press enter to search

Minggu, 22/09/2019 04:50 WIB

Fenomena Alam, Sigi Sulawesi Tengah Dilanda Hujan Es Berbentuk Butiran

Redaksi | Sabtu, 07/09/2019 21:02 WIB
Fenomena Alam, Sigi Sulawesi Tengah Dilanda Hujan Es Berbentuk Butiran Hujan bebentuk butiran es. (ist)

SIGI (Aksi.id) - Warga beberapa desa di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, digegerkan dengan turunnya hujan es kristal berbentuk butiran bola kecil. Fenomena langka ini terjadi hampir kurang lebih 15 menit pada Sabtu  (7/9) petang.

Kapolres Sigi, AKBP Wawan Sumantri, membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurutnya, sesuai informasi dari warga di Kecamatan Palolo, hujan disertai butiran es terjadi sekitar pukul 16:00 WITA dan berlangsung kurang lebih sekitar 15 menit.

"Mendapat informasi tersebut, Kapolsek Palolo, Iptu J. Sagala, bersama anggota Reskrim langsung mendatangi TKP hujan yang disertai hujan es, tepatnya di Desa Tanah Harapan," ujar Wawan.

Wawan mengatakan berdasarkan keterangan warga, ada beberapa desa yang mengalami fenomena tersebut.

"Masing-masing Desa Tanah Harapan, Desa Rejeki, Desa Sarumana dan Petimbe, Kecamatan Palolo," kata Wawan.
Peristiwa hujan es di wilayah Palolo tersebut tidak menimbulkan korban materiel dan korban jiwa.

Sementara itu, data dari Unit Analisa dan Pengolahan Data Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis-Al Jufri Palu menyebut pada citra satelit terlihat adanya pembentukan awan konvektif pada wilayah Desa Berdikari, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi sejak pukul 13:30 hingga 14:00 WITA,

"Citra satelit memperlihatkan suhu di atmosfer yang diduga awan konvektif yaitu sebesar -41 derajat celsius hingga -48 derajat celsius," kata Kepala Unit Analisa dan Pengolahan Data Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis-Al Jufri Palu, Aflan Nugraha Diharsya.

Aflan mengatakan, proses pembentukan awan konvektif terjadi di lapisan permukaan sampai pada ketinggian 10.519 meter. Proses tersebut terbaca pada pengamatan perangkat Radiosonde di Stasiun Mutiar Sis Al Julri Palu sekitar pukul 08.00 WITA, Sabtu (7/9).

Pembentukan awan di wilayah tersebut diduga melewati tahap deposisi yang sangat dingin, yaitu proses perubahan fase air menjadi fase es melewati temperatur suhu hingga -40 derajat celsius, hingga butiran air yang seharusnya turun sebagai hujan berubah menjadi butiran es.

Proses pembentukan butiran es ini didukung juga oleh kecepatan angin yang tidak terlalu kencang hingga pada ketinggian 5.806 meter berkisar 3-10 knot.

Menurut Aflan, kecepatan angin yang tidak terlalu kencang tersebut semakin memudahkan butiran air berubah menjadi butiran es akibat waktu tempuh butiran air menuju ke permukaan tanah semakin lama. Akibatnya, butiran air tersebut mengalami proses pembekuan di dalam awan yang menyebabkan turunnya butiran es seperti hujan es yang terjadi di Palolo. (ds/sumber kumparan)