahnya menjadi dua. Namun, tak disangka-sangka, di dalam labu terdapat seorang bayi perempuan yang putih dan montok. Tangisan bayi itu mengagetkan Tuan Meng, dan ketika mengetahui asal-muasal bayi itu, ia meminta bayi itu menjadi miliknya dengan alasan bahwa tanaman labu itu ia yang menanam dan merawatnya. Namun Tuan Jiang bersikukuh, karena labu itu berbuah di halaman rumahnya, sesuai hukum ia-lah yang berhak mendapatkannya. Karena tidak ada yang mau mengalah, mereka sepakat untuk menjadikan bayi perempuan itu anak kedua keluarga mereka, dan mereka menamainya Meng Jiang.

Musim berganti musim, tahun berganti tahun, Meng Jiang tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Suatu ketika, saat hendak memetik buah labu di halaman rumahnya, ia kemudian dibekap oleh seorang pria yang bernama Fan Jiliang. Pria itu memberitahu Meng Jiang agar tidak membuka mulutnya, karena ia sedang bersembunyi dari kejaran prajurit yang hendak membawanya ke utara untuk memperbaiki Tembok Besar. Meng Jiang kemudian membawa pria itu ke rumah orang tuanya dan menyembunyikannya di sana.

Seperti yang bisa ditebak, mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah di bawah restu kedua keluarga Meng dan Jiang. Namun entah bagaiman, pada hari pernikahan mereka, tiba-tiba datang sepasukan prajurit menyerbu masuk ke rumah dan menyeret si mempelai pria dengan paksa. Sejak saat itu, Fan Jiliang hilang tak tahu rimbanya, tak pernah terdengar lagi kabar beritanya. Ini membuat istri barunya sangat cemas dan hidup tak tenang. Ia kemudian memberitahu kedua tetua yang selama ini menjadi orangtuanya, dan bersumpah tak akan pulang ke rumah sebelum menemukan keberadaan suaminya

 

Berbekal ransum seadanya dan baju dingin rajutan tangannya sendiri untuk suaminya, Meng Jiang berangkat ke atara. Sepanjang jalan, ia selalu diterpa hujan dan angin, didera lapar dan dingin, belum lagi jauhnya dan sulitnya perjalanan yang harus ia tempuh. Setelah menempuh perjalanan yang sulit, ia sampai di suatu bagian Tembok Besar yang sedang diperbaiki. Dengar sana-sini, ia mengetahui bahwa banyak sekali orang yang tewas akibat kelelahan selama pengerjaan Tembok Besar itu, termasuk juga suaminya, Fan Jiliang. Semua mayat itu dikubur jadi satu di bawah Tembok Besar.

Kabar ini menghentak Meng Jiang seperti petir menyambar di siang bolong. Bagaimana tidak, pria yang selama ini ia cari dengan susah payah ternyata sudah tinggal nama. Meng Jiang menangis sejadi-jadinya. Air mata berlinang membasai wajahnya, dan ratapannya membuat hati semua orang menjadi iba. Tiba-tiba, entah apa penyebabnya, satu sisi Tembok Besar tiba-tiba runtuh, dan mengungkapkan jasad suaminya yang sudah tinggal tulang-belulang.

Tembok yang runtuh itu memancing sang pengawas untuk datang menyelidiki. Tak jauh dari sana, kebetulan sang kaisar sendiri yang sedang melakukan inspeksi. Kaisar yang marah karena tembok yang ia perintahkan untuk diperbaiki malah runtuh, kemudian datang mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi. Ternyata, Meng Jiang masih duduk bersimpuh di sana menangisi tengkorak suaminya yang muncul dari bawah tembok. 

Tergiur oleh kecantikan gadis yang sudah menjanda itu, Qinshihuang membujuknya untuk menjadi selir. Meng Jiang menyanggupi asal kaisar mampu memenuhi tiga persyaratannya, pertama mengangkat dan membersihkan sisa tengkorak Fan Jiliang, kedua memberikan pemakaman kenegaraan Fan Jiliang, dan ketiga berjalan di belakang peti mati Fan Jiliang dan mengantarkannya sampai ke pemakaman

Permintaan ini sebenarnya sangat keterlaluan. Hal-hal di atas hanya dilakukan seorang istri atau anak dari seseorang yang sudah meninggal dunia. Memaksa Qinshihuang melakukan hal ini berarti merendahkan derajatnya sebagai seorang kaisar. Anehnya, demi mendapatkan Meng Jiang yang cantik itu, Qinshihuang menyanggupi ketiga persyaratan itu.

Akhirnya Meng Jiang menguburkan suaminya diiringi oleh pemakaman negara. Bahkan kaisar sendiri mengiringi rombongan jenazahnya. Tugu nisan yang bagus dipahat dan dipasang di atas makamnya, lalu Meng Jiang menyembahyangi makam itu dengan takzim. Ia mengajukan permohonan terakhir pada Qinshihuang, yaitu agar diizinkan melihat ujung Tembok Besar di laut Bohai. Kaisar yang sudah tak sabar ingin menikmati kemolekan tubuh Meng Jiang ini mengizinkannya, dan Meng Jiang kemudian berjalan sampai ke ujung timur Tembok Besar.

Di sana, ia menceburkan dirinya ke laut, mengakhiri hidupnya sendiri untuk menemani suaminya yang ia cintai. (ny/Sumber: 

Artikel Terkait :

-