press enter to search

Sabtu, 19/10/2019 21:26 WIB

Koasi Mencoba Bertahan di Tengah Gempuran Ojek Online

Dahlia | Kamis, 19/09/2019 15:57 WIB
Koasi Mencoba Bertahan di Tengah Gempuran Ojek Online Foto:fahmi/aksi.id/BeritaTrans.com

BEKASI (aksi.id) – Di antara riuh bisnis jasa transportasi di Kota Bekasi, angsuran kota (angkot) Koasi menjadi bagian dari lalu lintas di jalanan di kota, yang berbatasan langsung dengan Jakarta itu.

Paling kentara eksistensi Koasi terlihat di Terminal Bekasi, Stasiun KA Bekasi, Pasar Baru Bekasi dan pusat kermaian lainnya. Di dalam maupun di luar simpul transportasi itu, angkutan ini menawarkan tumpangan dengan tarif relatif murah.

8192019122823

Angkutan beroda empat ini berharap mendapatkan banyak penumpang di tengah gempuran ojek online (ojok) dan ojek pangkalan (orang).

Berbodi coklat dan posisi kursi penumpang saling berhadapan, angkot ini bisa jadi menjadi bagian dari wajah Kota Bekasi, yang beberapa jalan utamanya didera macet.

Dari terminal, angkutan umum ini di antaranya berhenti di seberang gerbang Tol Bekasi Timur. Ngetem di sebagian badan jalan dan tak peduli menjadi penyebab kemacetan.

Overload

Sebelumnya Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengakui jumlah angkutan kota (angkot) di wilayahnya saat ini melebihi kapasitas (overload). Akibatnya, ribuan angkot tersebut cenderung menimbulkan kemacetan panjang disetiap jalan.

“Salah satu pemicu kemacetan di Bekasi adalah banyaknya angkot yang beroperasi, saat ini keberadaan angkot itu sudah overload,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Bekasi, Yayan Yuliana di Bekasi, Senin (15/8/2016).

Yayan menambahkan, kebanyakan angkot itu sudah berusia lebih dari 15 tahun. Berdasarkan catatan Dishub Bekasi, ada 3.200 angkot lebih, namun yang mempunyai izin operasional hanya sekitar 1.600-an. Sisanya operasi tanpa izin alias angkot bodong. Padahal, idealnya jumlah angkot itu sekitar 1.500-an.

Dia menjelaskan, pemerintah tengah berupaya mengurangi jumlah angkot yang ada saat ini. Pihaknya akan mengubah peruntukan angkot yang sudah berusia di atas 15 tahun untuk dijadikan kendaraan pribadi atau pelat hitam. “Angkot yang uzur diperkirakan capai 320 unit,” ujarnya.

Angkot daring

Untuk tetap bertahan sekaligus mengikuti perkembangan zaman, angkot ini pun memulai menggunakan aplikasi daring. Angkot daring atau online resmi mengaspal di Kota Bekasi kemarin. Angkot daring yang dikelola PT Teknologi Rancang Olah Nusantara (TRON) tersebut merupakan yang pertama di Indonesia dalam penerapan teknologi aplikasi.

Meski baru 30 angkot yang diakomodasi, penyedia jasa layanan ini bersama VIA menargetkan seluruh angkot di Kota Bekasi menggunakan aplikasinya. Menurut Kepala Komunikasi Perusahaan PT TRON Andy M Saladin, Kota Bekasi menjadi salah satu wilayah potensial untuk uji coba angkot daring.

Pembangunan kereta api ringan atau light rail transit (LRT) yang kian masif di Bekasi menjadi alasan perlunya angkot sebagai angkutan pengumpan (feeder).

”Kami yakin adanya LRT, angkot bisa kembali menjadi salah satu pilihan utama termasuk feeder,” ujarnya, kemarin. Dia optimistis pengguna aplikasi TRON akan meningkat seiring berjalannya waktu.

Untuk angkot daring terdapat kelebihan, misalnya ketika hujan, penumpang bisa menggunakan transportasi ini yang lebih murah dibandingkan taksi daring. Puluhan angkot daring itu mencakup dua trayek, yakni K11A jurusan Terminal Bekasi-Rawalumbu-Narogong- Bantargebang dan K11B jurusan Terminal Bekasi- Wijayakusuma, Bekasi Timur.

Untuk masa promo diberikan tarif murah Rp3.000 dan setelah promo menjadi Rp5.000. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengapresiasi pihak swasta dalam memprakarsai penerapan angkot daring.

Dari 416 kabupaten dan 98 kota di Indonesia, hanya Kota Bekasi yang menerapkan angkot daring. ”Untuk di dunia, Kota Bekasi merupakan nomor 52 penerapan angkot daring dari 195 negara,” katanya.

Menurut dia, keberadaan angkot daring menjawab kebutuhan masyarakat Kota Bekasi. Angkutan ini diharapkan menjadi feeder angkutan massal seperti LRT dan KRL Commuter Line.

”Kami belum mampu buat, jadi menggandeng pihak lain untuk menciptakan aplikasi angkot daring,” ucapnya. Tidak menutup kemungkinan seluruh trayek angkot di Bekasi menggunakan aplikasi serupa.

”Ke depan bisa wilayah lain karena kepadatan cukup tinggi seperti di Medansatria, Bekasi Barat, Rawalumbu, dan Jatiasih,” kata Rahmat. CEO TRON David Santoso mengatakan sebenarnya telah mengujicobakan angkot daring sejak 10 April 2019.

Tarif yang dipatok masih promo yakni Rp3.000. ”TRON adalah aplikasi terbaru yang memungkinkan penggunanya memanggil angkot tanpa perlu berjalan jauh,” ujarnya. Setelah melakukan registrasi, pengguna cukup memasukkan tujuannya dan akan diarahkan ke halte virtual terdekat untuk menunggu angkot tersebut. (fahmi).