press enter to search

Sabtu, 19/10/2019 08:44 WIB

Kisah Perjuangan 3 Keluarga Bersaudara Merawat Anak Lumpuh di Bali

Redaksi | Selasa, 17/09/2019 09:51 WIB
Kisah Perjuangan 3 Keluarga Bersaudara Merawat Anak Lumpuh di Bali Keluarga yang merawat anak lumpuh di Bali. (ist)

BALI (Aksi.id) - Kisah 3 keluarga asal Kabupaten Karangasem, Bali, yang masih bersaudara harus berjuang merawat anak-anaknya yang mengalami kelainan atau kelumpuhan benar-benar menyentuh hati.

Mereka tinggal satu lingkungan di rumah bantuan dari pemerintah Provinsi Bali, di Jalan Tantular, Gang Kehutanan, Denpasar, Bali, sejak empat tahun lalu. Mereka mendapatkan bantuan itu di era Gubernur Made Mangku Pastika.

Salah satunya adalah Ni Nyoman Simpen (50) yang merupakan istri Made Kari (44). Selain merawat anak pertamanya yang mengalami kelainan atau disabilitas, suaminya juga terkena penyakit stroke 6 bulan yang lalu.

"Anak saya ada tiga, suami saya kena stroke 6 bulan lalu," kata Simpen saat ditemui di rumahnya, Senin (16/9).

Simpen menceritakan, suaminya saban hari bekerja sebagai tukang kebun di kantor Gubernur Bali. Namun, sejak 6 bulan yang lalu sudah tidak kerja dan digantikan anak yang nomor 2 yakni Made Sumarta (25).

"Waktu itu suami saya pulang kampung dan sampai ke sini (rumah) menengok sayur di sawah dan kemudian terkena stroke. Sudah di opname selama 14 hari sampai sekarang masih sakit," imbuh Simpen.

Selain itu, anak pertamanya yakni Niluh Indah (26) mengalami kelainan sejak kecil dan kemudian lumpuh. Sementara dua anaknya yakni Made Sumarta dan anak terakhirnya Nyoman Sariasah (16) dalam keadaan normal.

"Kalau anak saya yang kedua (Made Sumarta) kerja tukang kebun menggantikan Bapaknya yang sakit. Kalau anak saya Nyoman Sariasah masih sekolah kelas satu SMA," ujarnya.

Simpen juga menceritakan, sudah 4 tahun menempati rumah bantuan dari Pemerintah Provinsi Bali era Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Awalnya, dia menempati rumah di Jalan Bung Tomo, Denpasar dan pindah karena mendapatkan bantuan rumah.

Simpen juga menceritakan, bahwa untuk anaknya sudah sejak di dalam kandungan diketahui mengalami kelainan.

"Dia 3 hari baru lahir tidak normal. Umur 3 bulan sakit dan kejang-kejang dan panas. Sampai umur 4 tahun tetap begitu tapi sudah agak jarang-jarang saat ini," ungkapnya.

Simpen mengaku untuk membiayai kehidupan sehari-hari dia hanya mengandalkan gaji anaknya yang nomor dua yang berpenghasilaan Rp 2.500.000 dalam sebulan.

Sementara bantuan dari pemerintah Provinsi Bali, Simpen mengaku hanya mendapatkan rumah yang ditempatinya sejak 4 tahun yang lalu dan dapat bantuan dana satu tahun awal.

"Dulu dapat bantuan dan dikasih rumah di sini dan dibantu selama 1 tahun. Habis setahun tidak lagi tidak. Sudah itu belum dapat (bantuan). Karena sudah dikasih pekerjaan anak saya di sana, tapi tidak mencukupi," ujarnya.

Kemudian, dari keluarga Nyoman Sadra dengan tiga anaknya yang lumpuh pasangan Nyoman Sadra dan Nengah Sumerti, dikaruniai enam orang anak. Tiga orang di antaranya mengalami cacat sejak lahir. Di antaranya anak pertama Wayan Suantika (27), anak ke-3 Komang Supartika (23) dan anak ke-6 yang bernama Luh Ayu Sukarini (7).

Dari keterangan ibunya Nengah Sumerti (47), Suantika dan Supartika hanya bisa berguling-guling saja. Keduanya lumpuh total, mereka hanya bisa terbaring meskipun dikerumuni semut.

Sedangkan kondisi Luh Ayu sedikit lebih beruntung dibandingkan kedua kakaknya. Setidaknya masih bisa duduk dan bergerak. Serta sedikit paham jika diajak berkomunikasi.

"Waktu kecil bisa ngerayap seperti ini dah (Luh). Komang paling sehat, setahun bisa jalan, tapi dari sini dari sini jatuh," kata Sumerti.

Sumerti juga menjelaskan, ketiga anaknya pun sudah menjalani pemeriksaan medis, mulai pemeriksaan di Poli Mata, Poli Anak hingga pemeriksaan syaraf. Namun mereka memiliki kesamaan yakni kelainan pada mata. Matanya bergerak sendiri-sendiri sejak lahir.

Saat kecil mereka pun bisa duduk layaknya anak normal. Namun semakin bertambah usia, badannya semakin kaku dan tidak bisa bergerak. "Semakin dewasa semakin kaku. Kayak kayu gini," jelasnya.

Sumerti juga mengungkapkan, bahwa suaminya Nyoman Sadra sendiri bekerja di pembuatan kompos dan harus menghidupi keluarganya seorang diri dan ironisnya keluarga tersebut kini tidak mendapat bantuan pemerintah. Padahal dengan uluran tangan tersebut, beban mereka sedikit berkurang.

"Kalau dulu, iya dapat dari pemerintah satu juta setahun. Kalau sekarang belum ada info apa. Cuma itu aja dari pemerintah," ujarnya.

Sementara hal yang sama juga dialami Nyoman Darma (55) yang juga berkerja sebagai tukang Kebun di Kantor Gubernur Bali. Dia membesarkan dan merawat 6 anaknya dan empat anaknya cacat. Di antaranya anak pertama Wayan Sudarma (23), anak ke-2 Kadek Sudarsana (21), anak ke-4 Ketut Suartama (19) dan anak ke-5 Luh Nanda Febri Astari (11).

Sementara 2 anaknya yang ke-3 Nyoman Marianti (18) dan si bungsu Gede Adi Gunawan dalam keadaan normal.

Nyoman Sarmini (40) yang merupakan istri dari Nyoman Darma menceritakan, bahwa sewaktu mengandung keempatnya memang tidak ada keluhan yang berarti.

Semua berjalan normal hingga waktu melahirkan. Namun setelah lahir baru diketahui bahwa kondisi mereka cacat. Gejalanya sama, salah satunya matanya bergerak sendiri.

"Yang Ketut Suartama, itu bisa ke mana-mana. Pakai kursi roda setiap sore. Sendiri bisa. Yang dua itu di sana saja, kemana-mana," ujarnya.

Berbeda, Luh Nanda Febri mengalami kaki lumpuh namun bisa menggerakkan tubuhnya. Luh bisa berpindah meskipun harus ngesot. Jika diperhatikan mata kirinya selalu aktif bergerak sendiri. "Saya inginnya normal, tapi lahir begini lagi," ujarnya. (ds/sumber merdeka)