press enter to search

Senin, 16/12/2019 12:49 WIB

Pencari Suaka Kembali ke Trotoar Kebon Sirih Jakpus

Redaksi | Senin, 16/09/2019 09:24 WIB
Pencari Suaka Kembali ke Trotoar Kebon Sirih Jakpus Para pencari suaka menghuni trotoar di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Puluhan para pencari suaka asal Afghanistan dan Somalia kembali mendatangi Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Minggu (15/9) sore.

Mereka mendirikan tenda dan menggelar tikar di trotoar di depan Bank Gamon Kebon Sirih. Mereka bergeser ke Bank Perkreditan Rakyat itu karena dilarang mendirikan tenda di depan gedung Ravindo, yang merupakan lokasi kantor Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Pengungsi (UNHCR).

Sore itu, sekitar pukul 15:07 WIB, terlihat sejumlah pencari suaka tampak duduk-duduk berbincang satu sama lain. Ada enam orang ketika itu.

Abu Bakar (35), seorang pencari suaka asal Afghanistan menuturkan, ada 60 pencari suaka asal negaranya yang saat ini berada di Kebon Sirih. Mereka sudah tiga hari menghuni lokasi itu setelah meninggalkan gedung eks Kodim Kalideres.

Namun, saat itu, jumlah mereka tidak sampai sebagaimana yang disebutkan. Abu Bakar menjelaskan bahwa beberapa temannya sedang berkeliling dengan kegiatan masing-masing.

"Sudah tiga hari di Kebon Sirih. Ada sekitar 60 orang dan beberapa sedang keliling, ada yang mandi, dan sebagainya," katanya.

Abu Bakar mengaku masih belum lancar berbahasa Indonesia. Meski begitu, dia tidak keberatan untuk berbagi cerita.

Menurut pengakuannya, dia mengungsi dari negaranya sekitar tahun 2013. Kata dia, perang menjadi penyebab dirinya bisa menginjakkan kaki di Indonesia hingga hari ini.

Sejak saat itulah, dia berpisah dengan keluarga dan merajut hubungan dengan yang senasib.

"Sejak tahun 2013, [perang?] Iya, perang," jawabnya.

Tidak jauh dari sana, terlihat pencari suaka dari Somalia menggelar alas di trotoar jalan di depan bangunan besar yang belum jadi. Seperti pencari suaka asal Afghanistan, terdapat pula anak-anak di antara pencari suaka asal Somalia.

Sebenarnya, para pencari suaka dari berbagai daerah itu sudah pernah menempati trotoar di Jalan Kebon Sirih, Jakarta pada Juli lalu.

Kala itu keberadaan mereka dinilai mengganggu warga sekitar dan pejalan kaki pengguna trotoar. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil sikap dan memindahkan mereka ke gedung eks Kodim di Kalideres. Jalan Kebon Sirih lalu bersih dari para pencari suaka.

Pada akhir Agustus, Pemprov DKI memutuskan untuk berhenti memberikan bantuan. Baik kebutuhan sehari-hari mau pun tempat yang mereka huni di Kalideres.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pemerintah pusat yang selanjutnya akan memberikan bantuan.

"Pada prinsipnya DKI itu memberikan bantuan bersifat kemanusiaan. Kalau bicara kewenangan kami tidak ada kewenangan di sini. Ini adalah kewenangan pusat dan UNHCR," ujar Anies.

Para pencari suaka lalu diminta meninggalkan gedung bekas markas kodim di Kalideres pada awal September lalu. Mereka diberikan uang untuk menyewa tempat tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

UNHCR memberi uang kepada para pencari suaka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namuni, tidak semua pencari suaka sudah meninggalkan Kalideres. Sebagian dari mereka juga kembali ke trotoar Jalan Kebon Sirih. (ds/sumber CNN)