press enter to search

Kamis, 17/10/2019 17:16 WIB

Pasukan Burung Ababil Diterjunkan Tangani Karhutla di Kalimantan Selatan

Redaksi | Jum'at, 20/09/2019 09:29 WIB
Pasukan Burung Ababil Diterjunkan Tangani Karhutla di Kalimantan Selatan Petugas BPBD Kalsel berusaha memadamkan semak belukar yang terbakar di Banjarbaru. (ist)

BANJARBARU (Aksi.id) - Pemprov Kalimantan Selatan menerjunkan tim relawan khusus yang diberi nama Pasukan Burung Ababil untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena karhutla semakin parah dan membuat sejumlah daerah dikepung kabut asap yang membahayakan masyarakat.

Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor mengatakan, Pasukan Burung Ababil bertugas melakukan patroli dan memadamkan titik-titik rawan karhutla.

"Saya sendiri, ajudan, Pasukan Burung Ababil hampir setiap hari saya suruh. Itu anak buahku, aku enggak bisa handle diri sendiri, aku suruh anak buah ke lapangan, naik trail, naik mobil," kata Sahbirin saat ditemui usai menghadiri Pekan Kerja Nyata Gerakan Nasional Revolusi Mental di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (19/9).

Pria yang akrab disapa Paman Birin ini menuturkan, tim tersebut terdiri dari relawan tanggap bencana dan petugas BNPB. Mereka bekerja sama dengan aparat TNI dan Polri.

Tim Burung Ababil ditugaskan untuk melakukan aksi cepat penindakan terhadap pelaku pembakaran. Sebab saat ini para pembakar menggunakan modus baru pembukaan lahan.

Para pelaku karhutla berkeliling hutan menggunakan sepeda motor. Lalu mereka membakar lahan dan hutan secara acak agar tidak diketahui aparat. Namun modus ini sudah mulai diendus Polda Kalsel.

"Kalau kita ada kan orang yang mau membakar mikir-mikir. Kalau ketemu, aku bilang hajar aja," tuturnya.

Sebelumnya, BNPB menyampaikan 328.724 hektare lahan 328.724 hektare dengan 2.719 titik panas sepanjang periode Januari-Agustus 2019. Lahan itu tersebar di enam provinsi, yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Karhutla di Sumatra dan Kalimantan ini menyebabkan kabut asap yang setiap hari kian pekat. Alhasil kabut asap itu menurunkan kualitas udara di masing-masing daerah yang terpapar.

Meski kondisi kian parah, pemerintah hanya berharap pada datangnya hujan. Presiden Joko Widodo bahkan saat mengunjungi Pekanbaru, Riau beberapa waktu lalu menggelar salat meminta hujan atau salat Istisqa. (ds/sumber CNN)