press enter to search

Selasa, 07/07/2020 13:32 WIB

Anak Suka Memukul, Begini Cara Mengatasinya

Dahlia | Rabu, 04/09/2019 21:03 WIB
Anak Suka Memukul, Begini Cara Mengatasinya Foto: ilustrasi

Bekasi (aksi.id) - Anak-anak memang lucu dan menggemaskan. Namun, biasanya anak pada usia 12 bulan hingga tiga tahun mulai aktif secara fisik, termasuk berlaku agresif -salah satunya memukul.

Kebiasaan memukul itu muncul baik dalam keadaan tantrum maupun saat sekadar mengeluh.

Jika buah hatimu punya kebiasaan yang sama, berikut ini adalah lima tips yang bisa diterapkan demi menghentikan kebiasaan anak gemar memukul.

1. Abaikan

Mungkin ini akan bertolak belakang dengan insting alami untuk mengabaikan ketika anak mulai memukul-mukul kita, atau anak lainnya. Namun, kamu benar-benar perlu mencobanya.

Ralphie Jacobs dari Simply on Purpose menyampaikan filosofi dasar parenting bahwa kita tidak seharusnya memberi perhatian pada perilaku-perilaku negatif anak atau perilaku mencari perhatian.

Seringkali, memukul adalah cara anak mencari perhatian alih-alih sengaja menciptakan bahaya. Jadi, memberi perhatian hanya akan membuatnya semakin parah.

Penulis Catherine Pearlman juga punya pendapat serupa. Meski terdengar kontraintuitif, namun terkadang mengabaikan anak adalah respons terbaik.

"Reaksi apa pun terhadap perilaku mengganggu tersebut akan memberikan dampak negatif yang berpotensi menyuburkan perilaku tersebut," kata dia.

2. Melepaskan mereka dari situasi tersebut

Penulis isu parenting di laman Pop Sugar, Lauren Turner biasanya pergi meninggalkan anak-anaknya yang sedang saling pukul.

Namun jika salah satunya tidak bisa mengontrol emosi, terkadang ia melepaskan anaknya tersebut dari situasi itu, tanpa mengatakan apa pun.

"Abaikan perilakunya, bukan anaknya," kata Turner.

Jika dia dan saudaranya tetap tidak berhenti saling pukul setelah diabaikan, Turner akan mencoba mengubah situasinya.

Ia tetap akan mengabaikan bagaimana mereka saling pukul dan bertengkar, namun ia akan menghampiri dan berkata: "anak-anak, saatnya main di luar!" atau mengalihkan mereka ke aktivitas lainnya.

3. Memuji hal positif

Kamu bisa melakukan hal yang sebaliknya dari mengabaikan mereka, dan justru memberi pujian, agar mereka melakukan aktivitas lainnya saja.

Misalnya, bermain bersama teman-temannya di luar.

Turner biasa menyibukkan diri dengan hal lain setelah melihat anaknya bertengkar dengan saudaranya. Dia menunggu hingga sang anak berhenti melakukannya.

Lalu ia akan melakukan suatu hal positif untuk memberi anak perhatian atau kembali ngobrol dengannya lagi.

"Atau jika saudaranya menunjukkan perilaku baik, aku akan memberi perhatian padanya," kata Turner.

4. Fokus pada anak lainnya

Bagi Turner, sulit untuk menghadapi anak yang senang memukul di rumah.

Namun, kebiasaan itu akan semakin sulit dihadapi ketika anak sedang berada di luar rumah. Apalagi, jika sudah melibatkan anak lainnya.

Ketika anak memukul anak lain, tentunya tidak mungkin kita mengabaikannya.

Lewat Instagram Story, Ralphie menyarankan pendekatan lainnya untuk situasi ini, yaitu dengan menunjukkan perilaku yang ingin kita lihat.

Jika anak kita memukul anak lainnya, cobalah dekati anak lain tersebut, dan tanya apakah ia baik-baik saja, lalu meminta maaf jika ia terluka.

"Kemudian, ajaklah anak itu main bersamamu. Tunjukkan pada anakmu bagaimana menjadi teman yang baik," kata dia.

5. Ajari perilaku yang benar

Ralphie menekankan, kita perlu mengajari anak kita secara berhati-hati dan mengajari mereka pada kondisi di mana mereka bisa menerima apa yang kita ajarkan.

Jadi, ketika anak emosi dan senang memukul bukanlah saat yang tepat untuk mengajari mereka bahwa memukul adalah hal buruk.

Kamu bisa memberikan pujian ketika mereka melakukan interaksi positif dengan teman atau saudaranya.

Katakanlah perilaku seperti apa yang kamu harapkan dari mereka ketika berinteraksi. Lalu, sampaikanlah cara yang tepat berinteraksi dengan orang-orang tersayang.

Pada intinya, menghentikan kebiasaan anak memukul bukanlah hal yang mudah.

Namun, dengan menerapkan beberapa teknik di atas selama beberapa waktu kamu bisa mengurangi perilaku negatif anak secara umum.(lia/sumber:kompas)

Keyword Anak orang tua