press enter to search

Selasa, 07/07/2020 13:32 WIB

BPPT: Curah Hujan di Kalimantan Barat 70 Juta Meter Kubik Signifikan Kurangi Kabut Asap

Redaksi | Selasa, 24/09/2019 16:31 WIB
BPPT: Curah Hujan di Kalimantan Barat 70 Juta Meter Kubik Signifikan Kurangi Kabut Asap Hujan deras di Kalimantan Barat. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Tri Handoko Seto menyatakan, ada hasil signifikan dari upaya pemadaman api atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Seto mengatakan, sebanyak 70 juta meter kubik hujan mengguyur wilayah Kalimantan Barat.

Angka ini, katanya, dinilai cukup signifikan untuk menghilangkan kabut asap.

"Hasilnya dalam beberapa terakhir Kalbar sudah terjadi hujan dengan intensitas yang cukup merata dan signifikan. Kira-kira besaran angka hujannya itu sekitar 70 juta meter kubik," kata Seto dalam konferensi pers di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta, Selasa (24/9).

Namun disayangkan, curah hujan di Kalimantan Barat tidak terjadi di Kalimantan Tengah. Seto mengatakan, hujan yang mengguyur wilayah Kalimantan Tengah hanya sebanyak 15 juta meter kubik. Angka tersebut belum mampu menghilangkan kabut asap.

"Ini masih belum mampu meredam kepekatan asap secara signifikan," kata dia.

Upaya modifikasi cuaca juga dilakukan di Pulau Sumatera seperti di wilayah Riau. Seto menyebut, upaya tersebut berhasil menghasilkan hujan sebanyak 30 juta meter kubik. Angka ini lebih, imbuh Seto, lebih baik ketimbang Kalimantan Tengah.

Tidak hanya di Riau saja, Seto menuturkan upaya menghilangkan kepekatan kabut asap juga dilakukan di Palembang, Jambi, dan beberapa wilayah titik titik panas. Curah hujan di wilayah itu pun menurut Seto bervariatif.

Hasil dari modifikasi cuaca diharapkan mampu menghilangkan kabut asap dalam satu pekan ke depan baik di wilayah Kalimantan ataupun Sumatera.

"Harapan kami, perkiraan kami sampai akhir bulan akan terjadi pengurangan kepekatan asap yang cukup signifikan," ujar Seto menutup penjelasannya. (ds/sumber merdeka)