press enter to search

Minggu, 22/09/2019 04:18 WIB

Istana: Perkara Veronica Koman Serahkan ke Proses Hukum

Redaksi | Jum'at, 06/09/2019 11:30 WIB
Istana: Perkara Veronica Koman Serahkan ke Proses Hukum Veronica Koman bersama aktivis Papua. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Penetapan Veronica Koman sebagai tersangka penyebar provokasi soal Papua menuai pro dan kontra. Staf Ahli Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Ifdhal Kasim meminta publik agar menyerahkan sepenuh kepada proses hukum yang berlaku.

"Kita kan harus melihat juga. Biar saja nanti proses hukum seperti apa. Karena memang kan problemnya ada aturan pidana yang mengatur soal itu," kata Ifdhal di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (6/9).

Dia mengatakan, sikap yang dilakukan Veronica harus dipertanggung jawabkan. Kepolisian kata dia, yang berkewajiban untuk menguji apakah tindakan penggiat Hak Asasi Manusia (HAM) itu bersalah atau tidak.

"Nah, kan orang tidak bisa juga bebas berbicara. Karena kebebasan ada pertanggungjawabannya. Karena itu diuji apakah tindakan kepolisian tepat atau tidak, nanti diuji di pengadilan saja," ungkap Ifdhal.

Sebelumnya Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya menyayangkan penetapan Veronica Koman sebagai tersangka sebagai penyebar provokasi soal Papua. Sebab, pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) itu, dinilai berlaku dalam konteks sebagai kuasa hukum atas para mahasiswa Papua.

Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir mengatakan, apa yang dilakukan oleh Veronica setahunya adalah sebagai pengacara para mahasiswa Papua. Sehingga, apa yang disampaikannya itu dianggap sebagai fakta yang didapatnya sebagai kuasa hukum.

"Setahu saya Veronica jadi pengacara teman-teman AMP (asrama mahasiswa Papua)," ujarnya, Kamis (5/9).

Dia menambahkan, soal cuitan Veronica di twitter, harusnya diperjelas lebih dulu oleh polisi. Terutama, soal sangkaan menyebarkan hoaks dan provokasi. Sebab, ia meyakini apa yang disampaikan oleh Veronica adalah fakta yang tidak muncul di media.

"Cuitan di twitter harus diperjelas dulu seperti apa, dimana cuitan yang dianggap hoaks dan sebagainya. Setahu saya bahwa cuitan vero menyampaikan fakta yang tidak muncul di media dan saya yakin vero punya dasar yang cukup kuat," kata Fatkhul. (ds/sumber merdeka)